tirto.id - Pernah tidak sih kepikiran buat detoks digital pas liburan? Atau malah baru dengar istilahnya? Jujur aja, aku sendiri belum pernah terpikir sebelumnya. Soalnya, hidupku sudah tidak bisa jauh-jauh dari dunia digital: mulai dari kerjaan, ngobrol sama teman, sampai hiburan, semuanya lewat layar.
Kita mungkin sangat akrab dengan nada notifikasi yang bunyi berulang-ulang. Namun, semua berubah ketika aku “dipaksa” untuk melakukan digital detox tanpa persiapan saat berlibur ke rumah kerabat yang lokasinya di sebuah desa di kaki gunung.
Ponsel yang biasa menyerukan nada khas notif WhatsApp atau media sosial tiba-tiba terdiam. Kita akan seperti mendapatkan silent treatment dadakan.
Awalnya tak kuhiraukan dan menganggapnya wajar, tapi seiring berjalannya waktu, tanganku mulai gatal untuk scroll TikTok dan Instagram. Rasanya memang ada yang kurang jika tidak update kabar di dunia digital.
Sayang, bar sinyal di ponsel sangatlah minimalis, bahkan kadang menunjukkan tanda silang. Tak ada sinyal, tak ada notifikasi, semuanya menghilang dan aku seolah terlepas dari dunia luar.
Sejenak, aku seperti mati gaya, tak bisa apa-apa, dan merasa hampa. Namun, Lao Tzu pernah berkata, “The usefulness of a pot comes from its emptiness”. Ketiadaan bukanlah sesuatu yang buruk, justru dari situlah muncul hal-hal yang positif. Hilangnya sinyal pun bisa jadi demikian.
Memulai Detoks Digital, Apa Itu?

Saat menyerah mencari sinyal dan berujung pada kata “ya, sudahlah”, kukira waktuku di desa ini akan membosankan. Ternyata meletakkan kembali ponsel adalah tindakan yang tepat karena aku jadi lebih peka dengan semua yang ada di sekelilingku saat itu.
Kita akan menyadari merdunya gemericik air sungai, suara samar truk pengangkut tebu di kejauhan, atau renyahnya suara tawa anak-anak tetangga yang sedang bermain entah apa di halaman rumahnya.
Bagi orang-orang di desa ini, hidup tanpa ponsel dan internet adalah hal biasa, tapi bagiku, ini adalah detoks digital yang sebenarnya aku butuhkan.
Detoks atau detoksifikasi mengacu pada penetralan atau pembersihan. Detoks digital berarti beristirahat sejenak dari segala hal yang berhubungan dengan internet, termasuk berbagai aplikasi media sosial yang biasa digunakan.
Detoks digital sebelumnya tidak pernah ada dalam kamusku, tapi studi ilmiah mengungkap bahwa aku—dan mungkin kalian juga—sebenarnya membutuhkan detoks seperti ini.
Para ahli mengatakan bahwa menghabiskan waktu di dunia digital berpotensi menimbulkan banyak masalah, mulai dari masalah tidur, kurang olahraga, rendah diri, hingga depresi. Aku sangat setuju di poin kurang olahraga karena ponsel sering “memaksaku” untuk rebahan saja.
Merasakan Manfaat Detoks Digital

Penelitian menunjukkan bahwa melepaskan diri dari layar ponsel memiliki banyak manfaat, salah satunya menurunkan tingkat stres. Menjauh dari layar otomatis membuat diri kita tidak kebanjiran berbagai informasi, termasuk berita negatif yang bisa menguras emosi.
Tanpa disadari, media sosial memang sering memicu rasa cemas karena kita merasa harus selalu tahu, atau bahkan membandingkan hidup kita dengan orang lain.
Kita akan sering mengalami hal ini, membandingkan diri dengan orang-orang yang tak dikenal, terutama saat melihat kehidupan influencer yang terlihat lebih bersinar. Semua itu jelas-jelas melelahkan secara mental.
Detoks saat liburan membuat kita terputus dari tekanan sosial tersebut. Kita mulai merasa cukup dengan realita yang kujalani tanpa harus berlomba di kehidupan online.
Detoks digital juga dianggap bisa meningkatkan produktivitas dalam hal pekerjaan. Kalau dipikir-pikir, benar juga. Entah berapa banyak pekerjaanku yang tertunda hanya karena aku sibuk tenggelam di antara video-video YouTube dan TikTok yang seolah tak ada habisnya.
Tak hanya soal kesehatan mental dan produktivitas, detoks digital juga berpengaruh besar pada kesehatan fisik. Rehat sejenak dari penggunaan ponsel mencegah kita bergadang menonton video lucu atau mendengarkan podcast yang durasinya berjam-jam.
Kita juga punya kesempatan untuk berolahraga, mengistirahatkan mata, atau sekadar meluruskan leher dan punggung yang mungkin selalu membungkuk saat sedang asyik menatap layar.
Lebih dari itu semua, pengalaman lain juga dirasakan ketika dipaksa detoks digital di desa yang tanpa sinyal. Kita mulai menyadari betapa seringnya mengabaikan hal-hal kecil yang sebetulnya begitu indah.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa hadir sepenuhnya di momen itu. Tak hanya suara alam, tapi juga mulai mendengarkan sesuatu yang lebih dalam dan berasal dari diriku sendiri.
Tanpa disadari, pikiran yang biasanya sibuk dan terburu-buru akhirnya mulai melunak. Ada ruang untuk merenung. Aku jadi ingat hal-hal kecil yang membuat bahagia, juga hal-hal yang perlu disyukuri. Rasanya seperti berbicara pada diri sendiri tanpa gangguan apa pun.
Pada akhirnya, kita akan seperti menemukan kedamaian dalam kesederhanaan, tanpa ponsel dan segala teknologi canggihnya.
Detoks Digital Ciptakan Interaksi Sosial yang Nyata

