Menuju konten utama

Danantara Akui Belum Ada Kejelasan Akuisisi 50 Pesawat Boeing

Boeing juga belum memberikan kepastian terkait berapa banyak armada pesawat yang dapat mereka kirimkan kepada Indonesia.

Danantara Akui Belum Ada Kejelasan Akuisisi 50 Pesawat Boeing
Exclusive Group Interview, di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026). tirto.id/Qonita Azzahra

tirto.id - Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk membeli 50 pesawat yang diproduksi oleh The Boeing Company sebagai kesepakatan atas perjanjian dagang Agreement on Reciprocal Tariff (ART) dengan Amerika Serikat (AS).

Meski begitu, Senior VP Public Affairs and Advocacy Danantara Indonesia, Michael Say, mengaku belum ada kejelasan soal teknis, terkait soal sumber pendanaan dalam impor pesawat dari produsen pesawat dari AS ini.

“Belum ada pembahasan sampai sana,” ujar dia singkat, dalam Exclusive Group Interview, di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026).

Meski begitu, Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menilai, pada dasarnya sumber pendanaan untuk impor 50 pesawat Boeing bisa dari manapun, tidak hanya harus dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun dari injeksi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), melainkan juga bisa berasal dari pinjaman.

Dalam hal ini, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, sebagai pemborong, bisa saja mencicil biaya pembelian 50 pesawat tersebut kepada Boeing. Namun yang lebih penting, masalah sumber pendanaan ini juga lah yang harus dibawa Garuda dan pemerintah Indonesia dalam negosiasi lanjutan bersama Boeing.

Source of fund itu kan bisa macam-macam ya, tadi cuma nyebut dua. ini bukan kita akan ke sana, tapi kan supliers credit juga ada kan? Boeing, kita juga bisa nyicil ke Boeing kan? Itu semua negosiasi yang harus dilakukan,” tutur Rohan.

Namun, saat ini yang menjadi masalah dalam rencana impor 50 pesawat ini adalah terkait jadwal pengiriman armada oleh Boeing. Menjadi salah satu dari dua produsen pesawat di dunia, membuat masa tunggu pemesanan pesawat di Boeing cukup lama. Apapun itu jenis pesawat yang akan dipesan oleh Indonesia.

“Semua kendalanya juga satu, delivery time kan? Bukan milih jenis aja, delivery time kan? Mau milih jenis pesawat yang mana, kalau delivery time-nya juga nggak segera, kita juga harus putar otak dulu kan?” akunya.

Padahal, Indonesia membutuhkan pesawat-pesawat itu lebih cepat dari 7 tahun. “Karena masih bahas, bahas kita … maksudnya, kita calon pembeli, bukan kita belum bayar atau apa, bukan. Sifatnya berbeda. Karena kita bilang, kita butuh lebih cepat dari 7 tahun. Nunggu, 7 tahun nunggunya, antre rata-rata. Seluruh dunia sama,” tambah Rohan.

Di sisi lain, dalam pembahasan yang masih berada pada level pemerintah, Boeing juga belum memberikan kepastian terkait berapa banyak armada pesawat yang dapat mereka kirimkan kepada Indonesia.

“Ya, teknis kan? Artinya, kan kita siap membeli 50, Boieng belum menjawab atau akan menjawab dia mampunya 10 kah? atau berapa, itu belum,” pungkas Rohan.

Baca juga artikel terkait DANANTARA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher