tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai pemerintah sejatinya bisa saja membuat defisit sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 menjadi nol persen dengan memangkas anggaran belanja pemerintah pusat.
Namun, langkah tersebut berisiko membuat perekonomian Indonesia “morat-marit” atau porak-poranda.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya merespons defisit sementara APBN 2025 yang melebar menjadi Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan defisit yang ditetapkan dalam outlook Laporan Semester (Lapsem), yakni Rp662 triliun atau 2,78 persen terhadap PDB.
“Sebenarnya kalau saya buat nol defisitnya juga bisa. Saya potong anggarannya, tapi ekonominya morat-marit. Jadi, ini adalah kepiawaian teman-teman Kementerian Keuangan untuk memastikan ekonominya bisa bertumbuh terus, tanpa mengorbankan sisi kehati-hatian dari fiskal,” ujarnya dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Januari 2026 di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).
Meski mengalami pelebaran, Purbaya menegaskan pemerintah tetap menjaga agar defisit tidak melampaui batas 3 persen dari PDB, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
“Ini adalah standar yang masih strict, yang paling ketat. Jadi, kita mengacu ke sana terus, walaupun keadaan agak menekan kita,” sambungnya.
Menurut Purbaya, pelebaran defisit sementara APBN 2025 terjadi karena realisasi belanja negara yang jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan negara. Kondisi tersebut tidak terlepas dari pelambatan ekonomi nasional sepanjang tahun lalu akibat tekanan global.
Untuk menjaga APBN tetap berada dalam koridor yang aman, pemerintah menerapkan prinsip belanja adaptif dengan menggelontorkan berbagai stimulus guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Ini untuk menyejahterakan rakyat. Capaian program prioritas serta tata kelola yang terjaga, selama ini kita jaga terus, sehingga di akhir tahun defisit seperti saya bilang tadi, tetap di 2,9 persen tanpa menghilangkan stimulus yang diperlukan oleh perekonomian. Sehingga, masyarakat kita tetap bisa menikmati ekspansi ekonomi di tahun 2025 yang lalu,” tutur dia.
Seiring membaiknya kondisi ekonomi nasional, Purbaya optimistis defisit fiskal pada tahun mendatang dapat ditekan ke level yang lebih rendah.
“Dengan dampak pertumbuhan ekonomi ke masyarakat yang lebih besar dibanding tahun lalu. Tahun ini kan … tahun ini kita asumsikan pertumbuhan ekonominya 5-4 persen, tapi kita akan coba tekan ke level yang lebih tinggi lagi,” pungkasnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































