Menuju konten utama

Cara Pulihkan Diri dari Trauma karena Perselingkuhan

Perselingkuhan dapat menyebabkan stres hingga depresi, berikut adalah cara untuk piluh dari trauma.

Cara Pulihkan Diri dari Trauma karena Perselingkuhan
Ilustrasi selingkuh. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Beberapa waktu belakangan ini warganet ramai membahas soal isu perselingkuhan yang menerpa penyanyi kenamaan Adam Levine.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang melakukan kecurangan dan berselingkuh dari pasangannya, mulai dari tidak puas, merasa tidak dihargai, bosan, hingga balas dendam.

Menurut laman Psychcentral, perselingkuhan dapat menyebabkan masalah dalam hubungan apa pun. Pengaruh pengkhianatan semacam itu bisa bersifat jangka panjang dan menghancurkan.

Jika Anda telah diselingkuhi, mungkin butuh waktu lama untuk pulih dan sembuh.

Hal ini dapat menyebabkan Anda mengalami kecemasan kronis, stres pasca-trauma, depresi, dan ketidakpercayaan pada orang lain untuk waktu yang lama setelah kejadian.

Cara Pulih dari Trauma Pasca Perselingkuhan

Rasa sakit dan pengkhianatan perselingkuhan bisa terasa menyesakkan bagi seseorang, tetapi apa pun yang Anda lakukan, cobalah untuk tidak menyalahkan diri sendiri.

Mengatasi emosi yang sulit ini tidak akan mudah dan Anda mungkin harus memberi diri Anda banyak waktu dan ruang, tetapi melakukannya bermanfaat.

Berikut ini cara pulihkan diri dari trauma usai perselingkuhan, dikutip dari Healthline.

1. Mengakui bukan menghindari

Saat proses penyembuhan, sering mengharuskan Anda untuk terlebih dahulu menerima apa yang terjadi.

Bersandar pada trauma seperti perselingkuhan mungkin tampak terlalu menyakitkan untuk dipertimbangkan.

Namun, pada kenyataannya, mengakuinya memungkinkan Anda untuk mulai menemukan alasan di baliknya, yang dapat membantu memulai proses penyembuhan.

2. Berlatih menerima emosi yang sulit

Banyak emosi yang tidak menyenangkan dapat muncul setelah pengkhianatan. Adalah umum untuk merasa terhina atau malu.

Anda mungkin juga merasa marah, dendam, sakit, atau sedih. Secara alami, Anda mungkin menemukan diri Anda mencoba menghindari kesusahan ini dengan menyangkal atau mencoba menghalangi apa yang terjadi.

Belajar untuk mengendalikan emosi adalah salah satu cara untuk bisa pulih dari trauma pasca perselingkuhan.

3. Ceritakan pada orang yang dipercaya untuk mendapat dukungan

Membuka diri tentang pengkhianatan tidak selalu mudah. Anda mungkin tidak ingin membicarakan trauma masa kecil atau perselingkuhan pasangan Anda.

Namun orang membutuhkan dukungan emosional, terutama selama masa-masa stres.

Ceritakan masalah perselingkuhan Anda pada teman atau sahabat, sehingga Anda dapat berbagi perasaan.

4. Minta bantuan terapis profesional

Trauma bisa sulit untuk dihadapi sendiri. Dukungan profesional dapat membuat perbedaan besar dalam proses penyembuhan.

Dalam terapi, Anda dapat mulai mengakui dan mengatasi pengkhianatan sebelum hal itu menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan.

Terapis yang dilatih untuk bekerja dengan para penyintas pelecehan dan penelantaran juga dapat membantu mengungkap efek jangka panjang dari trauma masa kanak-kanak.

Jika Anda memiliki masalah keterikatan, misalnya, seorang terapis dapat membantu Anda mengidentifikasi penyebab dasar dari keterikatan yang tidak aman dan mengeksplorasi strategi untuk membangun hubungan yang lebih aman.

Kebanyakan ahli kesehatan mental merekomendasikan beberapa bentuk terapi pasangan ketika mencoba untuk menyembuhkan suatu hubungan setelah perselingkuhan.

5. Lakukan hal menyenangkan

Menurut Choosing Therapy, melakukan hal yang menyenangkan dapat membantu Anda pulih dari trauma.

Kegiatan sosial seperti bertemu teman-teman, berolahraga, dan melakukan meditasi dapat membantu Anda lebih fokus dan memberi Anda waktu untuk pulih.

Alasan Orang Berselingkuh

Mengutip Healthline, beberapa alasan seseorang berkhianat dari pasangannya dan berselingkuh adalah sebagai berikut:

> Ketidakbahagiaan/Ketidakpuasan: Ketidakpuasan dengan pernikahan baik secara emosional maupun seksual adalah hal biasa. Pernikahan adalah pekerjaan, dan tanpa saling mengasuh, pasangan dapat tumbuh terpisah. Pernikahan tanpa jenis kelamin sering diklaim sebagai alasan bagi pria dan wanita.

> Merasa tidak dihargai: Merasa diremehkan atau diabaikan dapat menyebabkan perselingkuhan. Ketika kedua pasangan bekerja, wanita sering menanggung beban pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak. Dalam hal ini, perselingkuhan mengesahkan rasa berharga orang tersebut. Namun, di sisi lain, perasaan diabaikan mungkin terkait dengan harapan pasangan yang tidak realistis daripada pengabaian yang sebenarnya.

> Kurangnya komitmen: Selain hal lain, sebuah studi tahun 2018 menemukan bahwa orang yang kurang berkomitmen pada hubungan mereka lebih cenderung selingkuh.6

> Kebosanan: Pria dan wanita yang mencari sensasi pengejaran dan kegembiraan cinta yang baru ditemukan mungkin lebih cenderung selingkuh. Alih-alih mencoba mencari pengganti pasangan mereka, beberapa mengklaim hubungan asmara mereka adalah cara untuk membumbui pernikahan mereka. Putus cinta sering disebut sebagai alasan untuk berselingkuh Ini mungkin melibatkan kurangnya pemahaman tentang bagaimana cinta menjadi dewasa dalam pernikahan.

> Citra tubuh/penuaan: Sering diilustrasikan oleh kisah pria paruh baya yang berselingkuh dengan wanita seusia anak perempuan mereka, selingkuh terkadang bisa menjadi cara bagi pria (atau wanita) untuk membuktikan bahwa mereka masih "memilikinya". Bergandengan tangan dengan pikiran-pikiran ini, pasangan dapat menyalahkan atas kecerobohan mereka sendiri dengan mengklaim bahwa pasangan mereka telah "membiarkan dirinya pergi."

> Balas dendam: Jika salah satu pasangan berselingkuh atau telah merusak pasangannya dengan cara tertentu, pasangan yang tersinggung mungkin merasa perlu untuk membalas dendam yang mengakibatkan perselingkuhan.

Korban perselingkuhan biasanya akan merasa sangat sakit hati, dan bisa menimbulkan stres atau bahkan depresi.

Dampak Perselingkuhan pada Korban

Psikolog dari Universitas Indonesia A. Kasandra Putranto mengingatkan bahwa perselingkuhan dapat menyebabkan trauma bagi korban.

"Perselingkuhan dapat menyebabkan trauma. Mereka yang mengalami perselingkuhan ternyata memenuhi kriteria untuk gangguan stres pascatrauma (PTSD)," kata Kasandra seperti dilansir dari Antara.

Ia menambahkan, berbagai masalah juga akan muncul sebagai respons emosional akibat perselingkuhan, antara lain banyak pikiran, gangguan makan dan tidur, suasana hati yang tidak menentu, masalah kesehatan, hingga depresi.

Menurutnya, hal tersebut menyebabkan beberapa terapis dan psikolog mulai menggunakan istilah Gangguan Stres Pasca Perselingkuhan untuk menggambarkan kondisi mental mereka.

"Dampak yang dirasakan (oleh korban perselingkuhan) juga di antaranya menyalahkan diri sendiri dan merasa jika harga dirinya rendah," imbuh dia.

Selain itu, Kasandra mengatakan perselingkuhan juga akan membawa dampak negatif terhadap anak. Menurutnya, anak yang orangtuanya selingkuh bisa sangat tertekan, stres, atau depresi.

"Perasan tertekan seperti ini bisa membuat si anak menjadi lebih pendiam, jarang bergaul, dan prestasi sekolahnya akan merosot," ujar Kasandra.

Sebaliknya, menurutnya, anak juga bisa menjadi pemberontak. Jiwa labil seorang anak yang sedang depresi bisa menggiringnya ke dalam pergaulan yang salah dan membenci orang tua mereka.

Sehingga Kasandra mengingatkan pentingnya menjaga komitmen dalam hubungan agar tidak terjadi perselingkuhan.

Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan lainnya dari Yandri Daniel Damaledo

tirto.id - Gaya hidup
Penulis: Yandri Daniel Damaledo
Editor: Iswara N Raditya