Kisah Perawat Menyabung Nyawa Saat Rawat Pasien Covid-19

Oleh: Mohammad Bernie - 17 Maret 2020
Dibaca Normal 2 menit
Perawat RSPI Sulianto Saroso, Widyastuti, membagikan pengalamannya merawat pasien yang terjangkit Covid-19.
tirto.id - Widyastuti memperkenalkan diri kepada saya pada Senin (16/3/2020) kemarin dengan cara yang sederhana: "Saya perawat di RSPI Sulianti Saroso."

Setelah melaksanakan salah subuh, pukul 05.30, ketika matahari masih tanggung, Widya sudah beranjak dari kediamannya di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, ke tempatnya bekerja yang ada di bilangan Sunter, Jakarta Utara.

Widya selalu dapat sif pagi. Kadang ia menggunakan bis kota, lebih sering diantar sang suami. Ia sudah harus berada di rumah sakit pukul 07.30.

Ia selalu menggunakan baju biasa saat berangkat dari rumah. Begitu sampai rumah sakit, barulah baju hazmat ia kenakan. Seperangkat baju seragam ini terdiri dari mantel pelindung, sarung tangan, goggles, dan pelindung kepala.

Widya punya tugas baru sejak awal Maret ini: melayani pasien positif Corona atau COVID-19 setelah menyelesaikan administrasi keperawatan dengan perawat sif malam. Tempatnya bekerja adalah salah satu rumah sakit rujukan Corona, virus yang berasal dari Cina dan telah membunuh ribuan orang di seluruh dunia.

Ia mengaku tak khawatir meski orang yang dia rawat membawa virus berbahaya. "Insya allah aman dengan APD [Alat Pelindung Diri] dan segala macam yang harus kami ikuti sesuai prosedur," kata Widya.


Ini adalah tahun kesebelas Widya bekerja sebagai perawat. Sebelumnya ia adalah dosen di sebuah akademi keperawatan. Saat ini pun masih, tapi hanya sampingan.

Widya bekerja di ruang HIV dan Tuberkulosis sampai tahun ke-5 bekerja. Ia baru ditempatkan di ruang isolasi dalam lima tahun terakhir. Banyak virus yang telah ia hadapi sebelum Covid-19, beberapa di antaranya bahkan menurutnya lebih ganas. Sebut saja: Difteri, Ebola, MERS, dan Zika.

Sejak awal bekerja, Widya dan ratusan perawat lainnya telah dibekali dengan pemahaman soal penyakit infeksi. Semenjak bertugas di ruang isolasi, pemahaman itu dipertajam dengan simulasi tahunan yang terakhir dilakukan pada Agustus 2019.

"Kami sudah biasa seperti ini, menghadapi Ebola dan flu burung itu sama APD-nya seperti ini. Jadi ini bukan sesuatu yang baru lagi bagi kami di sini," kata Widya. Tak ada yang berbeda antara perawatan pasien Covid-19 dengan pasien lain, kata Widya.

Kendati bukan pengalaman baru, tetap saja ia harus berupaya menenangkan keluarga, khususnya dua anaknya yang masing-masing kelas 6 SD dan kelas 4 SD. Ia selalu menyampaikan bahwa dia aman dengan APD dan prosedur yang telah disusun. Widya hanya berpesan agar anak-anaknya selalu mendoakannya.

Awalnya ada 15 perawat yang bertugas di ruang isolasi. Namun, seiring semakin banyaknya yang positif Covid-19, jumlah perawat ditambah jadi 28.

Mereka bekerja dalam tiga sif. Ada 7 sampai 8 perawat yang bertugas dalam satu sif. Jadwal sif pagi itu pukul 07.30-14.30, sif sore 14.30-20.00, sif malam 20.00-07.30.

Widya sendiri bertanggung jawab atas dua pasien. Setiap hari ia akan menyambangi ruangan dua pasien itu. Di dalam ruangan, Widya akan memeriksa tanda-tanda vital pasien. Selain itu, ia juga menyiapkan makanan, memberikan obat-obatan, dan melakukan tindakan medis yang dianjurkan dokter. Bahkan jika pasien meminta bantuan untuk mandi, Widya tak segan-segan turun tangan.

Total, ia bisa menghabiskan waktu satu sampai dua jam di ruang isolasi untuk mengurus satu pasien. Itu adalah waktu maksimal yang diperkenankan bagi seseorang berada di ruang isolasi.


Kadang pasien mengeluh karena waktu perawat dianggap sangat kurang. Widya akan memberikan pemahaman kepada mereka bahwa "kami bukan tidak care, tapi memang ada waktu-waktu khusus."

Merawat Pasien dengan Hati

Widya, juga perawat lain, harus terlebih dulu melepas baju hazmatnya dan mengganti dengan yang baru sebelum beranjak ke pasien isolasi kedua. Adapun baju hazmat yang sebelumnya akan disterilkan sebelum dibuang.

Jika telah selesai mengurus dua pasien, Widya akan keluar dari ruang isolasi dan bekerja dengan seragam biasa. Namun, sebelum itu ia harus mandi terlebih dulu.

Seringkali ada pasien yang membutuhkan bantuan, padahal Widya sudah merapikan diri. Pada saat seperti itu, mau tidak mau ia akan mengenakan lagi baju hazmatnya dan masuk ke ruang isolasi sekali lagi.

"Kadang kita bisa mandi tiga kali untuk satu sif," katanya.

Widya tak cuma memenuhi kebutuhan fisik pasien. Saat pertama kali bertemu pasien positif Corona, banyak di antara mereka yang merasa cemas hingga stres. Di situ Widya juga berperan memulihkan kondisi psikologis.

Dalam setiap pemeriksaan, Widya juga selalu menyempatkan untuk berbincang dan menanyakan kabar pasien. Tak jarang pasien dan perawat bernyanyi bersama di ruang isolasi untuk mengatasi kebosanan. Widya juga kerap mendengarkan cerita pasien yang tak melulu soal penyakitnya, kadang juga soal pribadi seperti anak-anak. Widya pun seringkali bercerita tentang dua anaknya kepada pasien.

Itu semua dilakukan untuk menciptakan ikatan sehingga proses penyembuhan dapat berjalan baik.

"Kami tidak melihat mereka sebagai pasien, tapi sebagai teman. Ya mulai nanya, misalnya tentang kabar, kemudian berkomunikasi, ceritalah. Bina hubungan dengan pasien itu sudah jadi kewajiban kami," kata Widya.


Jumlah pasien Corona terus bertambah setiap harinya. Per Senin (16/3/2020) kemarin, ada 134 orang dinyatakan positif. Lima orang di antaranya meninggal dunia, sementara delapan orang dinyatakan sembuh.

RSPI Sulianti Saroso pun saat ini telah bersiaga menyiapkan tambahan ruangan jika diperlukan, termasuk peralatan medis dan jumlah perawat.

Widya berpesan agar masyarakat selalu menjalankan pola hidup sehat, termasuk mengikuti anjuran pemerintah untuk tidak keluar rumah, menjaga jarak, dan tidak mengadakan acara keramaian. Menurutnya, hal itu penting tidak hanya bagi kesehatan pribadi, tapi juga keluarga dan masyarakat.

Untuk orang-orang seperti Widya, tak ada kata lain yang bisa kita ucapkan selain semangat dan terima kasih banyak.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Maya Saputri
DarkLight