Di Jakarta, Penyebaran Corona COVID-19 Masif & Rumah Sakit Penuh

Oleh: Mohammad Bernie - 20 Maret 2020
Dibaca Normal 2 menit
Jakarta paling terdampak Corona COVID-19. Tapi di sini ruangan isolasi kurang, pun dengan tenaga kesehatan.
tirto.id - Fachri Muchtar sudah berhari-hari sesak dan batuk meski telah mengonsumsi obat dari dokter. Karena sempat berinteraksi dengan warga negara asing, Fachri memutuskan menyambangi RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang merupakan rumah sakit rujukan Corona COVID-19 pada Minggu (15/3/2020) malam.

Singkat cerita, setelah dicek darah, paru-paru, dan riwayat perjalanannya, dokter menyatakan Fachri suspect alias pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19, sebuah virus yang telah merenggut nyawa ribuan orang di seluruh dunia.

"Akhirnya gua dipindahkan ke ruang khusus isolasi pasien COVID-19," kata Fachri melalui akun Twitter @fmuchtar_

Ruang isolasi itu seyogianya digunakan maksimal oleh tiga pasien, tapi hari itu ada enam orang dalam ruangan tersebut--seluruhnya suspect COVID-19. Akhirnya, Fachri bersama dua orang lain harus duduk di kursi roda. Baru pada Senin pagi ia mendapat ranjang.

Pada hari itu ada dua pasien dibawa ke rumah sakit rujukan lain. Namun, empat pasien lainnya termasuk Fachri belum bisa dipindahkan lantaran ruang isolasi di rumah sakit lainnya sudah penuh.

Fachri pun baru mendapat kesempatan untuk pengambilan sampel swab pada Senin pukul 11.00 dan hasilnya baru bisa diperoleh tiga hari kemudian. Swab adalah tes untuk membuktikan apakah ada virus COVID-19 atau tidak. Ia menggunakan jaringan sel pada hidung atau tenggorokan.

Selama menunggu, Fachri diminta untuk melakukan karantina rumah, dan jika positif ia akan langsung dijemput ambulans.


Cerita Fachri yang tak mendapat pelayanan maksimal hanya satu dari sekian banyak cerita serupa selama pandemi COVID-19 melanda Indonesia.

Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, salah satu rumah sakit rujukan lain, saat ini tengah berkejaran dengan waktu untuk menambah kapasitas ruang isolasi. Awalnya rumah sakit ini mampu menampung 11 pasien, tapi seiring dengan semakin banyaknya penderita positif COVID-19, ruangan isolasi diperluas sehingga mampu menampung 15 pasien. Direktur RSPI Sulianti Saroso,Mohammad Syahril, Kamis kemarin, mengatakan "tahap perluasan kedua mungkin sekitar 20."

Ruangan isolasi yang jumlahnya 15 itu sudah terisi penuh dengan 9 pasien positif dan 6 pasien dalam pengawasan.

Seiring dengan penambahan kapasitas, pihak rumah sakit juga mengirim permohonan penambahan tenaga kesehatan, khususnya dokter spesialis dan dokter umum ke Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Syahril tidak menyebut jumlah dokter yang ada saat ini dan jumlah yang diminta.

Menurutnya, saat ini banyak dokter yang sakit karena kelelahan akibat beban kerja yang bertambah.

Penambahan kapasitas ruangan juga dilakukan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan. Saat ini rumah sakit yang berada di kawasan Pisangan Timur Jakarta Timur itu mampu menampung 30 pasien isolasi. Diharapkan, setelah perluasan, rumah sakit itu mampu menampung 50 pasien isolasi.

"Untuk tenaga kesehatan kami menggunakan sif, dibagi menjadi tiga sif: pagi, siang, dan malam," kata Direktur Utama RSUP Persahabatan Rita Rogayah.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, mengatakan isolasi pasien positif sebenarnya tidak mesti di rumah sakit, tapi bisa di rumah masing-masing--artinya tanpa pengawasan langsung dari dokter dan perawat. Yuri mengatakan pemerintah sudah mempersiapkan pedoman isolasi, tersedia di situs resmi Kementerian Kesehatan.

Cara lain yang ditempuh pemerintah untuk mengakali semakin banyaknya orang yagn harus dirawat adalah memanfaatkan fasilitias yang sudah ada. Ini diputuskan pemerintah pusat kala mengalihfungsikan Wisma Atlet di Kemayoran adi rumah sakit darurat plus ruang isolasi.

Wisma Atlet terdiri dari 10 menara, tapi hanya empat yang dipakai. Diperkirakan akan ada ribuan pasien tertampung di sini.

Pastikan Keselamatan Dokter

Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M. Faqih mempertegas kalau saat ini rumah sakit dan tenaga kesehatan sudah kewalahan menghadapi lonjakan pasien COVID-19.


Merujuk data pada Kamis sore, jumlah pasien COVID-19 mencapai 309. DKI Jakarta menjadi provinsi dengan jumlah pasien terbanyak dengan 210 pasien, per Jumat siang pukul 12, disusul Banten dengan 27 pasien, Jawa Barat dengan 26 pasien, dan Jawa Tengah dengan 12 pasien.

Pasien meninggal akibat COVID-19 pun paling banyak berasal dari ibu kota, jumlahnya 19. Di luar itu ada Bali (1 kematian), Jawa Tengah (3), Banten (1), Jawa Timur (1), Jawa Barat (1) dan Sumatera Utara (1).

Dampak yang juga terasa dari lonjakan itu ialah alat pelindung diri (APD) yang tidak lagi cukup. Bahkan, saat ini menurut Faqih sudah ada dokter yang menangani COVID-19 tertular penyakit tersebut. Perkara ini sempat pula diungkapkan Gubernur DKI Anies Baswedan pada 14 Maret lalu.

"Oleh karena itu penting bagi kami minta alat pelindung diri itu, supaya tenaga yang sudah terbatas jangan sampai berkurang karena tertular. Karena kalau tertular tidak bertugas, malah jadi pasien," kata Faqih kepada reporter Tirto, Jumat.

Untuk mengatasi keterbatasan dokter, saat ini IDI membuka lowongan untuk mereka yang mau jadi relawan kesehatan. Ada enam jenis tenaga kesehatan yang dibutuhkan, antara lain dokter spesialis paru, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis anestesi, dokter spesialis anak, dokter umum, dan perawat.

Rencananya, mereka akan diserap dari daerah-daerah lain yang nihil kasus COVID-19 atau jumlah kasusnya relatif sedikit.

"Ada 6 jenis yang dibutuhkan jadi relawan. Kalau ditanya berapa masing-masing? kalau bisa sebanyaknya," kata dia.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Rio Apinino
DarkLight