Para Konglomerat Indonesia Antre Terjun di Bisnis Fintech

Ilustrasi tokoh-tokoh konglomerat Fintech.
Oleh: Ahmad Zaenudin - 18 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Konglomerasi di Indonesia kini ramai-ramai memasuki bisnis fintech yang diprediksi makin menjanjikan.
tirto.id - “Semua orang punya banknya masing-masing di smartphone."

Smartphone atau ponsel pintar saat ini tak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi tapi lebih luas lagi sebagai instrumen transaksi. Secara spesifik, ponsel masa kini menjadi bagian penting pendukung apa yang disebut sebagai financial technology (fintech), yang menjadi alternatif penyedia jasa keuangan selain bank.

Ia pada suatu titik akan diperebutkan para pemain sektor keuangan fintech untuk dijadikan “kantor cabang” masing-masing. Kelebihannya bisa menjangkau lebih luas tanpa sekat-sekat dibandingkan perbankan terutama dalam konteks fintech bidang pinjam-meminjam uang.

Di luar itu, fintech memiliki cukup banyak ragam. Paling populer di bidang penyediaan layanan uang elektronik, baik dalam bentuk e-wallet maupun e-money. Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/40/PBI/2016 menyatakan bahwa e-wallet merupakan layanan elektronik untuk menyimpan data instrumen pembayaran antara lain alat pembayaran dengan menggunakan kartu dan/atau uang elektronik, yang dapat juga menampung dana, untuk melakukan pembayaran.


Dunia fintech umumnya diisi oleh para perusahaan rintisan atau startup. Namun, perusahaan besar pun tak mau ketinggalan di bisnis ini. Mulai dari membuat produk sendiri, mendirikan startup yang didukung penuh kekuatan modal mereka, ataupun aksi akuisisi dan sebagainya.

Djarum Group misalnya, konglomerasi yang dimiliki oleh Hartono bersaudara yang memiliki kekayaan $32,3 miliar ini, melalui firma penanam modal startup GDP Venture, memiliki produk fintech dengan nama Kaspay.

Kaspay merupakan sistem pembayaran online yang dibuat oleh PT Darta Media Indonesia, bagian dari GDP Venture. Layanan ini sekilas menyerupai Paypal, salah satu pelopor di dunia fintech. Kaspay, hingga saat ini belum tersedia dalam bentuk aplikasi smartphone. Namun, ia dapat diakses melalui beberapa layanan pesan instan seperti Telegram, Line, Facebook Messenger, dan aplikasi pesan instan turunan Kaskus, yaitu Kaskus Chat yang berada di bawah grup yang sama.

Selain melalui GDP Venture, Djarum Group pun memasuki dunia fintech melalui Bank BCA. Masuknya Djarum Group ke dunia fintech melalui Bank BCA memang tak mengherankan. Saat kini, 54,94 persen saham bank BCA dikuasai PT Dwimuria Investama Andalan, perusahaan yang dimiliki Hartono bersaudara.

Melalui BCA, Djarum punya produk fintech bernama Sakuku, suatu layanan e-wallet yang dapat digunakan menyimpan uang hingga Rp10 juta. Sakuku kali pertama diluncurkan pada September 2015 lalu dan tersedia di Android maupun iPhone.





Bank BCA diperkirakan semakin agresif masuk ke ranah fintech. Pada Januari 2017 Bank BCA meluncurkan aplication programming interface (API) untuk menghubungkan sistem perbankan miliknya dengan dunia e-commerce. Selain itu, BCA diketahui mendirikan Central Capital Venture, firma penanaman modal startup, dengan modal $15 juta.

Selain Djarum Group, Lippo Group pun ikut mencoba terjun ke bisnis fintech. Konglomerasi yang digawangi oleh Mochtar Riady ini mengandalkan Ovo, layanan e-wallet yang berada di bawah bendera PT Visionet Internasional.



Selain memberikan layanan fintech melalui aplikasinya sendiri, Ovo diketahui bekerja sama dengan Grab menghadirkan layanan e-wallet dengan nama GrabPay. Langkah ini dilakukan Grab lantaran GrabPay tak kunjung memperoleh izin dari otoritas di Indonesia. Sementara Ovo, merujuk daftar yang dikeluarkan Bank Indonesia, merupakan satu dari 27 perusahaan pemilik izin e-wallet.

Selain bekerja sama dengan Grab, Ovo punya keunggulan lain. Ini terutama terkait dengan anak-anak usaha Lippo Group. Menggunakan layanan Ovo, pengguna dapat memperoleh harga khusus bila memanfaatkan fasilitas layanan seperti pembayaran di Maxx Coffee, Foodmart, Siloam Hospital, First Media, Cinemaxx, ataupun anak usaha Lippo lainnya.

Selain Ovo, sepak terjang Lippo Group di dunia fintech semakin serius dengan menggelontorkan modal awal pada Call Level, sebuah startup fintech asal Singapura. Call Level merupakan fintech dengan tujuan utama sebagai aplikasi pelacak pasar keuangan berbasis kecerdasan buatan. Selain melalui Call Level, Lippo punya Venturra Capital, sebuah firma penanam modal startup.

Venturra Capital terbilang agresif. Pada Desember 2015 lalu mereka memberikan pendanaan sebesar $13,8 juta pada BitX yang kemudian mengganti nama menjadi Luno. Luno merupakan layanan dompet Bitcon, digunakan sebagai media transaksi menggunakan uang kripto yang saat ini sedang naik daun.



Konglomerasi lain yang tengah memasuki dunia fintech ialah Salim Group. Grup bisnis yang dikendalikan Anthony Salim ini punya layanan fintech bernama i.Saku. i.Saku meluncur di bawah naungan PT Inti Dunia Sukses, perusahaan yang berada di bawah Indoritel, sub-usaha Salim Group yang mengurusi bisnis toko modern mereka seperti Indomaret.

Selain melalui i.Saku, Salim Group memasuki dunia fintech dengan bekerjasama dengan Liquid Inc, suatu perusahaan asal Jepang. Rencananya, kerja sama ini akan menghasilkan layanan pembayaran berbasis sidik jari atau fingerprint payment.

Grup besar lainnya yang mengincar manisnya fintech yaitu Emtek Group. Konglomerasi yang menaungi Indosiar dan SCTV milik Eddy Kusnadi Sariaatmadja ini pada Mei 2017 sukses mengakuisisi Doku, layanan e-wallet termasuk yang paling awal hadir di Indonesia. Doku didirikan oleh PT Nusa Satu Inti Artha pada 2007 lalu. Di toko aplikasi Google, aplikasi Doku sudah diunduh dalam rentang antara 500 ribu hingga 1 juta kali.

Selain melalui Doku, kiprah Emtek di dunia fintech dilakukan melalui Espay. Espay merupakan layanan payment gateway yang didirikan oleh PT Pembayaran Lintas Usaha Sukses. Payment gateway ini umumnya dimanfaatkan berbagai layanan e-commerce mempermudah sistem pembayaran. Posisi Espay yang ada dalam genggaman Emtek jadi suatu yang tak mengherankan. Ini karena mereka memiliki Bukalapak, salah satu e-commerce terbesar di Indonesia.


Sinar Mas Group, grup raksasa milik Eka Tjipta Widjaja ini melalui Bank Sinarmas mampu melahirkan Simobi, aplikasi e-wallet. Sinar Mas juga bekerjasama dengan PT Mitrausaha Indonesia mengembangkan Modalku, sebuah aplikasi peer-to-peer lending. Sinar Mas bersama PT. Pasar Dana Pinjaman mendukung Danamas, sebagai aplikasi yang juga peer-to-peer lending atau platform pinjam meminjam uang secara online.

Masuknya sejumlah konglomerasi ke dunia fintech memang tak mengherankan. Sektor fintech di bidang sistem alat pembayaran saja diprediksi akan menghasilkan pendapatan hingga $2,3 triliun per tahun di dunia.

Namun, tentu saja grup-grup besar itu tak bisa dengan mudah menguasai dunia baru dalam bidang keuangan ini. Mereka harus bersaing dengan 188-196 pemain fintech di Indonesia hingga 2017 lalu. Ini persaingan yang tak mudah tapi sangat menjanjikan.

Ekspansi bisnis para konglomerasi bisnis ini tak menutup kemungkinan akan melahirkan aksi akuisisi-akuisisi baru di dunia fintech terhadap perusahaan rintisan, dan bakal tak terhindarkan adanya persaingan sengit di antara mereka untuk berebut pasar.

Baca juga artikel terkait FINTECH atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight