tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak menguat pada pembukaan perdagangan Jumat (9/10/2026). Rupiah naik 19 poin atau sekitar 0,11 persen ke level Rp17.896 per dolar AS. IHSG juga dibuka menguat setelah mengalami tekanan pada perdagangan sehari sebelumnya.
Pada Kamis kemarin, rupiah tercatat melemah 28 poin atau sekitar 0,16 persen ke posisi Rp17.915 per dolar AS, dari penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.866 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan tekanan terhadap rupiah pada perdagangan Kamis dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Ancaman konflik geopolitik tersebut mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan sejumlah indikator di pasar keuangan global. Lukman menyampaikan bahwa rupiah ditutup melemah ketika terjadi kenaikan pada indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY), imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury yield (UST yield), dan harga minyak mentah dunia.
Ketiga indikator tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena pergerakannya dapat memengaruhi arus modal, permintaan terhadap dolar AS, dan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Indeks DXY mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Ketika indeks tersebut menguat, dolar AS cenderung menjadi lebih menarik bagi investor sehingga mata uang lain berpotensi mengalami tekanan.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dapat membuat aset keuangan berbasis dolar semakin menarik, terutama apabila investor menilai imbal hasil yang ditawarkan lebih menguntungkan dibandingkan aset di negara lain.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong perpindahan dana ke aset berdenominasi dolar AS dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah akibat kekhawatiran konflik di kawasan Timur Tengah juga dapat menimbulkan tekanan tambahan bagi negara pengimpor minyak, termasuk melalui potensi peningkatan biaya impor energi.
Selain faktor eksternal, pelemahan rupiah pada Kamis juga dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi domestik, khususnya penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia pada September 2026.
βData yang menunjukkan penurunan pada indeks kepercayaan konsumen Indonesia dari 118,5 ke 118,1 ikut membebani rupiah,β kata Lukman dikutip Antara (8/10/2026).
Meskipun penurunannya relatif terbatas, pergerakan ini menunjukkan bahwa tingkat keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi mengalami sedikit penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
IKK merupakan indikator yang menggambarkan pandangan masyarakat mengenai kondisi ekonomi saat ini serta perkiraan mereka terhadap keadaan ekonomi pada masa mendatang, termasuk terkait pendapatan, ketersediaan lapangan kerja, dan rencana konsumsi.
Usai Ditutup Melemah, IHSG Menguat Pagi Ini
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Jumat pagi (9/10). IHSG naik 7,73 poin atau 0,13 persen ke level 6.039,01.
Penguatan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45, yang bertambah 1,38 poin atau 0,23 persen ke posisi 595,02.
Pergerakan ini menunjukkan adanya pemulihan terbatas pada awal perdagangan setelah pasar saham domestik mengalami tekanan cukup besar pada hari sebelumnya.
Pada perdagangan Kamis sore, 8 Oktober 2026, IHSG ditutup melemah 115,44 poin atau 1,88 persen ke level 6.031,28. Penurunan tersebut juga tercermin pada indeks LQ45 yang terkoreksi 12,08 poin atau 1,99 persen menjadi 593,64.
Salah satu faktor yang membebani pasar adalah meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan pada akhir 2026.
Prospek kebijakan tersebut membuat investor kembali memperhitungkan kemungkinan berlanjutnya kondisi suku bunga tinggi yang dapat memengaruhi valuasi saham, biaya pendanaan perusahaan, dan aliran modal di pasar keuangan.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan pelemahan IHSG juga terjadi bersamaan dengan penurunan bursa regional Asia.
Menurutnya, pasar merespons risalah rapat The Fed yang menunjukkan bahwa mayoritas pejabat bank sentral AS memperkirakan masih diperlukan satu kali kenaikan suku bunga pada 2026 untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Inflasi AS yang masih berada di atas target jangka panjang sebesar 2 persen menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan arah kebijakan moneter. Risalah tersebut memberikan sinyal bahwa The Fed belum sepenuhnya yakin tekanan inflasi telah mereda sehingga pelonggaran kebijakan belum tentu dapat dilakukan secepat yang diharapkan sebagian pelaku pasar.
Bagi pasar saham, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menjadi perhatian karena tingkat bunga memengaruhi biaya pinjaman dan tingkat keuntungan yang diharapkan investor dari suatu aset.
Apabila suku bunga bertahan tinggi atau kembali naik, perusahaan dapat menghadapi biaya pembiayaan yang lebih mahal, sedangkan investor berpotensi menilai ulang harga saham berdasarkan prospek keuntungan dan risiko yang dihadapi.
Nico menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa era suku bunga tinggi sepanjang 2026 belum sepenuhnya berakhir. Sikap hati-hati The Fed tidak terlepas dari berbagai risiko yang berpotensi kembali mendorong inflasi, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Konflik di kawasan tersebut dapat mengganggu pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak mentah. Jika harga energi meningkat dalam waktu cukup lama, biaya transportasi dan produksi berpotensi ikut naik, sehingga tekanan inflasi dapat meluas ke berbagai sektor ekonomi.
Dalam situasi seperti itu, bank sentral mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau mempertimbangkan kenaikan tambahan untuk mencegah inflasi terus berada di atas target.
"Kondisi tersebut tentunya menambah volatilitas pasar,β ujar Nico.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id







































