14 Maret 1980

Cara Hatta Membunuh Kesepian dalam Pembuangan

Oleh: Petrik Matanasi - 14 Maret 2018
Dibaca Normal 2 menit
Umur membandul.
Angin masygul mengampul
di Boven Digul.
tirto.id - Hatta harus merasakan hidup di pembuangan hingga bertahun-tahun, termasuk ke pembuangan legendaris Tanah Merah Boven Digoel di pedalaman Papua. Patung Hatta di depan Kantor Polres Boven Digoel, tak jauh dari bandara, masih berdiri tegak. Tangan menunjuk ke tanah, seolah berkata, aku pernah disini.

Bersama orang-orang pergerakan dari Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Baru yang dipimpinnya, Hatta diberangkatkan dari Jawa. Hatta sudah dianggap berbahaya sejak masih kuliah di Belanda. Dia pernah menjadi pimpinan Perhimpunan Indonesia (PI), dan nyaris dipenjara. Di pengadilan, Hatta menyiapkan pleidoi terkenalnya, "Indonesia Merdeka", pada 22 Maret 1928.


“Yang Mulia, lebih baik Indonesia tenggelam ke dasar lautan daripada menjadi embel-embel bangsa lain,” tulisnya kepada pengadilan Belanda. Ucapan itu tentu membuat Hatta dimusuhi pemerintah kolonial.

Dua tahun setelahnya, baru muncul pleidoi lain berjudul "Indonesia Menggugat", dibacakan di Landraad Bandung oleh Soekarno. Setelah kembali lagi ke Indonesia dan membangun PNI Baru dengan pengikut-pengikut yang cukup terpelajar, Hatta tentu lebih dianggap berbahaya lagi.

Hatta konsisten dengan kata merdeka. Dia tak akan mau menikah sebelum Indonesia merdeka. Seperti halnya Gajah Mada tak akan mau menikmati buah palapa sebelum mempersatukan Nusantara. Setelah Indonesia merdeka, barulah Hatta menikah dengan Rachmi. Itupun tanpa uang dan perhiasan sebagai mas kawin. Hatta menjadikan buku yang ditulisnya, Alam Pikiran Yunani, sebagai mas kawin ketika menikahi Rachmi pada 18 November 1945.

Hatta barangkali sadar hidup sebagai musuh pemerintah kolonial sangat berat. Berbagi derita dengan istri adalah hal merepotkan. Banyak rumah tangga berantakan karena pembuangan, salah satu yang mengalaminya adalah Douwes Dekker. Tak beristri membuat Hatta kuat selama dalam pembuangannya, termasuk di Boven Digoel. Tak ada beban rumah tangga di pundaknya, seperti sebagian orang buangan di sana.

Bermain Bersama Bocah-Bocah Digoel

Trikoyo Ramidjo tak akan lupa pada Mohammad Hatta. Mereka sama-sama pernah hidup di Boven Digoel. Pedalaman Papua yang jauh dari keramaian. Banyak yang percaya Hatta adalah sosok yang jujur dan sederhana. Trikoyo ingat bagaimana Hatta merayakan ulang tahunnya.

“Aku ingat Om Hatta (Drs Moh Hatta). Pada hari itu, kami di Digoel, Tanah Merah, berkumpul. Tidak terkecuali Om Sutan Syahrir. Memperingati hari ulang tahun Om Hatta. Kami makan roti bersama dengan telur mata sapi atau telur ceplok,” ingat Ramidjo, seperti yang ditulisnya di akun media sosialnya.

Hatta memperingati usianya yang ke 33 tahun ketika itu. Tepatnya pada tanggal 12 Agustus 1935. Trikoyo yang ketika itu baru sepuluh tahun. Dia kebagian tugas membuat telur mata sapi. Namun, dia belum tahu bagaimana bentuk telur mata sapi. Lalu Om Syahrir membisikinya. Telur mata sapi itu ya telur ceplok.

Tak ada toko kue di zaman Boven Digoel masih jadi tempat pembuangan kaum merah alias orang-orang komunis dan musuh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Cukup roti dan telur saja untuk merayakan kelahiran Hatta. Sesederhana itulah ulang tahun Hatta. Sesederhana pribadinya.



Infografik Mozaik Mohammad Hatta


Bersama bocah-bocah Digoel. Baik Syahrir, juga Hatta yang pendiam dan terkesan kaku, terbilang akrab dengan anak-anak. Nampaknya, Syahrir lebih banyak bermain dengan bocah-bocah itu ketimbang Hatta. Semua orang tahu Hatta kutu buku juga. Berpeti-peti buku miliknya pun tak lupa dia bawa ke Tanah Merah. Hatta lebih sering menulis.

Syahrir lebih banyak jalan-jalan, bermain sepakbola atau berenang di Sungai Digoel yang kala itu banyak buaya. Dan bermain dengan anak-anak pastinya. Baik Hatta dan Syahrir, termasuk orang yang waras dan bisa menjaga semangat hidup di Boven Digoel.

Bermain dengan anak-anak membuat mereka waras. Syahrir dan Hatta, kadang suka memberi coklat juga pada Trikoyo, seperti ditulis Trikoyo dalam memoarnya, Kisah-kisah Dari Tanah Merah (2009). Bocah-bocah itu tak lama bersama Hatta dan Syahrir karena di tahun 1936, keduanya “dikapalkan” ke Banda Naira. Kira-kira hanya setahun Hatta di Digoel, sebuah pembuangan mengerikan di masa kolonial.

Dari Banda Naira, Hatta lalu dibebaskan Tentara Jepang dan dibawa ke Jakarta. Di mana Hatta sementara waktu menjadi penasehat Militer Jepang. Setelah Indonesia merdeka, Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden sejak 1945 hingga 1956. Dia adalah Wakil Presiden pertama dan terlama. Pernah dia pernah menjadi Perdana Menteri juga. Setelah tidak menjadi Wakil Presiden, dia menjadi pengajar.


Hatta meninggal pada usia 77 pada 14 Maret 1980, tepat hari ini 38 tahun lalu, di Jakarta. Ia dimakamkan di pekuburan umum Tanah Kusir, Jakarta. Kehidupannya yang sederhana, kecerdasannya, banyak menginspirasi orang Indonesia.

Musisi kondang Iwan Fals yang mengenangnya dalam lagu Bung Hatta, sepeninggal Hatta. Iwan Fals satu dari sekian banyak orang Indonesia yang merasakan kehilangan atas kepergian Bung Hatta. “Lugu, jujur dan bijaksana,” begitu di mata Iwan dalam lagunya, "Bung Hatta".

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live