tirto.id - Wilayah Sumatra Selatan (Sumsel) kini tengah menghadapi peralihan musim kemarau menuju musim hujan. Kabar ini seakan memberikan kabar segar bahwa karhutla akan segera berakhir. Namun, benarkah semua keadaan akan baik-baik saja saat musim hujan datang nanti?
Sebelumnya, masa musim kemarau yang panjang telah menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yan hingga sekarang. Banyak lokasi terdampak, tak terkecuali warga Sumsel yang menderita akibat kabut asap nan pekat.
Musim kemarau tahun ini telah berlangsung sejak Mei dan Juni 2026 hingga November 2026. Karhutla demi karhutla terjadi sejak awal Juli 2026 di Sumsel.
Kemunculan titik api dimulai di lahan mineral di Ogan Ilir, Muara Enim, Palembang, dan daerah lain. Satu bulan kemudian, karhutla merambah ke kawasan gambut di Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Muara Enim, Ogan Ilir, Banyuasin.
Dampak Karhutla di Sumatra Selatan dari Pendidikan hingga Kesehatan
Karhutla di lahan gambut ini menimbulkan asap di hampir seluruh wilayah Sumsel. Palembang menjadi daerah terdampak paling parah karena asap karhutla di OKI terbawa angin dan terkonsentrasi di langit kota itu.
Kondisi udara diperparah dengan banyaknya lahan di kawasan pinggiran kota Palambang yang terbakar. Lahan itu mayoritas adalah rawa-rawa tidur dan kering.
Bencana kabut asap berdampak pada aktivitas masyarakat. Memburuknya kualitas udara ditunjukkan dengan konsentrasi partikulat halus (PM2.5) yang sempat di atas 2.000 mikrogram meter per kubik, hingga membuat sebagian wilayah Sumsel ibarat negeri di atas awan.

Sekolah hingga perguruan tinggi diberlakukan pembelajaran dalam jaringan (daring) hampir dua bulan lamanya. Kebijakan ini setidaknya dikeluarkan Pemerintah Kota Palembang, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, dan Banyuasin.
Aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang nyaris lumpuh. Belasan hingga puluhan pesawat terpaksa delay hingga pembatalan setiap harinya karena jarak pandang di bawah 1.000 meter, bahkan sempat hanya 50 meter.
Jalur transportasi juga terdampak. Aktivitas speedboat dan perahu-perahu kecil yang melintasi Sungai Musi harus mengubah jadwal keberangkatan agak siang karena kabut asap tebal terjadi pagi hari.
Rendahnya visibilty di perairan juga menyebabkan kapal jukung yang memuat sembako kandas lalu terbalik karena jangkauan mata nahkoda tertutup asap. Meski tidak ada korban jiwa, kecelakaan itu menimbulkan kerugian besar bagi korban karena seisi muatan masuk rusak akibat terendam air dalam waktu lama.
Dari sektor kesehatan, asap karhutla menyebabkan puluhan ribu penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Selama kabut asap terjadi terjadi peningkatan secara signifikan kasus.
Pada Agustus 2026, penderita ISPA di provinsi itu sebanyak 47.020 orang dan meningkat pada September 2026 berjumlah 52.483 kasus atau tertinggi sepanjang tahun ini. Sementara pada Oktober 2026, penderita ISPA sebanyak 49.853 orang.
Buruknya kualitas udara bahkan menyebabkan seorang balita di Musi Banyuasin meninggal dunia. Seorang pengemudi ojek online di Palembang juga diklaim meninggal dengan penyebab yang sama.
Tak hanya ISPA, kasus pneumonia di Sumsel juga cukup tinggi selama periode karhutla. Dalam catatan Dinas Kesehatan Sumsel, sejak Agustus hingga awal November 2026, penderita penyakit itu menembus 1.107 orang.
Asap Karhutla Belum Tuntas, Potensi Bencana Lain Menanti
Belum selesai urusan karhutla dan kabut asap sebagai turunannya, kini warga Sumselkembali diingatkan dengan potensi bencana hidrometeorologi yang umumnya terjadi di musim hujan. Banjir, longsor, dan angin kencang menjadi 'musuh' yang datang sewaktu-waktu dan tak mengenal tempat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan mulai berlangsung secara bertahap pada awal hingga akhir November 2026. Saat ini keadaannya telah memasuki pancaroba dengan ancaman kehadiran angin kencang.
BMKG memprediksi puncak musim hujan secara merata di Sumsel terjadi pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Pada saat itu, intensitas hujan lebih sering dengan curah hujan tinggi berkisar 300-400 milimeter.
