Menuju konten utama

Siapa Thomas Sugiarto, Dirut Garuda Indonesia yang Baru?

Thomas Sugiarto Oentoro diangkat menjadi Direktur Garuda Indonesia. Ia sudah bergabung dengan Garuda Indonesia sejak 2023. Simak profilnya.

Siapa Thomas Sugiarto, Dirut Garuda Indonesia yang Baru?
Thomas Sugiarto Oentoro. foto/linkedin
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk resmi menunjuk Thomas Sugiarto Oentoro sebagai Direktur Utama yang baru melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis (8/10/2026). Simak profil Thomas Oentoro dan harta kekayaannya berikut.

Dalam RUPSLB kemarin, Thomas dipercaya untuk menggantikan Glenny H. Kairupan, yang selanjutnya menduduki posisi Komisaris Utama menggantikan Fadjar Prasetyo.

Sebelum diangkat sebagai orang nomor satu di maskapai pelat merah tersebut, Thomas merupakan Wakil Direktur Utama sejak Oktober 2025. Penunjukan ini menjadi bagian dari perombakan jajaran manajemen Garuda Indonesia untuk melanjutkan pemulihan kinerja perusahaan di tengah tantangan industri penerbangan, termasuk kenaikan biaya operasional dan kebutuhan memperkuat kondisi keuangan.

Profil Thomas Sugiarto Oentoro dan Rekam Jejaknya

Thomas Sugiarto Oentoro merupakan profesional di bidang keuangan dan investasi yang meniti karier di sektor perbankan, pembiayaan perusahaan, investasi hingga pengelolaan risiko.

Thomas meraih gelar Bachelor of Science di bidang Finance dari NYU Stern School of Business pada 1995. Setelah menjalani karier profesional selama beberapa tahun, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dan memperoleh gelar Master of Business Administration (MBA) dari University of Chicago Booth School of Business untuk periode studi 2010–2012.

Karier Thomas di sektor keuangan internasional antara lain dimulai di Citibank. Berdasarkan profil profesional yang dicantumkannya di laman LinkedIn, ia bekerja di bank tersebut pada September 1995 hingga Maret 2004.

Di Citibank, Thomas memulai karier sebagai management associate sebelum berkembang menjadi Vice President sekaligus Senior Banker. Ia menangani pembiayaan terstruktur, termasuk pembiayaan melalui lembaga penjamin kredit ekspor dan structured trade finance.

Setelah meninggalkan Citibank pada Maret 2004, Thomas bergabung dengan International Finance Corporation (IFC). Ia menjabat sebagai Senior Investment Officer dari April 2004 hingga Agustus 2011. Selama periode tersebut, cakupan pekerjaannya meliputi beberapa bidang dan wilayah.

Pada Agustus 2011, Thomas melanjutkan kariernya di KV Asia Capital sebagai Managing Director. Ia menjalankan posisi tersebut hingga Februari 2015, dengan cakupan pekerjaan di Jakarta dan Singapura.

Setelah meninggalkan KV Asia Capital, Thomas bergabung dengan OCBC pada Agustus 2015 sebagai Vice President di Mezzanine Capital Unit. Ia menjalankan posisi itu hingga Februari 2024, atau sekitar 8 tahun 7 bulan.

Pada Februari 2024, Thomas dipercaya menjabat Chief Risk Officer (CRO) di Indonesia Investment Authority (INA), lembaga pengelola investasi Indonesia. Ia menduduki posisi tersebut hingga Oktober 2025.

Thomas pertama kali masuk ke jajaran pengawasan Garuda Indonesia sebagai Komisaris Independen pada Juni 2023. Berdasarkan profil profesionalnya, ia menjalankan jabatan tersebut hingga Februari 2024.

Pengalaman Thomas sebagai Komisaris Independen memberinya kesempatan mengenal tata kelola dan tantangan Garuda dari sisi pengawasan. Setelah itu, ia melanjutkan karier sebagai CRO di INA sebelum kembali ke Garuda pada Oktober 2025.

Pada Oktober 2025, Thomas diangkat menjadi Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia. Sekitar satu tahun kemudian, tepatnya pada 8 Oktober 2026, RUPSLB menyetujuinya sebagai Direktur Utama menggantikan Glenny H. Kairupan.

Harta Kekayaan Thomas Sugiarto Oentoro

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang disampaikan pada 17 Maret 2026, Thomas Sugiarto Oentoro tercatat memiliki total kekayaan bersih sekitar Rp50,08 miliar.

Sebagian besar kekayaan Thomas berasal dari aset tanah dan bangunan dengan nilai total Rp47,4 miliar. Ia melaporkan empat aset properti yang berlokasi di Kabupaten Badung, Jakarta Selatan, dan Jakarta Pusat.

Aset pertama berupa tanah seluas 2.000 meter persegi di Kabupaten Badung senilai Rp12 miliar. Selanjutnya, terdapat bangunan seluas 220 meter persegi di Jakarta Selatan yang bernilai Rp12 miliar.

Thomas juga melaporkan tanah dan bangunan di Jakarta Pusat dengan luas tanah 400 meter persegi dan luas bangunan 350 meter persegi senilai Rp15 miliar. Properti lainnya berupa tanah seluas 200 meter persegi dan bangunan seluas 230 meter persegi di Jakarta Selatan, dengan nilai Rp8,4 miliar.

Selain properti, Thomas memiliki dua mobil dengan nilai gabungan Rp1,15 miliar. Kendaraan pertama adalah Denza D9 tahun 2025 yang dilaporkan senilai Rp875 juta, sedangkan kendaraan kedua berupa BYD M6 tahun 2023 senilai Rp275 juta.

Pada kategori aset finansial, Thomas melaporkan kepemilikan surat berharga senilai Rp1.704.525.181. Ia juga memiliki kas dan setara kas sebesar Rp1.866.524.380, serta harta lainnya tercatat senilai Rp998.754.800.

Utang yang dilaporkan sebesar Rp3.043.641.783, sehingga total kekayaan bersihnya sebesar Rp50.076.162.578.

Baca juga artikel terkait PROFIL atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar