tirto.id - Rafa, seorang anak asal Pekalongan, Jawa Tengah, meninggal dunia pada Minggu (20/7/2025) setelah sempat dirawat selama sebulan akibat gigitan ular berbisa jenis weling. Bagaimana cara mengatasi gigitan ular weling? Benarkah ular weling lebih berbahaya dari kobra?
Ulang weling atau Bungarus Candidus adalah ular yang memiliki kulit belang hitam putih berpola pada tubuh. Ular jenis ini banyak dijumpai di wilayah Asia Tenggara, tak terkecuali di Indonesia.
Ular serupa juga sering ditemukan di pemukiman warga. Agar dapat dilakukan penanganan yang tepat, masyarakat perlu memahami bahaya dan langkah-langkah antisipatif yang tepat.
Apakah Ular Weling Lebih Bahaya daripada Kobra?
Ular weling merupakan spesies ular yang hidup di berbagai habitat seperti hutan, semak, area pertanian, dan bahkan mendekati permukiman. Secara umum, ular weling menempati tempat lembap seperti selokan, pekarangan, atau tumpukan kayu dan aktif di malam hari.
Peneliti venom dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syahfitri Anita, memaparkan bahwa ular weling lebih mematikan dibanding ular kobra, mengutip laman Antaranews, Kamis (13/2/2020).
"Bisa ular weling bersifat neurotoxin, yang menyerang saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan. Biasanya di beberapa jam awal korban akan merasa mual," katanya.
Syahfitri juga menjelaskan data hasil penelitian, bahwa dosis lethal (LD50) ular weling terhadap mencit bisa mencapai 0.06 mikrogram/gram hingga 0.23 mikrogram/gram berat tubuhnya.
Jika setelah digigit korban tidak ditangani, menurut Syahfitri, korban dapat meninggal dalam waktu sekitar 12-24 jam. Biasanya, korban akan merasa mual, muntah dan lemas pada jam awal usai digigit. Selanjutnya, korban merasakan kelopak mata yang memberat dan susah bernapas.
Senada dengan Syahfitri, Mirza Dikari Kusrini, Pakar Herpetologi IPB University juga mengungkapkan tentang bahaya ular weling. Ular weling memiliki racun neurotoksin yang menyerang sistem saraf dan berpotensi menyebabkan kelumpuhan otot, termasuk otot pernapasan.
Gejala awal usai digigit ular weling, menurtut Mirza, bisa ringan atau tertunda. Dan jika tidak ditangani dengan benar, maka dapat berakibat fatal.
Kemudian, Mirza juga memaparkan bahwa waktu bertahan hidup bagi orang yang digigit ular weling berdasar pada jumlah bisa yang masuk, lokasi gigitan, serta kondisi tubuh korban. Dalam hal ini, gigitan pada anak-anak bisa lebih berbahaya dibanding orang dewasa.
“Kadang ular berbisa menghasilkan gigitan kering (dry bite), artinya menggigit tanpa mengeluarkan bisa. Tapi jika benar-benar tergigit dan tidak mendapat penanganan medis, korban bisa mengalami gagal napas dalam waktu 4–24 jam,” ujar Mirza, mengutip laman IPB (7/7/2025).
Cara Mengatasi Gigitan Ular Weling
Apabila masyarakat menemukan ular weling di sekitar rumah, maka tidak perlu panik. Jika memungkinkan, masyarakat dapat menghubungi petugas pemadam kebakaran, komunitas penyelamat satwa, atau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat untuk evakuasi. Jika tidak, maka jauhkan dari jangkauan anak-anak dan tidak menangkap atau mencoba membunuhnya.
Apabila terlanjur digigit ular weling, maka hindari atau meminimalkan pergerakan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir persebaran racun ular weling di dalam tubuh. Setelah itu, posisikan tubuh korban yang terkena gigitan lebih rendah daripada letak jantung.
Kemudian, lepas seluruh aksesoris seperti cincin atau gelang yang ada di dekat area gigitan tubuh korban untuk menghindari pembengkakan. Setelah itu, datanglah ke fasilitas Kesehatan terdekat untuk penanganan lanjutan dan pemberian serum anti bisa ular (SABA).
Masyarakat juga perlu menghindari hal-hal berikut usai digigit ular weling:
- Mengisap racun bisa ular.
- Mengikat erat area patokan ular.
- Memotong atau menyayat area gigitan.
- Menempelkan es, sesuatu yang hangat, minyak gosok, atau bahan kimia ke area bekas gigitan ular.
- Mengurut atau memijat area yang dipatuk ular.
- Minum kafein atau minuman beralkohol karena kedua minuman ini bisa mempercepat penyerapan racun ular oleh tubuh.
- Menggerak-gerakkan anggota tubuh yang dipatuk ular.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id






