Alih-alih menyapa teman online, detoks saat liburan mendorongku untuk bersosialisasi dengan mereka yang jaraknya jauh lebih dekat denganku.
Aku mengobrol dengan kerabat dan berbagi cerita, mulai dari pekerjaan hingga sedikit bergosip tentang banyak hal. Informasi yang aku dapatkan memang tidak sekaya di internet, tapi interaksi seperti ini sangatlah mahal, terutama di era sekarang.
Sekadar menonton anak-anak bermain pun bisa membuat kedua sudut bibirku terangkat. Pikiran kembali sibuk, bukan oleh berita digital, tapi dengan riuhnya kehidupan nyata di sekitar.
Tanpa sadar, pagi berganti malam. Waktu berjalan begitu cepat, persis seperti ketika aku menikmati media sosial. Bedanya, kali ini aku tidak memegang ponsel. Tanpa internet dan smartphone, ternyata dunia masih terus berjalan dan aku pun baik-baik saja, atau mungkin lebih baik dari sebelumnya.
Detoks Digital Membawa Perubahan

Walau tak berlangsung lama, pengalaman detoks saat liburan cukup membekas dan menyadarkan diri ini tentang hal apa saja yang penting dan perlu diprioritaskan.
Jujur saja, setelah kembali ke kota dan bertemu sinyal, kebiasaan lama untuk scroll media sosial memang tak bisa hilang begitu saja, tapi setidaknya sudah mulai ada batas yang terlihat.
Aku jadi lebih sadar kapan harus berhenti dan kapan harus benar-benar hadir di kehidupan nyata tanpa distraksi dunia maya.
Pelan-pelan, pola pikirku terhadap penggunaan gadget pun ikut berubah. Dulu aku merasa harus selalu responsif, cepat menjawab pesan, dan terus mengikuti arus informasi.
Sekarang, aku tahu bahwa tidak apa-apa untuk tidak selalu hadir di media sosial, tidak apa-apa jika ketinggalan berita tertentu yang tak penting, tak perlu cemas atau FOMO. Kita tetap baik-baik saja, kok.
Kita bukan budak notifikasi, kita bisa memilih apa yang ingin kita lihat dan kapan ingin terhubung. Detoks digital mengajarkanku bahwa hidup tak harus berjalan secepat ponsel memuat halaman, bahwa ritme hidup bisa kita atur sendiri sesuai kebutuhan.
Dan dari situ, ada semacam ketenangan baru yang tumbuh. Bukan karena dunia menjadi lebih tenang, tapi karena aku belajar menciptakan ruang hening di tengah hiruk pikuknya dunia. Ruang itu, kecil tapi cukup luas untuk menampung jeda, kesadaran, dan rasa syukur.
Jadi, sudah siapkah kalian untuk detoks digital? Tak perlu pergi ke desa yang jauh, puncak gunung, atau pulau terpencil di ujung lautan untuk menghindari ramainya dunia digital.
Cukup dengan meletakkan ponsel sejenak, mematikan notifikasi selama beberapa jam, atau membiarkan diri menikmati pagi tanpa membuka layar. Semua itu sudah jadi langkah kecil yang bisa menciptakan ruang untuk diam, untuk hadir, untuk benar-benar merasakan apa yang ada di sekitar dan di dalam diri kita.
Maka, jika suatu saat sinyal hilang, jangan buru-buru panik dan merasa hampa. Bisa jadi, justru di momen itulah hati kita sedang diberi kesempatan untuk kembali menemukan apa yang penting, yakni ketenangan, kehadiran, dan koneksi yang sebenarnya.

Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id

