Durasi musim hujan diperkirakan berkisar antara 16 hingga 27 dasarian. Sebagian besar wilayah Sumsel diprediksi mengalami musim hujan selama 19 hingga 24 dasarian.

BMKG mencatat bahwa dinamika atmosfer turut memengaruhi kondisi musim hujan mendatang. El Nino pada periode Juli-September 2026 berada dalam kategori sangat kuat dengan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 sebesar +2,63. Kondisi tersebut diprediksi bertahan hingga awal 2027.
Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase netral dengan indeks +0,423, tetapi berpeluang memasuki fase positif hingga akhir 2026. Angin timuran atau Monsun Australia masih mendominasi, sedangkan Monsun Asia diperkirakan mulai memasuki wilayah Indonesia pada November 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis mengungkapkan, secara umum musim hujan mendatang lebih pendek karena awal musim mengalami kemunduran. Hal ini patut diwaspadai karena kemungkinan terjadi curah hujan tinggi dengan intensitas lebih sering.
Sebelumnya, musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Sumsel dimulai pada waktu yang sama hingga lebih cepat satu sampai tiga dasarian dibandingkan dengan kondisi normal. Musim kemarau mulai berlangsung pada pertengahan Mei 2026 di Palembang dan sekitarnya, sedangkan sebagian besar wilayah Sumsel memasuki musim kemarau pada Juni 2026. Sifat hujan selama musim kemarau tersebut tercatat berada dalam kategori di bawah normal.
"Diprediksi puncak musim hujan terjadi pada Desember 2026 dan Januari 2027 dengan curah hujan sampai 400 mm," ungkap Wandayantolis, Kamis (5/11/2026).
Dari sisi sifat hujan, sebagian besar wilayah Sumsel diprediksi mengalami curah hujan dalam kategori normal. Namun beberapa daerah harus lebih waspada karena sifat hujan di atas normal.
Daerah-daerah yang dimaksud adalah Musi Rawas Utara, Lubuk Linggau, Musi Rawas, wilayah barat Musi Banyuasin, sebagian besar Empat Lawang, bagian selatan Ogan Komering Ulu (OKU), dan OKU Selatan.
Peringatan BMKG untuk Berbagai Sektor
Menghadapi musim hujan mendatang, BMKG memberi peringatan dalam beberapa sektor. Di bidang pertanian, BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas tanaman dengan siklus tanam lebih pendek, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Di sektor sumber daya air, BMKG menyarankan untuk optimalisasi tampungan air, pengelolaan drainase, dan konservasi air juga perlu dilakukan. Sementara sektor kesehatan, pemberantasan sarang nyamuk dan kesiapan fasilitas kesehatan perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi potensi peningkatan kasus demam berdarah dan penyakit yang berkaitan dengan genangan air dan banjir.
Sementara sektor energi disarankan mengatur aliran masuk air (inflow), elevasi waduk, dan pelepasan air secara proporsional guna mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Memasuki periode awal hingga puncak musim hujan, BMKG mengimbau dilakukan optimalisasi drainase dan kesiapan evakuasi untuk mengantisipasi potensi banjir dan tanah longsor. Prediksi musim hujan ini diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan berbagai sektor dalam menyusun perencanaan dan menyiapkan langkah-langkah antisipasi sesuai dengan kondisi iklim di Sumsel.
Daerah yang Rawan Ancaman Banjir dan Longsor
Wilayah Sumsel masuk dalam daerah paling rawan dilanda banjir dan tanah longsor saat musim hujan. Untuk daerah rawan banjir tersebar di daerah yang berada pada wilayah dataran rendah dan pesisir.
Daerah-daerah itu adalah Palembang, Banyuasin, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, OKU, OKU Timur, Musi Rawas Musi Rawas Utara, Lubuklinggau, dan Muara Enim. Daerah-daerah ini menjadi langganan banjir setiap musim hujan dengan ketinggian air beragam.
Sementara daerah rawan longsor berada di wilayah dataran tinggi, pegunungan, dan lereng. Lokasinya antara lain di OKU, Lahat, Empat Lawang, Pagaralam, Muara Enim, dan OKU Selatan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel M Iqbal Alisyahbana mengungkapkan, seluruh wilayah Sumsel masuk dalam kategori rawan banjir, longsor, dan angin kencang saat musim hujan. Namun ada beberapa daerah yang menjadi skala prioritas kewaspadaan sesuai kondisi daerah dan peristiwa yang pernah terjadi.
"Semua kabupaten dan kota di Sumsel rawan terjadi bencana saat musim hujan. Artinya menjadi kewaspadaan semua," kata Iqbal.
Meski saat ini Sumsel masih berstatus siaga darurat karhutla yang berakhir pada 30 November 2026, pemerintah setempat mulai melakukan mitigasi daerah-daerah rawan untuk mengurangi risiko atau keparahan ketika bencana terjadi. Pembersihan dan penggalian sungai-sungai salah satu upaya yang dilakukan agar air tidak tersendat yang menyebabkan genangan hingga banjir.
"Akhir bulan ini rencananya kita gelar apel siaga untuk memastikan kelengkapan peralatan pendukung dalam menangani banjir dan longsor, termasuk personil," kata Iqbal.
Cegah Banjir Parah Terulang
BPBD Sumsel memgimbau pemangku kepentingan untuk deteksi dini potensi banjir di wilayah masing-masing. Curah hujan yang tinggi sebisa mungkin mencegah terjadinya bencana parah dan menimbulkan korban jiwa terulang.
Berdasarkan catatan, ada beberapa banjir terparah yang pernah terjadi di Sumsel. Pada Februari 2019, banjir bandang merendam tiga desa di Lahat dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter.
Banjir ini akibat Sungai Lematang meluap setelah diguyur hujan dua hari berturut-turut. Sebanyak 3.000 warga terdampak dan satu orang meninggal dunia akibat terseret air.
Pada Desember 2021, wilayah Palembang terjadi banjir hingga satu meter yang menyebabkan 4.000 warga terdampak. Banjir besar ini menimbulkan dua korban jiwa akibat terseret air dan tersengat listrik
.
Kemudian banjir parah juga pernah melandai Baturaja Timur, OKU, pada April 2023. Sungai Ogan meluap dan menggenangi pemukiman dengan ketinggian air hingga mencapai 3 meter.
Kemudian banjir juga terjadi di Musi Rawas dengan kedalaman air 1,8 meter akibat luapan Sungai Rupit dan Sungai Rawas. Banjir ini setidaknya merendam 2.572 rumah warga.
Pada September 2025, banjir bandang menerjang tiga desa di Kecamatan OKU Selatan. Banjir ini menghanyutkan tiga rumah dan tiga orang hilang terseret arus sebelum ditemukan meninggal dunia.
Palembang Mulai Berbenah
Palembang menjadi salah satu daerah langganan banjir. Air akan merendam jalan raya dan pemukiman saat hujan deras dan bertahan dalam waktu minimal satu jam.
Untuk itu, Wali Kota Palembang Ratu Dewa menginstruksikan seluruh organisasi perangkat daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim hujan, khususnya dalam mengantisipasi potensi banjir, pohon tumbang, dan dampak cuaca ekstrim. Ratu mewanti-wanti agar tidak menunggu terjadinya bencana untuk mulai bertindak.

Ratu Dewa menegaskan seluruh lurah, camat, dan perangkat daerah memetakan titik-titik rawan banjir dan memastikan warga yang tinggal di kawasan rentan mendapat perhatian. Dinas Pekerjaan Umum juga harus memperhatikan kondisi drainase dan infrastruktur.
"Seluruh pegawai untuk berubah dari menunggu menjadi bergerak dan bekerja dengan setulus hati, pantau titik-titik banjir, pangkas pohon-pohon besar yang berpotensi tumbang segera dipangkas, personil dan peralatan penangana disiapkan," kata Ratu Dewa.
Dalam antisipasi banjir yang terus terjadi saat musim hujan, pemerintah setempat melakukan normalisasi terhadap 114 anak sungai. Upaya ini untuk menjaga kelancaran aliran air, terutama dengan membersihkan tumpukan sampah, eceng gondok, dan vegetasi yang berpotensi menghambat aliran sungai yang meningkatkan risiko genangan ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
"Ini satu langkah penting mengurangi risiko banjir. Tapi, efektivitasnya membutuhkan dukungan masyarakat melalui kebiasaan tidak membuang sampah ke sungai dan saluran air," kata dia.
Menurut dia, fenomena buang sampah ke sungai dan selokan menjadi musuh besar dalam penanganan banjir. Bahkan, belum lama ini, ditemukan kulkas bekas di Sungai Bendung yang menumpuk dengan sampah-sampah rumah tangga lainnya.
Padahal, Pemkot Palembang telah mensosialisasikan layanan penjemputan sampah berukuran besar secara gratis. Layanan ini disediakan untuk memudahkan masyarakat membuang barang-barang bekas yang tidak lagi digunakan tanpa harus menjadikannya sebagai sampah sungai.
"Kita wajib jaga sungai yang ada. Karena kalau sampah dibuang ke sungai bakal terjadi banjir dan yang rugi kita semua," pungkasnya.
Penulis: Irwanto
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





























