Menuju konten utama

Cerita Pilu Pedagang Pasar Barito Saksikan Lapaknya Dibongkar

Sejumlah pedagang mengkhawatirkan omzet penjualan di Pasar Lenteng Agung tak sebagus di Pasar Barito.

Cerita Pilu Pedagang Pasar Barito Saksikan Lapaknya Dibongkar
Pasar Burung Barito akhirnya dibongkar oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan pada Senin (27/10/2025) pagi. tirto.id/Naufal Majid
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pasar Burung Barito akhirnya dibongkar oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan pada Senin (27/10/2025) pagi. Pembongkaran Pasar Barito dilakukan dalam rangka proyek pembangunan Taman Bendera Pusaka, proyek yang menggabungkan tiga taman di Jakarta Selatan, yakni Taman Ayodya, Taman Langsat, dan Taman Leuser.

Berdasarkan pantauan wartawan Tirto di lokasi pada Senin siang, kios-kios yang semula menjual hewan, buah-buahan, parsel, hingga kuliner itu, kini sudah rata dengan tanah.

Sepanjang Jalan Barito, hanya tampak tumpukan puing-puing seng dan beton sebagai sisa-sisa sejarah dari pasar yang sudah eksis sejak dekade 1970-an itu.

Dua mobil eskavator berwarna biru tampak masih sibuk mengeruk puing-puing yang menumpuk di sepanjang trotoar. Puing-puing itu lalu dipindahkan ke sebuah truk untuk diangkut.

Para pedagang yang masih bersikukuh menolak direlokasi ke Pasar Lenteng Agung, lokasi baru yang disiapkan Pemprov DKI Jakarta, hanya bisa melihat bekas tempat mencari pundi-pundi cuan mereka dibongkar dan dibersihkan oleh petugas.

Tepat di seberang lokasi kios lama, merekaduduk termenung memandangi alat-alat berat bekerja sigap meratakan bangunan. Di samping mereka, terdapat barang-barang jualan yang masih bisa diselamatkan.

Deni (32), seorang pemilik toko hewan di Pasar Burung Barito masih bertahan di lokasi hingga Senin siang. Saat dijumpai Tirto, ia dan sejumlah karyawannya tengah memindahkan puluhan kandang hewan ke dalam sebuah truk.

Di dalam kandang-kandang itu, masih terdapat sejumlah hewan yang semula dijajakan Deni kepada para pembeli di tokonya. Terlihat ada hamster, burung lovebird, hingga ayam yang menunggu untuk dipindahkan ke lokasi baru.

Kepada Tirto, Deni bercerita bahwa ia telah berdagang di Pasar Burung Barito sejak 14 tahun yang lalu. Sebelumnya, ayahnya sudah lebih dulu berjualan di sana, tepatnya sejak 1978.

“Saya dulu dari kecil di sini juga kan, sampai kemarin direvitalisasi juga itu kan,” tutur Deni.

Melihat kiosnya kini sudah rata dengan tanah, Deni mengaku masih belum mampu untuk berkata-kata. Ia masih memproses seluruh kejadian pembongkaran yang berlangsung dalam waktu sangat cepat itu.

“Lagi enggak bisa mikir bang. Enggak bisa mikir kan bang, tiba-tiba tadi juga jam 6 kan [dibongkar]. Tiba-tiba jam 6, baru setengah jam udah [habis dibongkar],” ucapnya getir.

Pasar Burung Barito

Pasar Burung Barito akhirnya dibongkar oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan pada Senin (27/10/2025) pagi. tirto.id/Naufal Majid

Deni sebenarnya sudah mendapatkan informasi terkait wacana pembongkaran Pasar Burung Barito sejak Juli 2025 lalu. Namun, hingga kini ia menolak untuk dipindahkan ke Pasar Lenteng Agung karena lokasinya dinilai tidak strategis.

Meskipun ditawari pembebasan biaya sewa selama enam bulan ke depan, Deni memandang solusi tersebut belum mampu menjadi jawaban. Sebab, ia tetap harus membayar biaya sewa rumah kontrakan baru yang dekat dengan Pasar Lenteng Agung.

“Ya belum [membantu] lah. Lah kan kita di sana harus nyari kontrakan buat tempat tidur, buat nginap lagi. Anak-anak juga udah banyak yang sekolah di sini harus pindah kan?” kata Deni.

Sementara itu, Sofi (55), seorang pedagang nasi di Pasar Burung Barito mengaku sedih melihat kios tempatnya berdagang kini hanya tinggal tersisa kenangan.

Sofi menuturkan, ia memiliki kedekatan personal dengan Pasar Burung Barito. Pasalnya, pasar itu telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak masih duduk di bangku SD sampai kini ia sudah berkeluarga.

“Istilahnya dari saya masih sekolah SD, seperti itu, sampai sekarang saya sudah berumah tangga. Sudah punya anak-anak juga bisa sekolah kan dari hasil dagang [di Pasar Burung Barito],” ujar Sofi kepada Tirto.

Sofi mulai aktif berjualan di pasar itu pada tiga tahun lalu, tepatnya pada awal 2022. Sebelumnya, mendiang ayahnya sudah lebih dulu berjualan di pasar itu sejak 1965 silam.

Sofi telah menjadi saksi hidup perkembangan Pasar Burung Barito, dari yang semula hanya berupa bangunan semi permanen, sampai kemudian direvitalisasi pada 2023.

Kehadiran para pedagang di pasar itu, disebutnya juga telah membuat kawasan Barito menjadi lebih aman, dari yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan rawan kejahatan.

“Dari yang tadinya di sini kan dulu rawan, nah semenjak ada pedagang-pedagang ini kan enggak. Jadi hidup,” sebutnya.

Sofi khawatir, apabila dipindahkan ke lokasi baru di Pasar Lenteng Agung, omzetnya sebagai pedagang nasi bisa menurun. Sebab, di lokasi baru yang dijanjikan Pemprov DKI, ia mendapatkan kios yang terletak di dalam pasar dan berada jauh dari pinggir jalan.

“Ya udah pasti [omzet akan turun], pembeli juga enggak bakalan ada yang mau, pelanggan-pelanggan kita ke sana,” terang Sofi.

Pasar Burung Barito

Pasar Burung Barito akhirnya dibongkar oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan pada Senin (27/10/2025) pagi. tirto.id/Naufal Majid

Pemprov DKI Klaim Pembongkaran Dilakukan Humanis

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa pembongkaran kios-kios di Pasar Burung Barito itu dilakukan dengan cara-cara yang humanis. Ia juga menyebut bahwa sosialisasi pembongkaran itu telah disampaikan kepada para pedagang melalui tiga surat peringatan (SP).

Pramono mengatakan saat ini Pemprov DKI telah selesai membangun Pasar Lenteng Agung yang ditetapkan sebagai lokasi pengganti bagi para eks pedagang Pasar Burung Barito.

“Sekarang ini 125 kios yang di Lenteng Agung sudah semuanya selesai, semuanya bisa dipakai, termasuk air, termasuk kemudian kami akan membuat klinik satwa di tempat itu kalau memang nanti mayoritas adalah para pedagang satwa,” kata Pramono kepada para wartawan di kawasan Jakarta Barat, Senin (27/10/2025).

Bagi para eks pedagang Pasar Burung Barito, Pramono mengatakan biaya sewa kios di Pasar Lenteng Agung akan digratiskan selama enam bulan ke depan.

Politikus PDIP itu menjelaskan, Pasar Lenteng Agung berada di lokasi yang strategis, karena dekat dengan Stasiun KRL Lenteng Agung. Bahkan, ia mengaku ada banyak masyarakat di luar eks pedagang Pasar Burung Barito yang berkeinginan untuk berjualan di pasar tersebut.

“Bahkan mohon maaf, sekarang ini sebenarnya di luar pedagang Barito, banyak sekali yang sudah meminta untuk bisa memanfaatkan tempat itu,” jelasnya.

Menurutnya, pembongkaran kios-kios di Pasar Burung Barito itu memang diperlukan dalam rangka proyek pembangunan Taman Bendera Pusaka yang memiliki banyak manfaat bagi masyarakat.

Nantinya, setelah rampung dibangun, Taman Bendera Pusaka itu akan menjadi ruang terbuka hijau yang memiliki fasilitas jogging track bagi masyarakat yang hendak berolahraga.

“[Taman Bendera Pusaka] sepenuhnya untuk keperluan masyarakat, menjadi zona terbuka hijau, ada jogging track, ada tempat-tempat yang kemudian masyarakat bisa memanfaatkan, sehingga tidak ada urusan dengan kepentingan perorangan. Ini untuk kepentingan masyarakat Jakarta,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait PENGGUSURAN atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Flash News
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Bayu Septianto