Menuju konten utama

Harga Minyak Terancam Anjlok 12% Sepekan usai Pemilu AS

Harga minyak Brent dan WTI menguat setelah anjlok akibat dinamika politik AS dan meningkatnya serangan kapal tanker di Selat Hormuz.

Harga Minyak Terancam Anjlok 12% Sepekan usai Pemilu AS
Ilustrasi harga minyak. Seorang pejalan kaki memegang payung berjalan melewati pada papan elektronik yang menunjukkan indeks pasar saham dari berbagai negara di luar broker di Tokyo, Jepang, 18 Januari 2016. Indeks Nikkei Jepang menukik ke level terendah satu tahun pada Senin pagi setelah menjual besar -off di Wall Street pada hari Jumat setelah harga minyak anjlok dan ketakutan tumbuh sekitar masalah ekonomi di Cina, mengirimkan semua sektor ke merah. ANTARA FOTO/REUTERS/Yuya Shino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk mengimbangi tekanan harga yang membuat minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) berada di jalur penurunan mingguan terdalam dalam beberapa waktu terakhir.

Pada pukul 02.22 GMT, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari naik 1,57 dolar AS atau 1,6 persen menjadi 99,86 dolar AS per barel.

Penguatan juga terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS). Harga WTI meningkat 1,10 dolar AS atau 1,22 persen ke level 91,62 dolar AS per barel. Kenaikan tersebut memperpanjang penguatan kedua kontrak acuan minyak dunia selama dua hari berturut-turut.

Meski demikian, secara mingguan harga minyak masih mencatatkan penurunan signifikan. Brent berada di jalur pelemahan sekitar 12 persen sepanjang pekan ini, setelah kontrak pengiriman Desember berakhir pada 30 Oktober lalu.

Sementara itu, harga WTI diperkirakan terkoreksi hingga 12,1 persen dalam periode yang sama.

Tekanan terhadap harga minyak bermula setelah hasil pemilihan Kongres AS pada Selasa (3/11/2026). Kemenangan Partai Demokrat yang berhasil merebut mayoritas kursi di Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS, sekaligus menggeser dominasi Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump, memicu ekspektasi pasar terhadap kemungkinan meredanya perang AS-Israel melawan Iran yang telah berlangsung selama sembilan bulan.

Sentimen tersebut membuat harga minyak anjlok hingga 8 persen dalam satu hari perdagangan pada Rabu. Penurunan itu membawa harga minyak ke level terendah dalam dua bulan terakhir.

Namun, perkembangan konflik di lapangan kembali mengubah sentimen pasar. Meningkatnya serangan terhadap sejumlah kapal tanker di kawasan Teluk dan Selat Hormuz pada Rabu dan Kamis memicu kekhawatiran baru mengenai keamanan jalur distribusi energi tersebut.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu koridor utama pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah ke pasar global.

Senior Commodity Strategist ANZ, Daniel Hynes, mengatakan penguatan harga minyak terjadi setelah pelaku pasar menilai aksi jual pada Rabu terlalu berlebihan.

"Minyak mentah rebound karena para trader menilai aksi jual pada hari Rabu lalu terlalu berlebihan," tulis Hynes, dikutip dari Reuters.

Ia menambahkan, sentimen negatif setelah kemenangan Partai Demokrat mulai mereda ketika investor kembali mempertimbangkan risiko gangguan pasokan minyak akibat perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah.

Menurut dia, Iran masih memiliki kendali atas Selat Hormuz dan kecil kemungkinan akan melepaskan kendali tersebut dalam waktu dekat.

"Iran tetap memegang kendali atas Selat Hormuz dan kecil kemungkinannya untuk melepaskan kendali tersebut," ujarnya.

Hynes juga menyebut volume pengiriman minyak yang melintasi Selat Hormuz saat ini masih berada di bawah 60 persen dari kapasitas normal.

Di tengah ketegangan tersebut, otoritas Iran melaporkan tiga tambahan kapal tanker menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz pada Kamis. Badan keamanan maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations (UKMTO), juga mengonfirmasi bahwa frekuensi serangan terhadap kapal-kapal pengangkut minyak di kawasan tersebut masih berada di kisaran tertinggi sepanjang sejarah.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Alfitra Akbar