tirto.id - Amerika Serikat (AS) secara resmi mengundurkan diri dari keanggotaannya di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per Kamis (22/1/2026). Hal ini telah dinyatakan Donald Trump melalui Keputusan Presiden AS Nomor 14155. Apa saja dampaknya?
Dengan berakhirnya status keanggotaan AS di WHO, kini Trump telah menginstruksikan penghentian transfer dana, dukungan, dan sumber daya AS ke WHO. Selain itu, personel dan kontraktor AS di WHO juga kini ditarik keluar dari organisasi internasional tersebut.
Dalam pernyataan publik Gedung Putih pada Selasa (20/1/2026), penarikan diri tersebut dilakukan AS berdasar dua alasan utama.
Pertama, WHO dianggap telah gagal dalam mengelola upaya penghentian wabah Covid-19 pada 2020 lalu. Kedua, AS menilai WHO tidak independen karena tidak berpihak kepada AS kendati negara tersebut merupakan donatur utama WHO.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS memberikan pernyataan anonim kepada CNN pada Kamis (23/1/2026), menyebut bahwa keputusan itu diambil karena WHO "tidak memberikan keuntungan terhadap nilai kami, uang kami, dan personel yang kami berikan".
Menurut pejabat itu, WHO "telah bertindak bertentangan dengan kepentingan AS dalam melindungi masyarakat Amerika". Ia juga menyinggung bagaimana WHO tak pernah menunjuk AS sebagai direktur jenderalnya.
Pemerintahan Trump juga menarik diri dari 66 organisasi internasional pada awal Januari lalu dengan alasan yang kurang lebih sama.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut keputusan ini sebagai "lose-lose solution". Pasalnya, mundurnya AS membuat seluruh dunia terancam krisis kesehatan.
"AS kalah, dan seluruh dunia, kita tahu pasti, [juga] kalah," katanya.
Namun, apa saja sebenarnya dampak dari keputusan AS keluar dari WHO?
Dampak Mundurnya AS dari WHO
Federasi Asosiasi Kesehatan Masyarakat Dunia (WFPHA), yang selama ini jadi salah satu mitra resmi WHO, membuat pernyataan pada Selasa mengenai dampak panjang mundurnya AS dari WHO. Dijelaskan, keputusan itu melemahkan upaya pengentasan krisis kesehatan global.
Disebutkan WFPHA, AS sejauh ini menjadi penyumbang terbesar WHO dengan 15 persen anggarannya berasal dari Amerika. Langkah AS untuk mundur disebut akan langsung terlihat dari anggaran WHO yang terpotong secara signifikan.
WHO yang kini menangani berbagai jenis epidemi di berbagai wilayah di dunia akan mulai mengetatkan upayanya. Contohnya, jelas WFPHA, adalah penyediaan obat HIV di beberapa negara Afrika.
Negara-negara di kawasan sub-sahara Afrika kini hidup di tengah epidemi HIV. Sekitar 67 persen penduduk di kawasan itu menderita HIV. Keputusan AS disebut "bisa membalikkan kemajuan selama puluhan tahun" dalam upaya pengentasan HIV di sana.
Selain itu, keputusan AS juga membuat negara tersebut keluar dari Badan Negosiasi Antarpemerintah (INB) yang selama ini jadi forum negara anggota WHO guna merumuskan instrumen internasional terkait kesehatan global. Tanpa adanya AS, WFPHA menilai langkah koordinatif global dalam merespons pandemi tak akan efektif.
INB merupakan badan yang krusial dalam penanganan Covid-19 secara global. Forum ini telah menjembatani ketimpangan teknologi vaksin dan membuat negara berkembang seperti Indonesia dan Brasil dapat memiliki akses pada produk vaksin negara maju melalui Pathogen Access and Benefit Sharing (PABS).
Tak hanya terkait pendanaan, WFPHA juga menilai langkah AS akan membahayakan prinsip multilateralisme yang selama ini digunakan untuk merespons krisis kesehatan global. Secara sederhana, prinsip tersebut adalah prinsip untuk bekerja secara kolektif dan kolaboratif.
"Sistem multilateral secara historis memainkan peran penting dalam mencegah konflik, mitigasi krisis sosial, dan menyokong kelompok rentan. Misalnya, pemberantasan cacar oleh WHO pada 1980 dan upaya memerangi polio, merupakan bukti kekuatan kolaborasi internasional," tulis WFPHA dalam situs resminya, Selasa (20/1/2026).
WFPHA menyatakan bahwa keputusan AS merupakan "kemunduran yang signifikan bagi kesehatan global". Menurut mereka, "tantangan global memerlukan solusi global, dan WHO tetap menjadi lembaga penting dalam upaya ini".
Sementara itu, kritik atas keputusan keluar dari WHO juga ramai disampaikan para peneliti dan ahli kesehatan di dalam AS sendiri. Salah satunya adalah Infectious Disease Society of America.
Presiden Infectious Disease Society of America, dr. Ronald Nahass, menyatakan keputusan AS keluar dari WHO membuat negara adidaya itu buta terhadap potensi ancaman biologis di kemudian hari.
"[Keputusan ini] merupakan pengabaian yang picik dan salah arah terhadap komitmen kesehatan global kita. Kerja sama dan komunikasi global sangat penting untuk menjaga warga negara kita terlindungi karena kuman tidak mengenal batas negara," katanya.
Nahass menyebut keputusan ini sebagai langkah yang ceroboh secara ilmiah. Menurutnya, kerja sama global dalam krisis kesehatan "bukan sebuah pilihan, ini adalah kebutuhan biologis".
Hal serupa juga disampaikan peneliti penyakit menular, Michael Osterholm dari Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular Universitas Minnesota. Osterholm menilai kebijakan ini akan membuat AS tak siap menghadapi wabah di kemudian hari.
Misalnya, AS akan memiliki kendala untuk mengakses data epidemiologi secara cepat dan penuh, termasuk terkait sampel virus dan data pengurutan genom dalam pembuatan vaksin dan pengobatan.
"Dan kita tidak akan dapat bekerja secara internasional untuk mengekang ancaman kesehatan yang serius sebelum ancaman tersebut tiba di negara kita. Ketika pandemi berikutnya melanda (dan akan terjadi), Amerika Serikat tidak akan siap dan respons kita akan lambat dan lemah," tutur Osterholm.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































