Menuju konten utama

Selisih Imbal Hasil SBN Menyempit, Kredibilitas Ekonomi Menguat

Penyempitan spread ini jadi kunci ketahanan arus modal masuk ke Indonesia, baik melalui SBN maupun SRBI.

Selisih Imbal Hasil SBN Menyempit, Kredibilitas Ekonomi Menguat
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjadi pembicara utama pada Forum 2 tahun Pemerintahan Prabowo Gibran di Jakarta, Kamis (8/10/2026). Forum bertema Kerja Nyata Melanjutkan Asta Cita itu menjadi ruang refleksi dan diskusi konstruktif untuk memberikan masukan terhadap arah kebijakan nasional melalui pembahasan ekonomi, kemandirian pangan, stabilitas keamanan serta pemberantasan korupsi. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah terus menyoroti pergerakan selisih (spread) imbal hasil (yield) antara Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun dan US Treasury (UST) tenor 10 tahun. Di tengah lonjakan suku bunga acuan global serta tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), selisih imbal hasil obligasi Indonesia kini tercatat menyempit signifikan dibandingkan periode krisis sebelumnya.

Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, memandang penyempitan spread tersebut mencerminkan menguatnya fundamental dan kredibilitas pengelolaan ekonomi makro Indonesia di mata investor global.

Saat ini, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di level 5,28 persen, posisi tertinggi dalam hampir 23 tahun terakhir. Kondisi ini memicu tren pembalikan modal (capital outflow) dari negara-negara berkembang (emerging markets) kembali ke pasar keuangan AS.

Untuk menjaga daya tarik investasi dan menahan modal agar tidak keluar, negara berkembang idealnya memberikan imbal hasil ekstra.

Menkeu Suahasil mencontohkan Indonesia pada 2003 memberikan premi ekstra hingga 1.000 basis poin (bps) di atas imbal hasil UST. Bahkan saat krisis keuangan global 2009, Indonesia terpaksa menawarkan imbal hasil jauh lebih tinggi—yang berdampak pada pembengkakan beban biaya bunga (cost of fund) perekonomian nasional.

Namun, postur risiko Indonesia kini dinilai jauh membaik. Per 7 Oktober, selisih imbal hasil SBN tenor 10 tahun terhadap UST 10 tahun tercatat berada di level 188 basis poin (bps).

"Dulu, harus kita berikan baru ekstraktif kalau dikasih 400 basis poin, 500 basis poin. Terakhir, ini adalah angka 7 Oktober, berarti angka kemarin kita cukup memberikan 188 basis poin dan ini adalah basis dari fundamental kepercayaan kepada pengelolaan ekonomi makro Indonesia," ujar Suahasil di Raffles Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Dengan spread yang berada di level 188 bps, tingkat premi risiko Indonesia relatif lebih kompetitif jika dibandingkan dengan negara-negara sepadan, seperti India, Filipina, Afrika Selatan, Meksiko, maupun Brazil yang mencatatkan selisih imbal hasil lebih tinggi.

Penyempitan spread ini sekaligus menjadi kunci ketahanan arus modal masuk atau capital inflow ke Indonesia, baik melalui instrumen SBN maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Penurunan selisih yield tanpa mengorbankan minat investor tersebut ditegaskan tidak lepas dari faktor kredibilitas serta transparansi tata kelola anggaran negara.

"Kuncinya adalah kredibilitas. Tidak bisa kita mengelola perekonomian tanpa kredibilitas yang baik. Kredibilitas berarti transparansi, komunikasi terus dilakukan, dan kita harus terus menunjukkan bahwa APBN yang kita kelola adalah APBN yang memang bermanfaat," tegasnya.

Baca juga artikel terkait SBN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fadrik Aziz Firdausi