tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (6/10) bergerak menguat tipis. Rupiah naik 6 poin atau sekitar 0,03 persen ke level Rp17.911 per dolar AS. IHSG juga melanjutkan tren kenaikan dari penutupan Senin sore.
Pada penutupan perdagangan Senin, rupiah melemah 35 poin atau 0,20 persen dari posisi sebelumnya Rp17.882 menjadi Rp17.917 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, mengatakan pelemahan rupiah pada perdagangan sebelumnya turut dipengaruhi perkembangan konflik antara kelompok Houthi di Yaman dan Arab Saudi.
"Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi menyatakan akan meluncurkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali seluruh wilayah negara yang dikuasai oleh kelompok tersebut," ucapnya dikutip Antara (5/10/2026).
Perkembangan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi perhatian pasar karena berpotensi meningkatkan ketidakpastian dan mendorong investor mengambil sikap lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Ketidakpastian mengenai kondisi produksi minyak Saudi menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar keuangan global. Apabila konflik berkembang dan mengganggu pasokan energi dari kawasan tersebut, harga minyak berpotensi mengalami tekanan naik.
Perubahan harga energi kemudian dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter negara-negara besar, sehingga turut berdampak pada pergerakan dolar AS dan mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga mencermati sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
Investor menanti data ISM Services PMI yang menggambarkan aktivitas sektor jasa AS, data ketenagakerjaan mingguan, serta risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir. Data tersebut menjadi penting karena kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja AS menjadi salah satu pertimbangan utama bank sentral dalam menentukan arah suku bunga.
IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.139,13
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan Selasa (6/10) melanjutkan penguatan. IHSG naik 20,27 poin atau 0,33 persen ke level 6.139,13 dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di 6.118,86.
Sejalan dengan itu, indeks LQ45 yang mencerminkan pergerakan 45 saham unggulan juga menguat 2,23 poin atau 0,37 persen ke posisi 605,46. Penguatan pada awal perdagangan tersebut melanjutkan tren positif yang terjadi pada penutupan Senin.
Pada perdagangan Senin (5/10), IHSG ditutup menguat cukup signifikan sebesar 81,97 poin atau 1,36 persen ke level 6.118,86. Indeks LQ45 juga naik 7,77 poin atau 1,30 persen menjadi 603,23.
Kenaikan tersebut sejalan dengan penguatan sejumlah bursa saham di kawasan Asia yang dipengaruhi ekspektasi pelaku pasar bahwa The Fed akan mengambil sikap lebih dovish dalam pertemuan Oktober 2026.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan penguatan bursa regional Asia didukung oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan.
Kondisi pasar tenaga kerja yang melambat dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan atau memperketat kebijakan moneter. Dengan tekanan terhadap pasar tenaga kerja yang lebih rendah, investor melihat peluang kebijakan suku bunga AS menjadi lebih longgar atau setidaknya tidak semakin ketat dalam waktu dekat.
Data ketenagakerjaan AS menjadi salah satu perhatian utama pasar. Pada September 2026, ekonomi AS dilaporkan hanya menambah 29.000 pekerjaan, jauh di bawah perkiraan pasar yang mencapai 90.000 pekerjaan.
Selain itu, tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,2 persen. Pertumbuhan upah tahunan juga secara tidak terduga melambat menjadi 3,0 persen. Kombinasi data tersebut memberikan sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai menunjukkan pelemahan, sehingga memunculkan kembali ekspektasi bahwa The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga atau mengambil kebijakan yang lebih dovish.
Menurut Nico, kondisi tersebut mengurangi tekanan bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuan. Pasar pun memperkirakan bank sentral AS kemungkinan mempertahankan tingkat suku bunga pada pertemuan Oktober 2026.
Ekspektasi tersebut menjadi sentimen positif bagi pasar saham karena kebijakan moneter yang tidak semakin ketat dapat mengurangi tekanan terhadap biaya pendanaan dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.
Meski demikian, investor masih menghadapi sejumlah risiko eksternal. Nico menyebut imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak dunia masih berada pada level tinggi.
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun memang menurun ke sekitar 5,25 persen, sedangkan tenor 30 tahun turun menuju sekitar 5,6 persen. Namun, level tersebut masih dinilai tinggi sehingga tetap menjadi perhatian investor dan dapat memengaruhi aliran modal global.
Pergerakan IHSG juga masih dibayangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan perhatian investor terhadap kerentanan eksternal Indonesia, terutama karena kondisi pasar global masih dipengaruhi tingginya imbal hasil obligasi AS dan harga minyak dunia.
Meskipun harga minyak mulai mengalami penurunan, levelnya masih relatif tinggi dan tetap menjadi faktor yang diperhatikan karena dapat memberikan tekanan terhadap inflasi.
"Alhasil ada kekhawatiran mengenai kerentanan eksternal Indonesia, meskipun surplus perdagangan Agustus 2026, dengan risiko inflasi meningkat setelah inflasi September meningkat menjadi 3,28 persen, mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5 persen,” ujar Nico.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





































