Di Balik Suntikan Modal untuk Go-Jek yang Makin Menggunung

Oleh: Ahmad Zaenudin - 22 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Google, salah satu perusahaan yang dilaporkan mendukung suntikan modal ke Go-Jek.
tirto.id - Geliat bisnis startup di Indonesia kembali menjadi sorotan dunia. Pada sebuah laporan yang ditulis Reuters, Kamis (18/1), Google dan beberapa firma investasi lainnya dilaporkan mengucurkan suntikan dana kepada Go-Jek melalui skema Private Equity Round.

Private Equity Round merupakan suatu babak pendanaan untuk memperoleh investasi secara kolektif. Umumnya, pihak-pihak yang ikut serta dalam skema ini melakukan kerja sama secara terbatas dan berjangka selama beberapa tahun.
Sesi pendanaan Private Equity Round untuk Go-Jek dimulai pada 4 Mei 2017 ini, menargetkan kucuran dana senilai US$1,2 miliar terhadap Go-Jek. Google diperkirakan berinvestasi sekitar US$100 juta.

“Sebagai investor strategis, Google dapat menambah banyak hal pada bisnis Go-Jek,” ucap seorang sumber seperti dilaporkan Reuters.

Tirto mencoba menanyakan langsung kepada pihak Go-Jek sebagai pihak yang dikabarkan mendapat suntikan dana tersebut. Melalui Rindu Ragillia, Public Relation Manager Go-Jek, sayangnya ia enggan memberikan konfirmasi soal kabar tersebut.

“Kami tidak dapat memberikan konfirmasi terkait rumor,” kata Rindu kepada Tirto.



Tiga Sesi Pendanaan

Namun, situs data startup CrunchBase punya catatan soal pendanaan Private Equity Round untuk Go-Jek yang saat ini masuk sebagai tahapan pendanaan yang ketiga. Private Equity Round yang kemudian Google ikut serta di dalamnya, merupakan Private Equity Round adalah yang kedua.

Sesi pendanaan pertama yang dilakukan Go-Jek ialah Venture Round, terjadi pada 15 Oktober 2015 lalu. Venture Round sendiri merupakan sesi pendanaan untuk mencari modal ventura dari firma-firma khusus yang berinvestasi pada startup. Dana yang diperoleh, digunakan untuk menstimulasi pengembangan dan terobosan teknologi startup.

Pada sesi pendanaan Venture Round, Go-Jek mendapat kucuran modal dari 3 firma investasi startup yang terlibat. Ketiga firma itu ialah Sequoia Capital, NSI Venture, dan DST Global. Sayangnya, tak diungkap berapa dana yang akhirnya diperoleh Go-Jek di sesi pendanaan awal.

Namun, nama-nama firma investasi startup yang terlibat, cukup menjanjikan. Sequoia Capital misalnya, firma yang didirikan pada 1 November 1972 itu telah melakukan investasi kepada 1.536 startup di seluruh dunia, sebanyak 548 investasi, posisi Sequoia Capital sebagai Lead Investor.

Ada nama-nama besar yang telah didukung Sequoia Capital, antara lain Uber, Airbnb, Zomato, hingga Reddit adalah startup yang pernah merasakan manisnya dana dari Sequoia Capital. Dengan portofolio sebanyak itu, Sequoia Capital tentu tak main-main melihat prospek Go-Jek ke depan.

Sesi pendanaan kedua terhadap Go-Jek ialah Private Equity Round. Ini terjadi pada 4 Agustus 2016 lalu. Pada sesi pendanaan kedua itu, Go-Jek secara keseluruhan memperoleh dana sebesar $550 juta. Totalnya, ada 10 firma investasi maupun perusahaan yang ikut ambil bagian dari sesi pendanaan ini. Selain didukung pula oleh firma investasi startup yang ambil bagian pada Venture Round, sesi ini kemudian didukung pula oleh Rakuten hingga Nortstart Group. Warburg Pincus dan KKR & co didaulat sebagai Lead Investor.

Sebagaimana Sequoia Capital, Warburg Pincus bukanlah firma sembarangan. Firma investasi yang telah berdiri sejak 1966 itu, telah melakukan investasi pada 236 startup. Sama hal dengan KKR & co, firma investasi yang telah berdiri sejak 1976 itu telah mengucurkan dana kepada 116 startup. Salah satu startup gemilang yang didukung KKR & co adalah Lyft, salah satu saingan terberat Uber.

Sesi pendanaan terakhir, yang kemudian Google masuk di dalamnya, merupakan Private Equity Round jilid 2. Ini didukung oleh 5 perusahaan atau firma investasi, antara lain Tencent Holdings, Temasek Holdings, Meituan-Dianping, JD.com, dan Google. Mereka menargetkan uang $1,2 miliar untuk Go-Jek, Tencent Holding sebagai Lead Investor-nya.

Private Equity Round jilid 2 dimulai oleh gerak cepat yang dilakukan Tencent Holdings pada 4 Mei 2017 lalu. Kemudian, JD.com masuk mendukung sesi pendanaan ini pada 25 Agustus 2017. Terakhir, Google berpartisipasi pada awal tahun 2018.


infografik gojek

Go-Jek dan Strategi Terjun ke Fintech


Dari 3 sesi pendanaan, tanpa memperhitungkan sesi Venture Round yang tak diungkap nilainya, Go-Jek telah memperoleh dana sekitar US$1,8 miliar atau sekitar Rp24 triliun. Uang sebanyak itu, tak hanya digunakan Go-Jek menghidupi operasional. Go-Jek pun melakukan aksi akuisisi dan investasi ke banyak perusahaan rintisan lain.

Tercatat, Go-Jek telah melakukan delapan aksi akuisisi startup. Ini dimulai dengan mengakuisisi C42 Engineering (19 Februari 2016), Pianta (22 September 2016), MV Commerce (24 Oktober 2016), Leftshift (8 November 2016), Loket (8 Agustus 2017), Kartuku (15 November 2017), Mapan (15 Desember 2017), dan Midtrans (15 Desember 2017).

Dari 8 startup yang diakuisisi itu, hanya transaksi Kartuku yang diketahui nilainya. Kartuku dibeli Go-Jek dengan mahar US$50 juta.

Dalam kerangka investasi, Go-Jek juga mengucurkan dananya pada dua startup lain yaitu Halodoc dan Pathao. Di Halodoc, Go-Jek mengucurkan investasi seri A sebesar $13 juta. Sementara pada Pathao, Go-Jek mengucurkan investasi seri A sebesar $2 juta.



Aksi akuisisi dan investasi Go-Jek umumnya untuk memperkuat bisnis inti mereka. C42 Engineering misalnya, startup yang berbasis di India itu, diakuisisi untuk mendukung Go-Jek secara teknis. Sementara itu, Halodoc diketahui mendukung layanan Go-Med dari Go-Jek.

Startup Loket, Kartuku, Mapan, hingga Midtrans, dibeli untuk mendukung bisnis layanan jasa finansial digital atau financial technology (fintech) Go-Jek. Di bidang ini, Go-Jek tak main-main.

Dari berbagai akuisisi, Go-Jek, menciptakan ekosistem terlebih dahulu antara lain memperkuat layanan-layanan yang sukses mendisrupsi bisnis konvensional sebelum mati-matian bertempur di bisnis fintech.

Go-Ride dan Go-Car misalnya. Nama yang disebut pertama adalah layanan ride-sharing yang populer di Indonesia. Setelah menyebat gelar itu, tak perlu waktu lama bagi Go-Jek menawarkan Go-Pay, yang memperkuat G-Jek di bisnis fintech.


Apa yang dilakukan Go-Jek pada bisnis fintech memberi gambaran bahwa strategi Go-Jek untuk menguasai pasar fintech lebih dulu membangun bisnis dari hulu dengan layanan ride-sharing. Di sisi lain, potensi bisnis fintech yang menarik mendorong kalangan konglomerat di Indonesia langsung berada di belakang bisnis startup dan terang-terangan terjun fintech atau bermain di sisi hilir.

Dua strategi yang berbeda dilakukan oleh para pemodal tersebut. Namun, perbankan konvensional yang selama ini menjadi sumber utama pemodalan malah terlambat merespons terjun ke fintech yang menjadi bisnis masa depan.

Baca juga artikel terkait GO-JEK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra