tirto.id - Sebagian kita mungkin pernah mendengar ucapan bahwa manusia adalah predator puncak. Artinya, sebagai spesies, kita berdiri gagah di puncak rantai makanan berkat kemampuan berburu yang pada akhirnya dapat menjadikan spesies apa pun, bahkan yang jauh lebih besar dan buas, sebagai mangsa.
Narasi Man the Hunter atau Manusia sang Pemburu ini begitu dominan di lanskap paleoantropologi abad ke-20, wabilkhusus menyusul sebuah konferensi di Chicago pada 1966 yang menjadikan perburuan sebagai inti dari hampir seluruh evolusi manusia.
Akan tetapi, narasi tersebut tidak sepenuhnya tepat. Memang benar bahwa pada suatu titik evolusi, manusia berhasil mengumpulkan pengetahuan sedemikian rupa sehingga mampu mengatasi segala rupa ancaman seraya mengumpulkan makanan dengan cara berburu. Namun, ada pula masa ketika leluhur manusia, terutama pada jutaan tahun pertama eksistensinya, jauh lebih kerap dimangsa oleh hewan-hewan seperti singa, macan tutul, hyena, buaya, ular, bahkan burung.
Bagaimana Manusia Dimangsa?
Kisah burung pemburu leluhur manusia ini bermula dari penemuan sebuah tengkorak kecil di wilayah yang kini jadi Afrika Selatan pada 1924. Kala itu, ahli anatomi Raymond Dart menggali fosil seorang anak kecil yang kemudian dikenal sebagai "Anak Taung" (Taung Child). Bocah ini merupakan bagian dari spesies Australopithecus africanus berusia sekitar dua hingga tiga tahun yang hidup kira-kira 2,8 juta tahun lalu. Selama puluhan tahun setelah penemuannya, para ilmuwan berdebat soal bagaimana fosil anak itu berakhir di dalam gua tersebut.
Sampai akhirnya, pada 1995, sebuah usulan muncul dari dua paleoantropolog: Lee Berger dan Ron Clarke. Setelah melakukan analisis terhadap tengkorak tersebut, lalu membandingkan pola kerusakannya dengan kasus-kasus yang lebih modern, mereka sampai pada kesimpulan bahwa Anak Taung tewas dimangsa seekor elang.
Hasil penelitian Berger dan Clarke menunjukkan bahwa pada tengkorak Anak Taung terdapat lubang-lubang tusukan perimortem (terjadi sebelum kematian) di sekitar rongga mata, dan ini identik dengan bekas cengkeraman raptor. Selain itu ada pula sayatan berbentuk lubang kunci di lantai rongga mata, sebuah pola yang sangat khas dari cara elang mahkota Afrika modern (Stephanoaetus coronatus) mengakses otak mangsanya melalui rongga mata. Para peneliti bahkan menemukan tanda cakaran yang menyapu dari atas ke bawah di bagian tempurung kepala, persis seperti cara elang mahkota merobohkan mangsa yang melawan.
Elang mahkota Afrika adalah predator yang luar biasa. Beratnya bisa mencapai 4,7 kilogram dengan rentang sayap hampir dua meter. Yang membuatnya menakutkan bukan hanya ukurannya, melainkan kecerdasannya dalam berburu.
Elang ini menyerang dari balik dedaunan, mengincar kepala dan dada mangsa, lalu menggunakan cakar yang berotot sangat kuat untuk meremas dan menusuk hingga korban tidak bisa bergerak. Jari-jari kakinya menghasilkan tekanan yang luar biasa, mampu menembus otot, tulang, dan organ sekaligus. Laporan lapangan menggambarkan elang mahkota yang mampu "mempelajari bagian mana dari mangsa yang sedang berjuang untuk digenggam paling efektif, dengan sangat cepat".
Penelitian di Hutan Tai di Afrika Barat menunjukkan betapa seriusnya ancaman ini. Selama 32 bulan, peneliti Suzanne Shultz mengamati 16 sarang elang mahkota dan menemukan lebih dari 1.200 tulang yang mewakili sedikitnya 333 individu mangsa dari sekitar 35 spesies, termasuk paling tidak 204 primata. Mangsa itu mencakup berbagai spesies dari yang terkecil hingga sooty mangabey jantan yang beratnya bisa mencapai lebih dari 11 kilogram. Bahkan primata besar yang hidup berkelompok pun tidak sepenuhnya aman.
Bukti predasi pada leluhur manusia tidak hanya datang dari Anak Taung. Para peneliti telah mengumpulkan serangkaian panjang fosil hominin dari berbagai situs di Afrika yang memperlihatkan tanda predasi, mulai dari spesies yang hidup sekitar 6 juta tahun lalu hingga Homo erectus yang ada sekitar satu juta tahun yang lalu. Tanda-tanda itu mencakup bekas cakaran raptor, lubang tusukan dari taring karnivora, dan pola fragmentasi tulang yang konsisten dengan aktivitas predator.
Dari aspek tafonomi, yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana fosil terbentuk dan apa saja yang terjadi pada tulang-tulang setelah kematian, juga terlihat bahwa pola kerusakan pada berbagai fosil hominin dari Afrika Selatan konsisten dengan predasi oleh raptor besar.
Situs-situs seperti Sterkfontein, Swartkrans, dan Drimolen menyimpan tulang-tulang yang memperlihatkan kombinasi antara bekas cakaran, tusukan dari ujung taring, dan pola fragmentasi yang tidak bisa semua dijelaskan oleh pelapukan alam atau pergerakan sedimen. Interpretasi dari data ini masih terus diperdebatkan, tetapi satu hal semakin jelas: leluhur kita hidup dalam dunia yang penuh predator, dan banyak dari mereka mati sebagai mangsa.
Ada batasan ukuran yang penting di sini. Data yang terkumpul dari banyak penelitian menunjukkan bahwa tidak ada primata yang beratnya lebih dari sekitar 13 kilogram yang terkonfirmasi dibunuh oleh raptor. Ini berarti Homo erectus dewasa mungkin sudah relatif aman dari serangan udara. Namun, spesies-spesies hominin lebih awal yang bertubuh lebih kecil, seperti Australopithecus, masih sangat rentan. Dan anak-anak hominin dari hampir semua spesies adalah mangsa potensial yang mudah.
Pengalaman Melahirkan Adaptasi
Dari kehidupan yang mengerikan itulah kemudian muncul berbagai wujud adaptasi yang, pelan tapi pasti, membentuk kita, manusia, sebagai sebuah spesies.
Dalam kelompok, setiap anggota menjadi mata tambahan yang bisa mendeteksi bayangan yang mendekat dari arah mana pun. Individu yang memilih hidup sendirian lebih mudah mati sebelum sempat bereproduksi. Individu yang mau bergabung dan mempertahankan kohesi kelompok lebih mungkin hidup dan mewariskan kecenderungan sosialnya.
Lebih jauh dari sekadar berkelompok, primata juga mengembangkan sistem komunikasi yang semakin canggih untuk menghadapi predator dari langit. Monyet vervet Afrika, misalnya, memiliki seruan alarm yang berbeda untuk setiap jenis predator.
Seruan untuk elang mendorong kelompok mencari perlindungan di semak bawah sambil menatap ke atas. Seruan untuk ular mendorong mereka berdiri tegak dan melihat ke bawah. Seruan untuk macan tutul mendorong mereka naik ke pohon. Ini adalah sistem komunikasi semantik yang nyata, di mana satu suara mewakili satu konsep ancaman yang spesifik.
Para peneliti meyakini bahwa kemampuan ini adalah salah satu fondasi awal bahasa manusia. Kemampuan untuk menyampaikan informasi spesifik tentang ancaman yang tidak terlihat, seperti "ada bahaya, sembunyi sekarang", jauh lebih berguna daripada sekadar teriakan panik. Seleksi alam mendorong kecenderungan untuk membuat, memahami, dan bereaksi tepat terhadap sinyal yang semakin kompleks.
Donna Hart dan Robert Sussman, dalam buku mereka Man the Hunted yang terbit pertama kali pada 2005 dan memenangi W.W. Howells Award pada 2006, berargumen bahwa memandang leluhur manusia sebagai spesies mangsa memberikan penjelasan yang jauh lebih koheren untuk banyak aspek evolusi sosial manusia.
Hart dan Sussman mengutip penelitian oleh Treves dan Palmqvist yang menemukan bahwa antara 3,6 dan 1,8 juta tahun lalu, hominin kemungkinan mengalami tekanan seleksi yang sangat kuat untuk "pengawasan yang efisien". Dalam jangka waktu itu, leluhur kita hidup di antara banyak predator yang mengintai dari darat dan udara. Kelompok yang lebih kohesif, lebih waspada, dan lebih baik dalam berkoordinasi memiliki peluang hidup yang lebih tinggi. Dan individu-individu dari kelompok semacam itu yang akhirnya mewariskan gen mereka kepada kita.
Tekanan predasi juga disinyalir memiliki andil dalam mendorong salah satu ciri paling khas manusia: berjalan tegak di atas dua kaki. Sekilas, bipedalisme tampak menjadi kelemahan di hadapan predator, karena berjalan tegak membuat kita terlihat dari kejauhan dan memperlambat gerak kita dibanding hewan berkaki empat. Namun, beberapa peneliti mengusulkan bahwa bipedalisme juga memberikan keuntungan dalam konteks hidup sebagai mangsa.
Posisi tegak memungkinkan kita memindai cakrawala lebih jauh dari semua arah, mendeteksi bayangan besar yang melintas di langit dengan lebih cepat, dan membebaskan kedua tangan untuk membawa anak yang perlu dilarikan atau melempar benda untuk mengusir predator. Tentu saja, bipedalisme hampir pasti didorong oleh banyak faktor sekaligus, termasuk efisiensi bergerak di padang terbuka dan perubahan habitat. Tapi kemungkinan bahwa tekanan dari predator turut membentuknya tidak bisa diabaikan begitu saja.
Ada pula satu dampak evolusioner yang lebih mengejutkan: pola kelahiran. Data dari penelitian monyet tupai (Saimiri) di Kosta Rika menunjukkan bahwa sekitar 50 persen monyet-monyet itu menjadi mangsa raptor sebelum mencapai usia enam bulan.
Untuk merespons tekanan ini, betina-betina dari spesies itu secara evolusioner menyinkronkan masa kelahiran anak-anak mereka dalam periode yang sangat singkat. Dengan banyaknya bayi yang lahir hampir bersamaan, setiap bayi secara statistik lebih kecil kemungkinannya dipilih oleh raptor. Strategi ini dikenal sebagai "pengenceran mangsa", dan ada indikasi bahwa tekanan serupa juga mempengaruhi pola reproduksi hominin purba.
Sekarang, manusia bukan lagi mangsa elang raksasa, tetapi tubuh, saraf, dan sebagian besar cara kita menjalani kehidupan sosial masih menyimpan warisan dari jutaan tahun hidup di bawah ancaman dari langit.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id






































