Menuju konten utama
Mozaik

Ketika Aparat Turki Menyadap Perdana Menteri Erdogan

Dua perangkat penyadap ditemukan di ruang kerja Erdoğan pada 2011. Penyelidikan mengungkap dugaan keterlibatan sejumlah aparat dan pejabat negara Turki.

Ketika Aparat Turki Menyadap Perdana Menteri Erdogan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyampaikan keterangan kepada wartawan usai melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Bogor, Bogor, Jawa Barat, Rabu (12/2/2025).ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wpa/nz.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Malam 24 November 2011, Hasan Narmanlı sedang bertugas sebagai teknisi di kediaman resmi Perdana Menteri Turki di Çankaya, Ankara. Sekitar pukul 19.00, sebuah tim datang untuk memeriksa ruangan di kediaman tersebut. Narmanlı bersama Volkan Korkmaz, kepala keamanan kediaman, ikut mendampingi mereka.

Saat tim memasuki ruang kerja perdana menteri, dua petugas meminta Narmanlı dan Korkmaz keluar. Alasannya, suara bising mengganggu pemeriksaan. Mereka kemudian menunggu di koridor bersama seorang petugas lain. Setelah sekitar sepuluh menit, kedua petugas keluar dan melanjutkan pemeriksaan ke ruangan lain.

Tiga tahun kemudian, peristiwa tersebut tercantum dalam dakwaan kasus penyadapan Erdoğan. Jaksa menduga pemeriksaan itu menjadi kedok untuk memasang perangkat penyadap di dalam stopkontak bercabang di ruang kerja perdana menteri.

Perangkat Penyadap di Balik Stopkontak

Pada akhir 2011, muncul pembicaraan di lingkungan kantor perdana menteri mengenai perlunya pemeriksaan teknis untuk memastikan tidak ada perangkat penyadap di tempat-tempat yang digunakan Erdoğan. Setelah MIT (Millî İstihbarat Teşkilatı) atau Organisasi Intelijen Nasional menyatakan peralatannya memadai, kantor perdana menteri menyetujui pemeriksaan yang berlangsung pada 28–30 Desember 2011.

Penyisiran mencakup kediaman pribadi Erdoğan di Keçiören, kantor pusat Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), gedung pusat pemerintahan, serta kediaman resmi perdana menteri di Çankaya. Mustafa Varank, penasihat utama perdana menteri saat itu, turut mendampingi tim pemeriksa.

Pada 28 Desember 2011, MIT menemukan pemancar radio tersembunyi di dalam terminal listrik di ruang kerja pribadi Perdana Menteri Recep Tayyip Erdoğan. Surat kabar Yeni Akit melaporkan bahwa sinyal perangkat terdeteksi pada frekuensi sekitar 416 MHz. Terminal itu berada di dekat empat telepon, termasuk telepon terenkripsi milik Erdoğan. Pemeriksaan sinar-X menunjukkan adanya komponen tersembunyi di dalamnya.

Politik Turki

Presiden Turki Tayyip Erdogan menyapa anggota Partai AK dalam sebuah pertemuan di parlemen di Ankara, Turki, Selasa (25/6/2019). ANTARA FOTO/Cem Oksuz/Presidential Press Office/Handout via REUTERS/nz/cfo

Sehari kemudian, petugas menemukan perangkat serupa di ruang kerja Erdoğan di kediaman resmi Çankaya. Perangkat itu tidak memancarkan sinyal secara terus-menerus ketika diperiksa. Pemeriksaan laboratorium selanjutnya menunjukkan bahwa kedua perangkat memiliki rancangan dan metode pemasangan yang serupa. Pada 30 Desember, tim MIT kembali memeriksa empat ruangan di kediaman Keçiören, tetapi tidak menemukan perangkat lain.

Kedua perangkat diperkirakan telah terpasang sekitar sebulan sebelum ditemukan. Alat tersebut menggunakan dua mikrofon dan pemancar radio yang mendapat pasokan listrik langsung dari jaringan bangunan. Hasil pengujian menunjukkan jangkauan pancarannya mencapai sedikitnya 50 meter di dalam ruangan dan 300 meter di ruang terbuka. Meski demikian, tidak ada keterangan yang memastikan siapa penerima sinyal maupun percakapan apa saja yang berhasil diperoleh.

Penemuan perangkat itu tidak langsung diikuti penyelidikan terbuka. Pada 24 Februari dan 6 Maret 2012, seseorang bernama Mehmet Kaya mengirimkan pengaduan melalui surat elektronik kepada Kejaksaan Ankara. Menjelang akhir tahun, kejaksaan meminta keterangan kepada kantor perdana menteri. Pemeriksaan administratif oleh Inspektorat Perdana Menteri dimulai pada awal Januari 2013.

Hasil pemeriksaan mengarah kepada sejumlah personel kepolisian yang bertugas melakukan pemeriksaan keamanan rutin di lingkungan perdana menteri. Menurut dakwaan, mereka diduga memanfaatkan kegiatan penyisiran tersebut untuk memasang perangkat penyadap. Sejumlah petugas berasal dari Direktorat Perlindungan Perdana Menteri, sedangkan lainnya bertugas di Direktorat Intelijen Kepolisian.

Pertimbangan putusan pengadilan menjelaskan bahwa perangkat disiapkan terlebih dahulu di luar lokasi. Komponen elektronik ditempatkan di dalam stopkontak ekstensi, kemudian ditutup dengan bahan pengisi dan cetakan khusus agar tidak mudah terlihat ketika dibuka. Pemeriksaan di Dewan Riset Ilmiah dan Teknologi Turki (TÜBİTAK) mengidentifikasi bahan pengisi tersebut sebagai termoplastik poliuretan. Proses pengerasannya diperkirakan berlangsung pada 4–5 Desember 2011.

Aparat di Balik Operasi Penyadapan

Diberitakan Anadolu Agency, dakwaan yang diterima Pengadilan Kriminal Berat Ankara pada 1 Desember 2014 mencantumkan 13 terdakwa dari sejumlah lembaga negara. Mereka berasal dari Direktorat Intelijen Kepolisian, Direktorat Perlindungan Perdana Menteri, dan lembaga penelitian sains nasional TÜBİTAK. Enam orang didakwa sebagai pelaku utama, sedangkan tujuh lainnya dituduh membantu pelaksanaan penyadapan.

Di antara terdakwa terdapat Ali Özdoğan, Kepala Bagian Teknis Direktorat Intelijen Kepolisian, dan Serhat Demir, Kepala Biro Sistem Keamanan Direktorat Perlindungan Perdana Menteri. Sedat Zavar menjabat Wakil Kepala Bagian Teknis Intelijen Kepolisian. Sementara itu, Enes Çiğci dan İlker Usta merupakan personel di bagian teknis lembaga tersebut. Hasan Palaz, yang juga menjadi terdakwa, merupakan mantan pejabat TÜBİTAK.

Menurut dokuman dakwaan yang dipublikasikan T24, Ali Özdoğan mengorganisasi operasi penyadapan dan mengatur keterlibatan sejumlah personel.[4] Serhat Demir diduga mengarahkan kegiatan di lapangan, sedangkan Zavar, Çiğci, dan Usta disebut sebagai pelaksana pemasangan perangkat. Ahmet Türer, pejabat Direktorat Perlindungan Perdana Menteri, juga diduga mendukung dan mengarahkan kegiatan tersebut.

Jaksa menduga penyadapan tersebut dilakukan untuk spionase politik. Informasi yang diperoleh dari percakapan Erdoğan disebut ditujukan bagi kepentingan suatu jaringan terorganisasi di lingkungan kepolisian. Dalam dakwaan, Ali Özdoğan disebut sebagai pengorganisasi operasi, sedangkan Ahmet Türer diduga mendukung dan mengarahkan kegiatan tersebut.

Penyelidikan berikutnya juga menyoroti dugaan keterlibatan jaringan yang lebih luas. Pada 2015, mantan Kepala Direktorat Intelijen Kepolisian Ömer Altıparmak termasuk dalam daftar tersangka dalam dakwaan terpisah yang berkaitan dengan dugaan organisasi FETÖ/PDY. Namun, dakwaan tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa Altıparmak atau Fethullah Gülen secara langsung memerintahkan pemasangan perangkat penyadap.

Salah satu bagian dakwaan menggambarkan bagaimana pemasangan perangkat dilakukan. Pada 24 November 2011, tim yang dipimpin Serhat Demir melakukan pemeriksaan keamanan di kediaman resmi perdana menteri. Hasan Narmanlı memberikan kesaksian bahwa dua anggota tim meminta dirinya dan Korkmaz keluar dari ruang kerja Erdoğan dengan alasan suara bising.

Kedua petugas itu kemudian bekerja sendirian selama sekitar sepuluh menit, sementara Narmanlı, Korkmaz, dan Serhat Demir menunggu di koridor. Jaksa menduga kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk mengganti stopkontak dengan perangkat yang telah dimodifikasi. Penutupnya dibuat khusus dengan warna menyerupai stopkontak asli dan tanpa celah di bagian tepi.

Setelah perangkat ditemukan, MIT mengirimkan barang bukti ke TÜBİTAK untuk memeriksa komponen elektronik dan memperkirakan usia bahan pengisi. Jaksa menduga Hasan Palaz memengaruhi proses pemeriksaan untuk mengaburkan waktu pemasangan perangkat. Hamza Turhan, insinyur kimia di lembaga tersebut, menerima permintaan analisis bahan pengisi dan meneruskan catatan penelitiannya kepada Palaz. Catatan itu disampaikan kepada Gökhan Vıcıl, insinyur mesin di TÜBİTAK. Vıcıl menyusun laporan untuk MIT.

Recep Tayyip Erdogan

Recep Tayyip Erdogan. REUTERS/Umit Bektas

Pemeriksaan ahli dari TOBB (Persatuan Kamar Dagang dan Bursa Komoditas Turki) memperkirakan bahan pengisi mulai digunakan sekitar 20 November 2011. Sementara itu, pengujian TÜBİTAK memperkirakan bahan tersebut mengeras pada 4–5 Desember. Berdasarkan sejumlah temuan itu, dakwaan memperkirakan perangkat dipasang pada 24–25 November 2011.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana berbagai bagian institusi negara terhubung dalam praktik pengawasan. Dalam penelitian berjudul "The Authoritarian Surveillant Assemblage: Authoritarian State Surveillance in Turkey" yang terbit di jurnal Security Dialogue (2019), akademisi Özgün Topak menjelaskan bagaimana sistem pengawasan di Turki berkembang melalui hubungan berbagai lembaga dan aktor. Sistem tersebut mencakup pemantauan demonstrasi, aktivitas internet, media, serta jaringan informan.

Topak menyebut keterhubungan berbagai sistem itu sebagai authoritarian surveillant assemblage, yakni jaringan pengawasan negara yang bekerja secara terkoordinasi untuk mengendalikan masyarakat dan menekan perbedaan pendapat.

Meski penelitian Topak tidak secara khusus membahas perkara penyadapan Erdoğan, kerangkanya menjelaskan persoalan yang lebih luas dalam pengelolaan infrastruktur pengawasan negara. Akses yang diberikan untuk melindungi kepala pemerintahan justru diduga digunakan untuk mengawasinya.

Persidangan dan Isu Kudeta

Dalam sidang pada 4 Mei 2015, Sedat Zavar mengatakan mungkin pernah mengikuti pemeriksaan keamanan di kantor perdana menteri satu atau dua kali. Ia membantah memasang perangkat penyadap dan menyebut Ali Özdoğan sebagai orang yang memberinya perintah. İlker Usta juga membantah seluruh tuduhan. Pada 26 Juni 2015, pengadilan menjatuhkan hukuman tujuh tahun enam bulan penjara kepada masing-masing terdakwa.

Putusan itu dibatalkan Kamar Pidana ke-16 Mahkamah Agung Turki pada 2 Agustus 2016. Pembatalan tersebut membuka kembali pemeriksaan terhadap sejumlah terdakwa. Setelah beberapa berkas perkara digabungkan, Pengadilan Kriminal Berat Ankara Kedua menjatuhkan putusan baru pada 19 April 2018. Zavar dihukum 54 tahun enam bulan tujuh hari, sedangkan Usta menerima 50 tahun enam bulan tujuh hari penjara. Sepuluh dari 14 terdakwa dijatuhi hukuman.

Proses hukum berlanjut setelah kasasi. Dalam pemeriksaan ulang pada Desember 2020, pengadilan membebaskan Hasan Palaz dan Gökhan Vıcıl dari dakwaan menyembunyikan atau menghilangkan barang bukti, serta Zeki Bulut dari dakwaan pelanggaran kerahasiaan komunikasi.

Putusan 2018 juga memuat dakwaan keanggotaan organisasi teroris FETÖ/PDY, istilah yang digunakan Pemerintah Turki untuk menyebut jaringan Fethullah Gülen. Perkara ini berlangsung di tengah keretakan hubungan Erdoğan dan Gülen, terutama setelah penyelidikan korupsi pada Desember 2013. Pemerintah menuding pendukung Gülen membangun struktur paralel di kepolisian dan lembaga peradilan. Namun, tuduhan tersebut tidak membuktikan bahwa seluruh aparat yang terlibat dalam penyadapan memiliki afiliasi atau motif yang sama.

Penyadapan tersebut juga mencerminkan sektor keamanan Turki ketika aparat yang memiliki akses resmi ke lingkungan perdana menteri justru diduga menggunakan kewenangannya untuk memasang perangkat pengawasan. Dalam buku The Turkish Deep State: State Consolidation, Civil-Military Relations and Democracy (2015), ilmuwan politik Mehtap Söyler menjelaskan hubungan antara lemahnya pengawasan sektor keamanan dan kemunculan deep state. "Negara muncul dalam demokrasi yang tidak memiliki pengawasan sipil-demokratis terhadap sektor keamanan," tulisnya (hlm. 44).

Hampir lima tahun setelah perangkat penyadap ditemukan, Turki kembali menghadapi konflik serius di tubuh institusi negara. Pada 15 Juli 2016, sejumlah anggota militer mencoba menggulingkan pemerintahan Erdoğan, tetapi upaya itu gagal. Pemerintah menuding gerakan Fethullah Gülen berada di balik kudeta, tuduhan yang dibantah Gülen.

Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Inggris menilai bukti publik belum cukup untuk memastikan bahwa gerakan Gülen sebagai organisasi mengatur kudeta tersebut. Namun, penilaian itu tidak menghapus keterlibatan individu-individu yang mungkin terhubung dengan gerakan tersebut.

Baca juga artikel terkait PENYADAPAN atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi