Menuju konten utama

Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Meredanya Ketegangan AS-Iran

Harga minyak Brent dan WTI turun setelah Trump menunda rencana serangan ke Iran, meski risiko pasokan masih membayangi pasar minyak dunia.

Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Meredanya Ketegangan AS-Iran
Ilustrasi harga minyak. Seorang pejalan kaki memegang payung berjalan melewati pada papan elektronik yang menunjukkan indeks pasar saham dari berbagai negara di luar broker di Tokyo, Jepang, 18 Januari 2016. Indeks Nikkei Jepang menukik ke level terendah satu tahun pada Senin pagi setelah menjual besar -off di Wall Street pada hari Jumat setelah harga minyak anjlok dan ketakutan tumbuh sekitar masalah ekonomi di Cina, mengirimkan semua sektor ke merah. ANTARA FOTO/REUTERS/Yuya Shino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Jumat (9/10/2026) setelah kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah mereda. Sentimen pasar membaik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan Washington tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu Kongres AS pada 3 November mendatang.

Pernyataan tersebut muncul di tengah pembicaraan yang disebut Trump produktif untuk mengakhiri perang yang telah mengganggu pasar minyak.

Mengutip Reuters, pada pukul 02.20 waktu setempat, harga minyak mentah Brent turun 72 sen atau 0,7 persen menjadi 103,53 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 52 sen atau 0,6 persen menjadi 90,97 dolar AS per barel.

Meski turun pada perdagangan Jumat, harga Brent masih berpeluang mencatat kenaikan mingguan setelah melonjak 4 persen pada Kamis (8/10/2026). Kenaikan itu dipicu meningkatnya serangan terhadap kapal pengangkut minyak mentah dari Timur Tengah pada awal pekan.

Sebaliknya, harga WTI diperkirakan mencatat penurunan tipis secara mingguan. Pergerakan ini terjadi di tengah gangguan pasokan akibat badai yang mendekati pesisir Teluk Meksiko, kawasan produksi minyak utama AS.

Pada Kamis, Trump mengatakan Washington tengah menggelar “pembicaraan produktif” dengan Iran. Ia juga menegaskan tidak ada rencana menyerang negara tersebut sebelum pemilihan paruh waktu Kongres AS pada 3 November. Pernyataan itu muncul setelah sejumlah media melaporkan Trump mempertimbangkan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan.

Di sisi lain, kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi tengah meninjau tanggapan AS atas proposal Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.

AS masih menekan Iran melalui jalur ekonomi agar mengakhiri perang yang kini memasuki bulan kedelapan. Pada Kamis, Washington menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah individu, jaringan, dan 17 kapal yang terlibat dalam pengangkutan minyak mentah, produk minyak, serta petrokimia Iran.

Harga minyak berfluktuasi sepanjang pekan ini di tengah meningkatnya ancaman terhadap pelayaran di kawasan Teluk dan Selat Hormuz. Sebelum perang, jalur tersebut dilalui pengiriman minyak dan bahan bakar yang setara dengan sekitar 20 persen pasokan global.

Pasar minyak juga menghadapi gangguan akibat Badai Isaias di Teluk Meksiko. Berdasarkan data Administrasi Mineral Laut AS pada Kamis, produsen menghentikan sementara produksi sekitar 1,3 juta barel minyak per hari, setara dengan 62,9 persen dari total produksi minyak yang beroperasi di kawasan tersebut.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana