Menuju konten utama
Edusains

Lebah Madu adalah Makhluk Penindas

Menurut penelitian, lebah madu mendominasi bunga dan mengusir polinator lain, sehingga mengancam keanekaragaman hayati serta keseimbangan ekosistem alami.

Lebah Madu adalah Makhluk Penindas
Seekor lebah madu gala-gala atau kelulut (Apis trigona) menghisap sari bunga di kawasan Sungai Bangek, Padang, Sumatera Barat, Sabtu (12/8/2023). ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nama Apis mellifera mungkin tidak banyak dikenal orang awam. Akan tetapi, lebih dari setengah spesies tumbuhan berbunga di seluruh dunia bergantung pada serangga kecil itu. Apis mellifera adalah nama ilmiah lebah madu Barat, hewan yang begitu lekat dengan gambaran alam yang asri dan indah. Bunga-bunga bermekaran, serbuk sari beterbangan, dan pohon-pohon buah yang berbuah lebat.

Atas perannya itu, lebah madu sering dirayakan sebagai pahlawan ekosistem. Mereka membantu penyerbukan jutaan jenis tanaman, termasuk tumbuhan liar dan tanaman pangan yang kita konsumsi setiap hari. Sebuah laporan pada 2014 memperkirakan bahwa jasa penyerbukan oleh hewan berkontribusi pada peningkatan produksi pertanian global hingga 300 persen. Tidak berlebihan jika lebah madu sering disebut salah satu makhluk terpenting di bumi.

Namun, di balik itu semua ada sisi gelap dari lebah madu yang jarang diketahui. Di balik imejnya yang jinak dan produktif, lebah madu ternyata adalah penindas. Mereka merampas bunga dari serangga penyerbuk (polinator) lain, mengusir kompetitor dari sumber makanan, dan mendominasi tanaman-tanaman yang seharusnya bisa dikunjungi oleh semua polinator. Dan skala penindasan itu rupanya jauh lebih besar dari yang selama ini dibayangkan.

Penelitian yang diterbitkan pada Oktober 2026 di jurnal Ecological Entomology mengungkap perilaku ini secara sistematis dan terperinci. Tim peneliti dari Anglia Ruskin University di Cambridge, Inggris, yang dipimpin oleh Victoria Buckle, menghabiskan dua tahun mengamati interaksi antarpolinator di ladang-ladang tumbuhan liar di Cambridgeshire. Mereka mencatat dan mengklasifikasikan apa yang terjadi ketika lebah madu dan polinator lain berebut akses ke bunga yang sama.

Objek pengamatan mereka adalah dua tumbuhan yang kaya nektar dan serbuk sari: Rubus fruticosus atau bramble, sejenis tumbuhan berduri yang mekar pada musim panas, dan Hedera helix atau ivy, tumbuhan merambat yang mekar pada musim gugur. Keduanya dipilih karena menjadi sumber makanan penting bagi banyak polinator, terutama di musim-musim ketika sumber bunga lain mulai terbatas. Pengamatan dilakukan di lokasi-lokasi yang berada dalam jarak 300 meter dari sarang lebah madu aktif, sehingga para peneliti bisa memastikan kehadiran lebah madu yang konsisten.

Selama 93 jam pengamatan, Buckle cs. mencatat 300 interaksi di antara polinator yang mengunjungi bunga-bunga tersebut. Setiap interaksi diberi label "kemenangan" apabila satu individu berhasil mendapatkan akses ke sumber makanan, sementara pihak lain kehilangan kesempatan itu. Interaksi juga bisa berujung pada label "berbagi", ketika kedua polinator mengunjungi bunga yang sama tanpa ada yang terusir.

BUDIDAYA LEBAH MADU

Dede Yanti (40), menunjukan hasil budidaya Lebah Madu didalam sarangnya di Kampung Sindangsuka, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (5/12/2017). ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

Hasilnya, dari seluruh interaksi kompetitif yang diamati, lebah madu memenangi 65,7 persen di antaranya pada tanaman bramble. Untuk meraih kemenangan-kemenangan itu, mereka tidak sekadar tiba lebih cepat, tetapi juga secara aktif mengintimidasi polinator lain. Pada 28,4 persen interaksi di bramble dan 35,6 persen di ivy, polinator lain secara aktif menghindari bunga yang tengah dikunjungi lebah madu. Artinya, kehadiran lebah madu saja sudah cukup untuk mengusir calon pengunjung lain bahkan sebelum terjadi kontak fisik.

Secara umum, perilaku agresif lebah madu terhadap polinator lain dibagi dalam tiga kategori. Pertama, chase, yakni ketika lebah madu mengejar polinator lain menjauh dari bunga. Kedua, shunt, ketika terjadi kontak tubuh dan satu pihak dipaksa menepi. Terakhir, ada displace, ketika polinator yang sedang hinggap di bunga langsung ditendang pergi. Setidaknya 20 persen kemenangan lebah madu diraih dengan cara mengusir (displace) dan mengejar (chase) polinator rival. Selain itu, lebah madu juga tercatat sebagai inisiator dalam 80 persen insiden pengejaran yang tercatat.

Dari situasi ini, spesies yang paling parah terdampak adalah lebah bumble, lebah soliter, dan hoverfly, sejenis lalat yang menyerupai lebah dan juga berperan sebagai polinator. Lebah soliter kehilangan 61,5 persen akses dari seluruh interaksi di bramble, sementara hoverfly kehilangan 66,6 persen. Keduanya bisa dibilang hampir selalu kalah ketika berhadapan dengan lebah madu.

Analisis statistik dalam penelitian itu juga menunjukkan bahwa, semakin banyak lebah madu di suatu area, semakin sedikit polinator non-lebah madu yang ditemukan di sana. Lebih spesifik lagi, ketika kepadatan lebah madu dua kali lebih tinggi, populasi lebah bumble diperkirakan berkurang hingga 14,4 persen. Ini bukan angka yang bisa dikesampingkan begitu saja, mengingat lebah bumble adalah polinator penting yang populasinya sudah berada dalam tekanan di banyak wilayah.

Di sini, persoalannya bukan hanya soal jumlah polinator yang berkurang. Masalah yang lebih serius adalah soal kualitas penyerbukan itu sendiri. Sebuah studi dari University of California San Diego yang diterbitkan pada 2023 di jurnal Proceedings of the Royal Society B menemukan bahwa lebah madu, meski mengunjungi lebih banyak bunga, ternyata menghasilkan keturunan tanaman yang kualitasnya lebih rendah dibandingkan ketika penyerbukan dilakukan oleh polinator asli. Anak tanaman yang lahir dari penyerbukan lebah madu dua kali lebih kecil kemungkinannya untuk matang menjadi biji, berkecambah, tumbuh, dan bereproduksi. Benih yang dihasilkan pun bisa sepuluh kali kurang fit dibandingkan yang dihasilkan dari polinator asli.

Menurut Professor Joshua Kohn, salah satu peneliti dalam studi tersebut, "Lebah madu dipersepsikan sebagai mitra yang membantu reproduksi tanaman, tapi mereka mungkin tidak sebaik polinator asli bagi banyak tanaman. Kami menemukan bahwa mereka mengantarkan serbuk sari berkualitas lebih rendah dibandingkan polinator asli.”

Bukan Demonisasi Lebah Madu

Ini penting untuk dipahami dalam konteks yang lebih luas. Lebah madu bukan pemain tunggal dalam dunia penyerbukan. Sebuah analisis terhadap 80 jaringan interaksi polinator dan tumbuhan di seluruh dunia, yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the Royal Society B pada 2018, menemukan bahwa lebah madu rata-rata bertanggung jawab atas 13 persen dari seluruh kunjungan ke bunga di habitat alami, dan ini membuat mereka jadi pengunjung bunga paling dominan. Namun, pada 33 persen jaringan yang diteliti dan 49 persen spesies tanaman, secara natural tidak pernah ada peranan lebah madu di sana. Artinya, banyak ekosistem yang sebenarnya berfungsi baik tanpa lebah madu.

Di sinilah letak masalahnya. Ketika lebah madu mendesak keluar polinator asli dari bunga, mereka bukan hanya merugikan sesama serangga, tetapi juga berpotensi merugikan tumbuhan yang bergantung pada polinator-polinator spesialis tersebut. Keberagaman polinator adalah kunci bagi stabilitas ekosistem.

Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature Ecology & Evolution pada Desember 2024 menunjukkan bahwa berkurangnya keberagaman polinator secara konsisten mengurangi keberhasilan reproduksi tumbuhan liar maupun tanaman budidaya. Lebih jauh, hilangnya polinator invertebrata liar ternyata memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan hilangnya polinator yang dikelola manusia.

Ada ironi besar di sini. Populasi lebah madu justru tengah bertumbuh di banyak negara. Di Inggris, misalnya, jumlah peternak lebah terdaftar naik dari 19.000 pada 2010 menjadi 47.000 pada 2025. Di tengah kepedulian publik terhadap "krisis lebah" yang mendorong semakin banyak orang untuk beternak lebah madu sebagai langkah konservasi, para ilmuwan justru khawatir bahwa lonjakan lebah madu yang dikelola manusia malah memperburuk tekanan terhadap polinator liar yang sesungguhnya lebih rentan.

BUDIDAYA LEBAH MADU

Dede Yanti (40), menunjukan hasil budidaya Lebah Madu didalam sarangnya di Kampung Sindangsuka, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (5/12/2017). ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

Faktor iklim turut menambah kerumitan situasi ini. Penelitian Buckle menemukan bahwa suhu yang lebih tinggi berkorelasi dengan meningkatnya frekuensi interaksi kompetitif antarpolinator. Ketika bunga-bunga memproduksi lebih sedikit nektar akibat stres berupa panas, persaingan menjadi semakin sengit. Perubahan iklim yang terus berlangsung diprediksi akan memperparah kondisi ini sekaligus memberi lebah madu keunggulan kompetitif yang semakin besar atas polinator liar yang lebih sensitif terhadap suhu.

Satu-satunya catatan harapan dalam penelitian Buckle datang dari tempat yang agak tidak terduga: lebah ivy atau Colletes hederae, lebah soliter asli Inggris. Lebah ini ternyata mampu mengusir lebah madu dari bunga ivy. Mereka adalah satu-satunya spesies yang berhasil mendorong lebah madu menjauh dari makanan. Para peneliti menduga ukuran tubuh lebah ivy yang serupa dengan lebah madu, ditambah spesialisasinya pada tanaman ivy, memberi mereka keberanian dan kemampuan yang tidak dimiliki polinator kecil lainnya.

Buckle menegaskan bahwa tujuan penelitiannya bukan untuk mendemonisasi lebah madu atau menghentikan aktivitas peternakan lebah. Yang dibutuhkan adalah pengelolaan yang lebih bijak, dengan memastikan kepadatan sarang lebah madu di suatu wilayah tidak sampai pada titik di mana polinator liar tidak lagi bisa mendapat makanan yang cukup.

Lebah madu memang luar biasa penting. Tapi ekosistem yang sehat tidak bisa bergantung pada satu pemain tunggal, semewah apa pun perannya. Keberagaman adalah kuncinya, dan menjaganya berarti juga memastikan bahwa si pemain dominan tidak dibiarkan menguasai segalanya.

Baca juga artikel terkait PENEMUAN ILMIAH atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi