Menuju konten utama

Densus 88 Sebut 22 Pelajar di Jawa Tengah Terpapar Paham Radikal

Kini, pendekatan pencegahan radikalisme lewat edukasi dinilai mendesak sehingga mereka menggandeng Kesbangpol hingga sekolah untuk langsung ke pelajar.

Densus 88 Sebut 22 Pelajar di Jawa Tengah Terpapar Paham Radikal
Kanit Idensos Satgas Wil Jateng Densus 88, Kompol Lugito Gopar, sedang berbicara di hadapan pelajar dalam kegiatan Meet & Greet Densus di SMAN 6 Semarang, Selasa (10/2/2026). FOTO/Istimewa

tirto.id - Densus 88 Antiteror Polri mengungkap temuan puluhan pelajar di Jawa Tengah terpapar paham radikal dan terorisme dalam kurun 2025–2026.

"Anak yang masih sekolah di Jawa Tengah ini ada 22 anak,” kata Kanit Idensos Satgas Wil Jateng Densus 88, Kompol Lugito Gopar, usai kegiatan Meet & Greet Densus di SMAN 6 Semarang, Jawa Tengah, Selasa (10/2/2026).

Menurut dia, 22 anak tersebut sudah masuk proses pembinaan. Pembinaan dilakukan di berbagai lokasi, yakni Pekalongan, Pemalang, Tegal, Banyumas, Semarang, Magelang, Solo, Jepara, hingga Kudus.

Gopar menyebut, media sosial menjadi pintu masuk utama paparan tersebut. Anak-anak ini terhubung dengan konten dan kelompok yang mengarah pada kekerasan.

“Rata-rata terpengaruh dari sosial media. Dari grup-grup kekerasan, terus mereka ikut dalam grup-grup,” ujarnya.

Temuan ini tak berdiri sendiri. Densus juga mencatat tren intoleransi dan terorisme di Jawa Tengah menunjukkan pola baru. Sasarannya makin muda, dengan pelajar sebagai target potensial.

“Ini luar biasa untuk di Jawa Tengah tentang bahayanya sosial media,” kata Gopar.

Dalam beberapa waktu terakhir, Densus 88 juga melakukan penegakan hukum di sejumlah wilayah. Purworejo, Brebes, Tegal, hingga Semarang menjadi lokasi penindakan.

Dari penindakan itu, terungkap adanya perekrutan anak sekolah. Ruang digital dimanfaatkan untuk menyasar pelajar yang masih labil secara psikologis.

Selama ini, pembinaan dilakukan dengan melibatkan orang tua. Sekolah belum masuk secara langsung dalam proses tersebut.

Namun, pola itu mulai dievaluasi. Densus kini membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah agar pencegahan bisa masuk ke lingkungan sekolah.

“Sekarang kita bisa bekerja sama dengan provinsi, dengan Kesbangpol provinsi, untuk menyampaikan sosialisasi pencegahan intoleransi dan radikalisme anak di Jawa Tengah,” ujarnya.

Densus meyakini, pendekatan pencegahan lewat edukasi dinilai mendesak sehingga kini menggandeng Kesbangpol, Dinas Pendidikan, sekolah-sekolah, untuk menyasar langsung pelajar.

Langkah ini diharapkan menutup celah sejak dini. Bukan hanya lewat penindakan, tapi juga lewat literasi dan pendampingan berkelanjutan di dunia pendidikan.

Pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah, Kusno, menyebut isu radikalisme dan terorisme memang tak bisa dianggap sepele di dunia pendidikan.

Ia mendukung kehadiran Densus 88 ke sekolah-sekolah untuk menyosiaslisasikan bahaya intoleransi, radikalisme, terorisme di kalangan pelajar. SMAN 6 Semarang menjadi pilot project.

Setelah ini acara serupa akan digelar di enam kabupaten/kota di Jawa Tengah. “Nanti insyaallah ada enam kabupaten kota dulu. Dari situ akan berkembang lagi,” lanjut Kusno.

Dia menyebut semua sekolah perlu disasar. Namun, demi efisiensi, nantinya akan dibuat diseminasi, sehingga tidak harus berkunjung ke semua sekolah.

Asisten Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Jawa Tengah, Iwanudin Iskandar, mengatakan pemerintah perlu terlibat dalam kegiatan ini. Bukan hanya soal keamanan, tapi juga masa depan generasi muda.

“Pemerintah provinsi mempunyai kepentingan untuk mengedukasi, memberikan pendidikan dan ilmu yang cukup mengenai bahaya terorisme dan radikalisme, terutama bagi anak-anak SMA,” kata Iwanudin.

Menurut dia, isu ini berkaitan langsung dengan masa depan anak-anak dan kondusivitas wilayah. Negara harus hadir sejak awal agar masalah tidak berkembang lebih jauh.

“Kita punya kepentingan supaya negara ini damai, tidak terpecah belah,” ujarnya.

Iwanudin menyinggung contoh negara lain yang terpecah karena konflik identitas. Indonesia, kata dia, justru punya fondasi kuat. “Kita punya banyak suku, tapi juga punya Pancasila dan UUD 45. Itu kekuatan kita,” ucapnya.

Baca juga artikel terkait RADIKALISME atau tulisan lainnya dari Baihaqi Annizar

tirto.id - Flash News
Kontributor: Baihaqi Annizar
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Andrian Pratama Taher