tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (8/10/2026) dibuka di level Rp17.871 per dolar AS. Rupiah menguat 16 poin atau sekitar 0,09 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.887 per dolar AS. IHSG juga dibuka menguat di level 6.154,97 pagi ini.
Pada perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026, rupiah juga ditutup menguat 12 poin atau sekitar 0,07 persen menjadi Rp17.887 per dolar AS. Penguatan beruntun ini menunjukkan adanya sentimen positif terhadap rupiah, meskipun pergerakan mata uang domestik masih sangat dipengaruhi perkembangan pasar global, terutama arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menilai salah satu faktor yang mendukung penguatan rupiah adalah kondisi cadangan devisa (cadev) Indonesia yang masih kuat.
Berdasarkan data yang disampaikan, posisi cadangan devisa Indonesia pada September mencapai 146,3 miliar dolar AS. Angka tersebut memang sedikit menurun dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang mencapai 146,5 miliar dolar AS, tetapi secara keseluruhan masih menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia yang cukup baik.
“Posisi tersebut masih setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan. Kondisi ini menjadi sentimen positif karena menunjukkan ruang stabilisasi rupiah masih cukup kuat,” jelasnya dikutip Antara (7/10).
Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu sentimen positif bagi rupiah karena menunjukkan bahwa kemampuan eksternal Indonesia untuk menghadapi gejolak masih relatif kuat.
Selain faktor dari dalam negeri, penguatan rupiah juga dipengaruhi kondisi dolar AS di pasar global. Amru menjelaskan bahwa dolar AS mengalami pelemahan seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa The Fed dapat mengambil sikap yang lebih dovish.
Istilah dovish merujuk pada kecenderungan kebijakan moneter yang lebih longgar, terutama ketika bank sentral memberikan sinyal untuk menurunkan atau mempertahankan suku bunga pada tingkat yang lebih rendah.
Ekspektasi seperti ini dapat mengurangi daya tarik dolar AS dan pada akhirnya memberikan ruang bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah, untuk menguat.
Meski demikian, ruang penguatan rupiah dinilai masih dapat terbatas karena pelaku pasar masih menunggu perkembangan kebijakan moneter The Fed. Salah satu perhatian utama pasar adalah risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes).
“Pasar saat ini juga masih menunggu risalah rapat The Fed untuk melihat arah kebijakan suku bunga ke depan,” kata Amru.
Jika risalah memberikan sinyal yang lebih dovish, tekanan terhadap dolar AS berpotensi berlanjut sehingga dapat memberikan ruang tambahan bagi rupiah untuk menguat. Sebaliknya, apabila isi risalah menunjukkan sikap yang lebih ketat (hawkish), dolar AS berpotensi kembali menguat dan memberikan tekanan terhadap rupiah.
IHSG Dibuka di Posisi 6.154,97 Hari Ini
Pada perdagangan Kamis pagi, 8 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat 8,25 poin atau 0,13 persen ke level 6.154,97. Penguatan juga terjadi pada indeks saham unggulan, yakni LQ45, yang bertambah 1,04 poin atau 0,17 persen ke posisi 606,76.
Menguatnya pembukaan pagi ini tentu memberi angin segar mengingat pada perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026, IHSG justru ditutup melemah 46,21 poin atau 0,75 persen ke level 6.146,76.
Pelemahan IHSG tersebut mengikuti kecenderungan bursa saham di kawasan Asia yang mayoritas berada di zona negatif. Kondisi pasar regional menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor di dalam negeri.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa pelemahan bursa Asia dipengaruhi oleh kembali naiknya harga minyak dunia.
"Bursa Asia didominasi pelemahan seiring kenaikan kembali harga minyak akibat berlanjutnya ancaman terhadap pasokan energi dari Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga," ujar Nico.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan investor karena gangguan terhadap pasokan energi dapat mendorong harga minyak lebih tinggi dan kemudian meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral. Apabila harga energi yang tinggi mendorong inflasi, bank sentral berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga ketat lebih lama atau bahkan mengambil langkah yang lebih agresif untuk mengendalikan inflasi.
Selain perkembangan harga minyak dan kondisi bursa Asia, investor global juga menantikan publikasi risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Federal Reserve.
Risalah tersebut menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai pandangan para pejabat bank sentral Amerika Serikat terhadap kondisi ekonomi dan arah kebijakan suku bunga selanjutnya. Pasar juga mencermati pernyataan para pejabat The Fed untuk mengetahui apakah bank sentral AS cenderung mengambil kebijakan yang lebih longgar (dovish) atau mempertahankan sikap ketat (hawkish).
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan cadangan devisa Indonesia. Posisi cadangan devisa pada September 2026 tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS, sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 146,5 miliar dolar AS.
Penurunan cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa. Pada saat yang sama, pemerintah harus melakukan pembayaran utang luar negeri yang telah jatuh tempo. Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons terhadap ketidakpastian yang masih tinggi di pasar keuangan global.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id






































