Menuju konten utama

Dirut KAI Bobby Rasyidin Batalkan Impor KRL Bekas, Pilih INKA

PT KAI saat ini membutuhkan sebanyak 23 rangkaian KRL baru, dan menyerahkan produksinya salah satunya kepada PT INKA.

Dirut KAI Bobby Rasyidin Batalkan Impor KRL Bekas, Pilih INKA
Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line rute Bogor-Jakarta Kota melintas di Stasiun Juanda, Jakarta, Selasa (8/9/2026). KAI Commuter resmi menambah jumlah pembatalan perjalanan KRL Bogor Line menjadi total 17 perjalanan per hari yang berlaku mulai 7-30 September, guna perawatan intensif rangkaian kereta. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI memastikan batal mengimpor Kereta Rel Listrik (KRL) bekas dari Jepang.

Keputusan pembatalan tersebut diambil sebagai wujud dukungan terhadap penguatan industri perkeretaapian nasional dengan menyiapkan 23 rangkaian (trainset) KRL baru.

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa ke depan kebutuhan armada angkutan komuter akan dipenuhi sepenuhnya oleh kereta baru, bukan armada bekas negara lain.

"Enggak ada, kita enggak ngimpor bekas. Pokoknya buat rakyat harus yang baru," kata Bobby di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Bobby menjelaskan, KAI saat ini membutuhkan sebanyak 23 rangkaian KRL untuk menunjang operasional angkutan penumpang.

Sebagian dari pengadaan sarana transportasi publik tersebut akan diserahkan kepada produsen kereta dalam negeri, PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA.

"Salah satunya nanti sebagian ke INKA. Wajib mendukung industri dalam negeri," tegas Bobby.

Meski memprioritaskan INKA, KAI tidak menutup peluang keterlibatan perusahaan asing dalam pengadaan armada tersebut. Namun, Bobby mensyaratkan perusahaan luar negeri itu wajib menggandeng industri perkeretaapian domestik.

"Yang dari luar negeri harus kerja sama sama dalam negeri," tambahnya.

Lebih lanjut, dari total 23 trainset baru yang akan didatangkan, delapan di antaranya merupakan kebutuhan sangat mendesak (urgent) guna merespons tingginya volume penumpang saat ini.

Bobby menargetkan seluruh armada tersebut bisa terealisasi dalam waktu dekat.

"Banyak [kebutuhan], jadi ada 8 yang urgent, kemudian total 23 trainset. Kita akan percepat 2 sampai 3 tahun. 23 trainset baru," tutupnya.

Baca juga artikel terkait PT KAI atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Bayu Septianto