Menuju konten utama

CEO Danantara: Jangan Ada Lagi Laporan Keuangan yang Dipercantik

Danantara, sebagai pengelola aset BUMN, tidak akan memberi toleransi kepada pimpinan persero yang sengaja memoles laporan keuangan agar terlihat cantik.

CEO Danantara: Jangan Ada Lagi Laporan Keuangan yang Dipercantik
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan keterangan kepada wartawan usai melakukan bpertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto dan petinggi perusahaan otomotif asal Vietnam VinFast di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (11/3/2025). Rosan menyebutkan VinFast berencana membangun secara bertahap 30.000 hingga 100.000 stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di berbagai daerah Indonesia, terutama di Pulau Jawa dengan nilai investasi sekitar satu miliar dolar AS. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

tirto.id - CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani, memberikan peringatan tegas kepada para direksi BUMN agar menghentikan praktik mempercantik laporan keuangannya untuk menampilkan keuntungan semu.

Menurutnya, laba tinggi di atas kertas tidak mencerminkan kinerja sesungguhnya perusahaan. "Namanya CEO itu tidak semata-mata hanya cari profitabilitas yang tinggi. Tapi kita tekankan carilah profitabilitas yang berkualitas, yang mencerminkan benar-benar dari performance yang ada," kata Rosan di Kompleks BKPM, Selasa (29/7/2025).

Ia menegaskan bahwa Danantara, sebagai pengelola aset BUMN, tidak akan memberi toleransi kepada pimpinan persero yang sengaja memoles laporan keuangan agar terlihat cantik.

"Kita enggak ada toleransi lagi untuk yang macam-macam yang aneh-aneh. Ibaratnya buku dipercantik segala macam itu enggak ada. Berikan sesuai dengan operasional yang ada dan apa adanya," tegasnya.

Rosan juga mengingatkan bahwa investor kini tidak lagi mudah terpukau oleh laporan keuangan hasil "make-up". Karena kalau intinya hanya ingin cari profitabilitas yang tinggi saja tetapi hasil dari, mohon maaf, financial engineering yang macam-macam. Nah, kita juga paham lah mengenai itu," ucapnya.

Selain itu, ia mendorong para direksi BUMN untuk berpikir jangka panjang dalam menyusun rencana kerja, tidak hanya terpaku pada periode jabatan 4-5 tahun.

“Semuanya ini pemikirannya hanya 2 tahun, 3 tahun, atau 4-5 tahun gitu. Nggak lagi, musti pemikirannya jangka panjang juga,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait DANANTARA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana