Menuju konten utama

Defisit APBN Tembus 0,93% terhadap PDB di Maret 2026

Pelebaran defisit disebabkan rendahnya realisasi pendapatan dibandingkan belanja negara di kuartal pertama 2026.

Defisit APBN Tembus 0,93% terhadap PDB di Maret 2026
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara Indonesia Fiscal Forum 2026. tirto.id/Hendra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Maret 2026 mengalami pelebaran. Nilainya mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp99,8 triliun atau 0,41 persen terhadap PDB.

Pelebaran defisit ini dipicu oleh pertumbuhan belanja negara yang jauh melampaui pendapatan. Dalam paparan APBN KiTa edisi April 2026, Kementerian Keuangan mencatat pendapatan negara baru mencapai Rp574,9 triliun, atau 18,2 persen dari target APBN 2026, dengan pertumbuhan 10,5 persen secara tahunan. Sebaliknya, belanja negara sudah menyentuh Rp815,0 triliun atau 21,2 persen dari pagu, melonjak 31,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi pendapatan, penerimaan pajak masih menjadi penopang utama. Hingga akhir Maret 2026, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp394,8 triliun, tumbuh 20,7 persen secara tahunan dan setara 16,7 persen dari target APBN.

Namun, kinerja kepabeanan dan cukai tertahan. Realisasinya tercatat Rp67,9 triliun atau 20,2 persen dari target, turun 12,6 persen secara tahunan. Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp112,1 triliun atau 24,4 persen dari target, tetapi masih turun 3,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun penerimaan hibah relatif kecil, hanya Rp0,1 triliun.

Secara keseluruhan, penerimaan perpajakan mencapai Rp462,7 triliun atau 17,2 persen dari target, tumbuh 14,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sisi belanja, lonjakan terutama berasal dari belanja pemerintah pusat. Hingga akhir Maret 2026, realisasinya mencapai Rp610,3 triliun atau 19,4 persen dari pagu, meningkat 47,7 persen secara tahunan. Rinciannya, belanja kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp281,2 triliun atau 18,6 persen dari target, naik 43,4 persen. Sementara belanja non-K/L mencapai Rp329,1 triliun atau 20,1 persen dari target, tumbuh 51,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Berbeda dengan belanja pusat, transfer ke daerah justru mengalami penurunan. Realisasinya tercatat Rp204,8 triliun atau 29,5 persen dari target, turun 1,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp207,1 triliun.

Seiring itu, keseimbangan primer tercatat defisit Rp95,8 triliun, berbalik dari surplus Rp21,9 triliun pada Maret 2025. Sementara pembiayaan anggaran mencapai Rp257,4 triliun, naik tipis 1,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca juga artikel terkait APBN atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana