tirto.id - Rencana Basuki Tjahaja Purnama alias BTP menjadi direktur utama salah satu perusahaan negara bukan hanya dipermasalahkan PA 212, tapi juga Dahlan Iskan yang merupakan bekas bos BUMN.
Awalnya Dahlan mengapresiasi rencana ini jika memang dasarnya adalah prestasi BTP. Namun menurutnya satu-satunya prestasi mantan Gubernur DKI ini hanya membuat kehebohan.
Menurutnya ini kontradiktif dengan syarat BUMN agar sukses: ketenangan. Karenanya dia menilai penunjukan BTP adalah "perjudian besar."
"Apakah BUMN sebuah perusahaan yang layak diperjudikan? Tergantung pemiliknya. Mungkin saja sang pemilik menilai BTP itu orang yang berprestasi," kata Dahlan.
Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga lantas mengkritik balik Dahlan. Arya meminta Dahlan berkaca sebab apa yang dia katakan persis terjadi ketika dia menjabat (19 Oktober 2011 – 20 Oktober 2014).
"Saya tanya dulu, pak Dahlan Iskan dulu waktu di sini atau di PLN bikin heboh enggak? Bikin heboh juga. Jadi Pak Dahlan Iskan ini lupa bahwa dia juga suka bikin kehebohan," kata Arya di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (18/11/2019).
Salah satu kontroversi yang dia bikin saat menjabat menteri adalah proyek mobil listrik. Kontroversi karena ia gagal memenuhi kualifikasi untuk digunakan peserta forum APEC yang digela di Bali pada Oktober 2013. Mobil-mobil ini lantas dikirim ke beberapa kampus untuk dijadikan bahan penelitian.
Disebut kontroversi pula karena proyek ini lantas membawa Dahlan sebagai tersangka pada 26 Januari 2017--saat sudah tak lagi menjabat. Ia lantas divonis bebas oleh MA pada 2019.
Terlepas dari tepat atau tidak, Arya mengaku menghargai kritik-kritik itu. Menurutnya tujuan dari pengumuman calon penggawa BUMN memang untuk melihat reaksi masyarakat. Arya mengklaim proses ini tak pernah terjadi sebelumnya.
"Ini memang salah satu keinginan Pak Erick supaya publik tahu. Untuk perusahaan yang berpengaruh, untuk publik, maunya Pak Erick seperti itu," pungkasnya.
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Rio Apinino