tirto.id - Chief Operating Officer (COO) Danantara/Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, mengatakan terdapat penurunan nilai aset (impairment) hingga Rp100 triliun yang terjadi di antara perusahaan berpelat merah. Hal ini diketahui saat BP BUMN-Danantara membenahi tata kelola dan transparansi laporan keuangan perusahaan pelat merah.
Langkah itu dinilai krusial untuk dilakukan seiring dengan proses pembersihan buku-buku keuangan BUMN serta penyelesaian proses impairment yang bermasalah sebelum laporan keuangan Danantara difinalisasi dan dipublikasikan pada pertengahan 2026.
"Anda bisa bayangkan pada tahun ini saja Impairment hampir Rp100 triliun akibat kesalahan tata kelola," ucapnya dalam keterangan resmi, Kamis (21/6/2026).
"Tahun ini saya harus menyelesaikan lagi potential default dan exposure kita dana pensiun kurang lebih Rp50 triliun," lanjut dia.
Dony mengatakan pihaknya memang harus mengubah pengelolaan perusahaan berpelat merah agar pengelolaan aset negara menjadi lebih transparan dan akuntabel. Akar masalah dari beban keuangan yang terjadi selama ini disebut bersumber dari tata kelola yang tidak baik.
Katanya, karut-marut laporan keuangan BUMN sering kali dipicu oleh praktik manipulasi atau rekayasa keuangan demi memoles kinerja di permukaan. Akibatnya, negara dan perusahaan disebut harus menanggung kerugian besar karena faktor kelalaian manajemen maupun tindakan melanggar hukum.
"BUMN harus berubah, harus bertransformasi menjadi lebih transparan dikelola menjadi lebih baik," ujarnya.
"Kesalahan yang terjadi akibat empat hal. Financial engineering tujuannya performance terlihat lebih baik. Karena investasi yang digelembungkan dan dibesar-besarkan. Rugi karena keteledoran dalam me-manage atau rugi karena fraud," lanjut dia.
Dony mengatakan, dampak dari lemahnya tata kelola itu tercermin pada lonjakan nilai impairment aset BUMN yang menyentuh angka fantastis. Tak hanya itu, sektor dana pensiun (dapen) BUMN disebut menjadi sorotan tajam karena menyimpan bom waktu berupa potensi gagal bayar (potential default) yang besar.
Ia menambahkan manajemen Danantara dan BP BUMN memilih untuk menyelesaikan laporan keuangan setelah seluruh pos keuangan BUMN yang bermasalah ditertibkan dan dihitung ulang.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id







































