tirto.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Aceh mulai mewaspadai penyakit menular di titik-titik pengungsian korban banjir di sejumlah kabupaten kota yang terdampak bencana hidrometeorologi pada November 2025.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Ferdiyus, mengatakan para pengungsi korban banjir mulai terserang penyakit menular di antara inspeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gatal-gatal, dan diare.
"Kami mulai mewaspadai penyakit menular tersebut, termasuk campak. Campak ini yang kami khawatir dan kalau menular bisa menjadi kejadian luar biasa," katanya di Banda Aceh, Jumat (18/12/2025).
Untuk penyakit menular tersebut, kata dia, pihaknya sudah mengarahkan tenaga kesehatan di lapangan agar menempatkan pasien ke tenda terpisah. Serta memantau pasien dan pengungsi lainnya serta memastikan tidak ada penularan.
"Kami juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dalam menangani penyakit menular di titik-titik pengungsian serta memantau kebutuhan kesehatan masyarakat dan obat-obatan yang dibutuhkan," katanya.
Ferdiyus mengatakan pihaknya memfokuskan penanganan kesehatan di sembilan kabupaten kota terdampak bencana banjir. Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi Aceh mendirikan empat posko yang menjangkau daerah bencana
Empat posko tersebut berada di Kabupaten Pidie Jaya, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara, dan Kota Langsa. Selain posko, sebanyak 794 tenaga kesehatan terus bergerak di lapangan menangani kesehatan masyarakat terdampak bencana.
"Mereka mengunjungi titik-titik pengungsian setiap hari memastikan kesehatan masyarakat benar-benar sehat. Selain itu, juga mendistribusikan makanan tambahan bagi kelompok rentan serta balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan warga lanjut usia," katanya.
Berdasarkan data dari lapangan, kata dia, pengungsi yang terserang ISPA mencapai 10 ribuan orang, diare ada 1.300-an, dan flu mencapai 1.300-an.
"Sedangkan kebutuhan obat-obatan, kami terus mendistribusikannya ke daerah bencana. Dinas Kesehatan Provinsi Aceh juga setiap hari menerima pengiriman obat-obatan dari Kementerian Kesehatan," kata Ferdiyus.
Masuk tirto.id

































