tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 mencapai Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan defisit yang ditetapkan dalam outlook Laporan Semester (Lapsem) sebesar Rp662 triliun atau 2,78 persen terhadap PDB.
Menurut Purbaya, pelebaran defisit terjadi akibat lonjakan belanja negara pada 2025, di tengah tekanan yang masih membayangi pendapatan negara.
“Kalau kita lihat di presentasi dari APBN-nya yang pendapatan negara kan (realisasi sementara) hanya 91 (persen), sedangkan (realisasi sementara) belanja 95,3 (persen). Anda pasti nanya kenapa nggak dipotong belanjanya supaya defisitnya tetap kecil?” aku Purbaya dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).
Secara rinci, hingga akhir 2025 pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari outlook sebesar Rp2.865,5 triliun. Pendapatan tersebut berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp2.217,9 triliun atau 89 persen dari outlook, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp534,1 triliun atau 104,0 persen dari outlook, serta penerimaan hibah sebesar Rp4,3 triliun atau 733,3 persen dari outlook.
Sementara itu, realisasi sementara belanja negara sepanjang 2025 mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari outlook sebesar Rp3.527,5 triliun. Belanja tersebut terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp2.602,3 triliun atau 96,3 persen dari outlook dan transfer ke daerah (TKD) sebesar Rp849 triliun atau 92,3 persen dari outlook.
Purbaya menjelaskan, tekanan ekonomi yang masih berlangsung membuat pemerintah perlu terus memberikan stimulus guna menjaga momentum pertumbuhan. Oleh karena itu, defisit yang timbul dalam pelaksanaan APBN 2025 dinilai tidak membahayakan perekonomian.
“Kita tahu kan, ketika ekonomi kita sedang mengalami downturn, turun, bahwa kita harus memberikan stimulus ke perekonomian. Ini wujud dari komitmen pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap bertumbuh secara berkesinambungan, tanpa membahayakan APBN. Walaupun defisitnya membesar ke Rp695,1 triliun, itu lebih tinggi dibanding (outlook) APBN yang sebesar Rp662 triliun,” jelas Purbaya.
Meski belanja pemerintah pusat meningkat, pemerintah memastikan defisit tetap terkendali dan tidak melampaui batas 3 persen dari PDB.
“Defisitnya memang naik ke 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen. Ini tadi dengan misi untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi. Inilah kebijakan real dari counter-cyclical yang sering saya bilang selama ini,” tukas dia.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































