Menuju konten utama

Digoel, Tempat Buangan Para Pembangkang

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menjadikan Boven Digoel sebagai tempat mengisolasi tokoh-tokoh pergerakan nasional. Mereka disiksa oleh ganasnya malaria dan kesepian.
Mereka memutuskan untuk membangun kamp pengasingan bagi pentolan komunis yang berontak pada 12 November 1926.

Digoel, Tempat Buangan Para Pembangkang
Taman Makam Pahlawan Perintis Kemerdekaan di Boven Digoel. TIRTO/Petrik Metanasi

tirto.id - Kota Batavia baru saja dilanda amukan massa beberapa hari sebelumnya. Kantor polisi dan pejabat Belanda jadi sasaran. Ribuan orang yang mengamuk itu adalah kaum komunis tak terpelajar. Mereka kemudian ditangkapi. Sebagian dipenjarakan di penjara-penjara kolonial sekitar Jawa. Tapi ada yang tak cukup jika dipenjarakan saja. Orang-orang yang dianggap spesial ini harus dibuatkan tempat khusus.

Karena itu, pada 18 November 1926, Raad van Nederlandsch-Indie (Dewan Hindia Belanda) mengadakan pertemuan luar biasa. Mereka memutuskan untuk membangun kamp pengasingan bagi pentolan komunis yang berontak pada 12 November 1926. Lokasinya: hulu Sungai Digoel. Posisinya berada di bagian selatan Papua, 410 KM ke arah utara dari Merauke. Dulu posisinya termasuk dalam onderafdeeling Niew Guinea Selatan, Karesidenan Ambon. Kamp ini dipimpin oleh seorang opsir tentara yang ditugaskan sebagai fungeerend controleur (pejabat pengawas).

Kamp Digoel ini terletak di tengah belantara Papua. Ada tiga cara di masa kini untuk mencapai Digoel dari Merauke. Pertama, dengan pesawat yang penerbangannya agak jarang dari Merauke. Ini adalah cara tercepat, tapi mahal biayanya. Kedua, menumpang kapal yang lama perjalanannya bisa seminggu jika air tidak surut. Ketiga, lewat perjalanan darat dengan hiline. Tarifnya Rp700 ribu tiap orang. Jika sedang kemarau, perjalanan darat butuh waktu sekitar 11 jam dari Merauke. Saat musim hujan, waktunya bisa berhari-hari karena jalanan becek. Lebih dari separuh jalan Merauke - Digoel masih berupa tanah hingga kini.

Jika Anda menuju ke sana lewat jalan darat, di sepanjang jalan akan banyak pos aparat yang terlewati, baik polisi maupun TNI. Sopir harus berhenti dan menunjukan surat jalan jika mencapai pos-pos itu. Pos militer banyak berada di hutan dan biasanya dianggap pos perbatasan. Di tiap pos TNI terdapat puluhan prajurit, kebanyakan masih muda.

Asal mereka umumnya bukan dari Kodam Jayawijaya. Pasukan penjaga pos itu selalu diganti tiap tahun, biasanya dari Batalyon Infanteri. Di beberapa tempat yang ramai dekat perbatasan, biasanya ada pos Kopassus. Mereka berjaga mengantisipasi Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang dianggap berbahaya. Meski dijaga, daerah sekitar Merauke dan Boven Digoel dianggap tak serawan daerah sekitar Timika dan Jayapura.

Tanah Pembuangan

Belantara Papua Selatan masih dianggap berbahaya hingga sekarang, terlebih karena konflik TNI dengan OPM. Prajurit TNI tak bisa kelayapan seenaknya di sekitar pos. Jika hendak mandi, mereka tak bisa pergi sendiri. Setidaknya mereka pergi berempat. Salah satu harus membawa senapan serbu SS-2 untuk berjaga. Pada dekade 1920-an dan 1930-an, kondisinya mengerikan karena banyaknya binatang buas.

Sebelum dijadikan kamp, Boven Digoel tadinya memang hutan belantara. Kapten L. Th Becking yang ditunjuk jadi pengawas di Digoel memang tak asing dengan orang-orang komunis buangan itu. Ia sebelumnya terlibat dalam upaya penumpasan kaum komunis di Banten.

Sewaktu tiba di Digoel, Kapten Becking “geleng-geleng kepala,” kata Ali Hasjmi dalam bukunya Digul: Bumi Pahlawan Kemerdekaan Indonesia (1976). Pemerintah kolonial tak punya rasa kemanusian, batin Sang Kapten, saat melihat kondisi hutan di sana.

Ia kemudian memimpin pembukaan lahan yang belakangan menjadi Kamp Tanah Merah itu. Hingga kini, pusat Kabupaten Boven Digoel adalah Tanah Merah. Setelah Tanah Merah dibangun, pemerintah kolonial membuat tempat isolasi lagi seperti Gudang Arang yang kemudian dipindah ke Tanah Tinggi. Kamp tambahan ini menampung orang-orang paling keras kepala di antara orang-orang buangan. Marco Kartodikromo, Aliarcham, Budisutjitro, Thomas Najoan dan lainnya pernah ditempatkan di sana. Tanah Tinggi jauh lebih sepi ketimbang Tanah Merah. Waktu tempuhnya satu jam dengan boat yang menyusuri Sungai Digoel.

Pembukaan lahan untuk kamp pembuangan Tanah Merah dimudahkan oleh adanya pos polisi di Assike di sebelah selatan. Pos itu sudah ada sejak 1913 dan dihuni 40 polisi bersenjata. Saat ini, Assike menjadi areal perkebunan kelapa sawit yang luas. Lebih selatan dari Digoel, ada satu daerah yang sekarang jadi kampung transmigrasi bernama Muting. Di Muting juga terdapat pos polisi dan dulu pernah jadi tempat pembuangan juga.

Dulu, sebelum lahan Tanah Merah dibuka , tidak mudah menuju daerah itu. Orang harus menumpang kapal uap Formalhout dari Merauke yang khusus digunakan untuk mengantar tahanan maupun pegawai sipil ataupun militer. Setelah 1927, penghuni Digoel mendadak ramai. Jumlah orang buangan (interneer) di sana mencapai lebih dari 1.200 orang.

Kamp ini kemudian punya sekolah untuk anak-anak orang buangan, selain lapangan bola, toko, dan bahkan masjid. Masjid dibangun karena banyak juga orang Islam yang terlibat dalam pemberontakan. Umumnya mereka berasal dari Banten dan Sumatera Barat. Oleh karenanya, di Digoel yang punya stigma sebagai tempat pembuangan komunis itu terdapat juga dakwah Islam. Sebagian orang buangan juga berusaha bertani, meski tanahnya tak sesubur di Jawa. Ada yang menanam pepaya dan pisang, seperti dilakukan oleh Lukman, salah satu pengikut Hatta.

Sekolah juga ada di tempat pembuangan itu. “Di Boven Digoel sendiri sudah ada sekolah pemerintah, tapi tampaknya banyak orang buangan tak mau sekolahkan anaknya ke sekolah pemerintah. Di sekolah swasta di Tanah Merah itu memakai bahasa Inggris dan Indonesia,” kata Siti Rahmatun, yang pernah jalani masa kecil di Boven Digoel.

Pemerintah kolonial pun memberi jatah bahan makanan kepada orang buangan, termasuk mereka yang tidak mau bekerja untuk pemerintah kolonial. Mereka dijatah beras 18 kg, 1 kg kacang hijau, 2 kg ikan asin, juga teh dan garam. Mereka disebut sebagai golongan Naturalis. Ada juga golongan yang disebut Werkwilig, yakni orang buangan yang bekerja pada pusat pelayanan pemerintah dan dibayar 40 sen per hari. Contohnya adalah A.J. Patty yang jadi mantri di rumah sakit. Namun, lebih banyak penghuni yang memilih jadi Naturalis.

Di Boven Digoel, orang buangan tak disiksa dan tak diwajibkan kerja paksa. Mereka hanya perlu membangun rumah sendiri untuk ditempati. Mereka juga boleh pergi ke manapun dia suka, asalkan masih dalam radius 30 KM dari kamp. Jika menghilang, mereka akan dikejar oleh polisi dan serdadu KNIL yang bertugas di sana.

“Di kampung-kampung di Digul tidak ada pagar kawat berduri. Orang bebas mau pergi ke Kampung A, B, C, D. Mau mancing sepuasnya di Sungai Digul juga tidak dilarang. Tidak ada peleton pengawal, seperti di Pulau Buru yang mengawasi,” tulis Trikoyo Ramidjo dalam bukunya Kisah kisah Tanah Merah (2003).

Trikoyo benar. Saat itu, ada puluhan usaha pelarian, tapi kebanyakan gagal. Tak mudah kabur dari kamp Digoel, sebab sekelilingnya masih hutan belantara. Di sungai dan rawa-rawa juga banyak buaya. Hampir semua usaha pelarian tidak membuat mereka bebas. Jika tidak tertangkap oleh serdadu, mereka umumnya hilang.

Digoel adalah tempat yang cocok untuk membuang kaum pergerakan yang keras kepala seperti orang-orang PKI. Di tempat isolasi, orang-orang ini tidak bisa membuat agitasi propaganda yang melahirkan kerusuhan di kota-kota industri maupun perkebunan kolonial. Meski begitu, orang-orang seperti Marco masih bisa menuliskan pengalamannya yang diterbitkan bersambung di harian Pewarta Deli pada 1931. Hatta juga masih sempat mengirim tulisan untuk surat kabar di Jawa dan Sumatera.

Orang Pergerakan dan Mata-mata

Sebagian orang tua yang hidup di tempat buangan zaman kolonial ini percaya bahwa mereka pernah bertemu Bung Karno di Boven Digoel. Menurut Pitoy, orang Manado yang lama di Digoel, “mereka (orang-orang tua) itu bilang mereka yang angkat koper Bung Karno.” Nyatanya, Bung Karno tak pernah dibuang ke Boven Digoel, melainkan hanya sampai Ende saja.

Hanya Bung Hatta dan Bung Kecil alias Sutan Syahrir yang pernah diisolasi di sana. Hatta dan Syahrir termasuk orang yang bisa melawan rasa sepi di Digoel. Tapi, Hatta pernah tumbang karena malaria. Kebanyakan penghuni Digoel adalah orang-orang yang terlibat pemberontakan PKI 1926, ditambah pengikut Hatta dan Syahrir yang dibuang setelah 1935.

Apapun ideologinya, entah komunis, Islam atau nasionalisme, orang-orang yang dibuang di sana adalah para pembangkang pemerintah kolonial Belanda. Kaum komunis awam, yang tidak paham benar soal komunisme pun jumlahnya cukup banyak. Meski cukup banyak, mereka tak terpikir membuat pemerintahan komunis di Digoel. Makin lama, mereka makin terpecah-belah, saling menyalahkan. Orang-orang itu masih mencari siapa yang harus bertanggungjawab atas Pemberontakan PKI 1926.

Sanusi, misalnya, sering menyudutkan Sardjono yang bekas Ketua PKI. Masalah kecil pun bisa menjadi besar. Mereka suka berdebat antara satu sama lain hanya karena soal sepele. Ada juga persoalan yang dianggap cukup besar. Bekas petinggi PKI yang begitu dihormati, Aliarcham, pernah kena sidang sesama orang buangan atas tuduhan pelecehan seksual.

“Meski ada juga kegiatan-kegiatan olah raga untuk mengisi kesepian, tampak juga sikap keguncangan jiwa mereka. Hampir selalu saja ada teman ayah yang datang berkunjung, hanya untuk berbincang-bincang tak menentu apa yang dibicarakan dari pagi sampai menjelang magrib. Dan itu amat sering dilakukan,” tulis Urhen Lukman dalam bukunya Memoar Lukman, Seorang Pejuang Perintis Kemerdekaan RI (2012).

Di antara orang-orang buangan itu, tentu banyak yang berusaha untuk waras. Mereka biasanya menyibukkan diri. Di awal-awal masa pembuangan, Thomas Najoan cukup aktif. Dia berusaha mendirikan perpustakaan dan juga tempat penyemaian benih. Setelah gagal, dia ikut mengajar di sekolah yang didirikan orang-orang buangan.

Marco juga rajin menulis, seperti halnya Hatta kemudian. Tapi Syahrir lain. Ia menjaga kewarasannya dengan jalan-jalan di sekitar kampung. Kadang ia bertandang ke kampung lain, berenang di sungai Digoel, bermain sepakbola, atau bermain dengan anak-anak.

Cara untuk waras yang agak aneh adalah merencanakan pelarian. Rencana itu membuat mereka berpikir melawan kejenuhan dan kesepian di Digoel. Setidaknya, mereka jadi berpikir dan punya kegiatan menyiapkan makanan atau perahu untuk kabur. Thomas Najoan, ketika berencana kabur lebih terlihat bahagia ketimbang ketika dia lama tidak kabur. Dia pernah coba bunuh diri ketika terlalu lama tidak mencoba kabur.

Di tengah perpecahan di kalangan orang buangan itu, Pemerintah Kolonial melalui polisinya dan pejabatnya di Boven Digoel memancing di air keruh. Mereka membuat lembaga bernama Rust en Orde Bewakking (ROB), penjaga ketertiban yang bertugas memata-matai orang-orang buangan.

Rudolf Mrazek, sejarawan senior dari Michigan University, pernah sengaja mendatangi Boven Digoel bersama anaknya dengan menumpang pesawat pada Juni 2013. Penulis biografi Syahrir ini penasaran dengan tempat itu karena Syahrir pernah dibuang ke sana selama setahun pada 1935.

Mrazek pernah menunjukkan koleksi arsipnya yang unik. Bundelan-bundelan itu isinya laporan intelijen ROB. Mata-mata itu terdiri dari tahanan politik juga. Tugas mereka mencatat perkembangan teman-temannya sendiri, sesama orang buangan. Hal-hal yang menurut mereka janggal, terekam dalam laporan. Laporan-laporan itu ditulis dalam bahasa Melayu pasar.

Sisa-Sisa Kamp

Menjelang kedatangan Jepang, Pemerintah Hindia Belanda memindahkan orang-orang buangan ke Australia. Di antara mereka ada yang dijadikan perwira NICA, bahkan KNIL. Kamp pembuangan di Boven Digoel yang dibangun pemerintah kolonial pun tak berbekas.

Bangunan penjara di dekat Kantor Polisi (Polres) Boven Digoel, juga beberapa rumah dinas perwira polisi, adalah bangunan baru yang dibuat Belanda setelah Perang Dunia II. Meski begitu, fungsi Boven Digoel tak pernah berubah sebelum Belanda angkat kaki dari Papua. Tokoh integrasi Papua ke Indonesia, Johanes Abraham Dimara, pernah dipenjara sejak 1954 hingga 1960.

Posisi dermaga yang sekarang pun bukanlah dermaga yang dahulu. Pada zaman Belanda, dermaga terletak di dekat pasar. Kamp Tanah Tinggi pun tak lagi ditemukan bekasnya. Selain itu, kuburan orang buangan pernah longsor, sehingga makam Marco Kartodikromo yang meninggal pada 1932 tak ditemukan. Tapi, makam Aliarcham yang meninggal 1933 masih ada. Keduanya meninggal karena malaria.

Kuburan-kuburan itu diakui sebagai Taman Makam Pahlawan Perintis Kemerdekaan Indonesia. Letaknya di Kampung B. Ada rumah-rumah di kampung ini, tapi bangunan-bangunan itu bukanlah peninggalan orang buangan yang dulunya berdinding kayu dan beratap seng. Rumah-rumah yang ada sekarang adalah rumah yang dibangun sendiri oleh warga di sana.

Di depan kantor polisi Digoel, ada satu patung besar Bung Hatta. Tepat di depan patung Hatta, ada sebuah bandara yang dibangun di masa pembuangan. Bandara ini kecil, hanya pesawat perintis yang bisa mendarat. Patung dan bandara itu menjadi saksi bahwa Boven Digoel adalah persinggahan, bahkan hunian terakhir, bagi orang-orang pergerakan yang tak mau mematuhi Belanda. Tanah Merah di Boven Digoel adalah tanah para pembangkang.

Baca juga artikel terkait BELANDA atau tulisan lainnya

tirto.id - Hukum
Reporter: Petrik Matanasi