tirto.id - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen (Purn) Eddy Hartono, mengungkapkan bahwa sebanyak 112 anak terpapar paham radikalisme sepanjang tahun 2025 melalui media sosial hingga permainan daring (game online).
Anak-anak tersebut teridentifikasi berinteraksi dengan konten bermuatan radikal terorisme, mengalami kerentanan psikologis remaja, terlibat dalam fenomena lone actor anak, hingga direkrut melalui ruang digital tanpa pertemuan fisik.
Menurut Eddy, proses radikalisasi terhadap anak dan remaja saat ini berlangsung jauh lebih efektif dan cepat dengan memanfaatkan media sosial dibandingkan metode radikalisasi konvensional sebelum era digital. Melalui ruang digital, proses tersebut hanya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga enam bulan.
“Jika dibandingkan dengan metode radikalisasi konvensional yang sebelumnya membutuhkan waktu dua hingga lima tahun, kini melalui media online atau ruang digital hanya diperlukan waktu tiga sampai enam bulan,” ujarnya dalam acara Pernyataan Pers Akhir Tahun & Perkembangan Tren Terorisme Indonesia yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme di Hotel Pullman Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025).
Ia menjelaskan bahwa proses keterpaparan umumnya diawali dari interaksi sederhana, seperti memberikan tanda suka (likes), membagikan konten (share), serta durasi tontonan (watch time). Selanjutnya, algoritma platform digital secara otomatis menyajikan konten serupa, sehingga anak terpapar secara berulang hingga akhirnya mempercayai narasi yang disampaikan.
“Contohnya, ketika seseorang sering mengakses konten tentang perang Suriah atau Irak di YouTube, maka semakin sering ia mengakses, semakin terbentuk pola dan pemahamannya,” jelas Eddy.
Lebih lanjut, Eddy, yang juga mantan Kepala Densus 88 Polri ini, menyoroti permainan daring sebagai salah satu medium yang dimanfaatkan dalam proses radikalisasi anak. Ia menyebutkan bahwa fitur private chat dalam game online berpotensi digunakan untuk metode yang dalam psikologi dikenal sebagai digital grooming.
Menurutnya, proses tersebut dimulai dari membangun kepercayaan, menciptakan kedekatan emosional, hingga menyamakan minat dan hobi dengan korban. Setelah itu, korban diarahkan ke grup media sosial seperti Instagram atau WhatsApp, di mana terjadi proses normalisasi perilaku melalui doktrinasi ideologi tertentu.
“Di situlah kemudian dilakukan normalisasi perilaku, yakni dengan doktrinasi nilai-nilai tertentu, termasuk nilai-nilai ISIS,” ujarnya.
Untuk merespons tantangan tersebut, BNPT terus mengoordinasikan dan melaksanakan berbagai program pencegahan, di antaranya Sekolah Damai, Kampus Kebangsaan, serta penguatan peran Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di 36 provinsi di Indonesia.
Sebelumnya, BNPT sendiri mencatat sepanjang tahun 2025, dinamika terorisme di Indonesia menunjukkan pergeseran pola dari ancaman fisik menuju penyebaran ideologi melalui ruang digital. Fenomena ini dibuktikan dengan temuan konten bermuatan intoleransi, radikal, terorisme (IRT) sebanyak 21.199 konten yang didominasi oleh konten propaganda, konten pendanaan serta konten perekrutan.
Temuan di atas diperkuat dengan Kajian Tren Terorisme Indonesia 2023–2025 yang disusun oleh I- KHub BNPT dan mitra internasional seperti Hedayah. Dalam laporan tersebut mencatat peperangan ideologi bergeser ke ruang privat anak-anak melalui ruang digital meskipun serangan fisik sudah terkendali.
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id

































