Menuju konten utama

Buka Retret II, Gus Ipul Dengar Kisah Haru Kepala Sekolah Rakyat

Mensos Gus Ipul resmi membuka Retret Tahap II untuk 45 Kepala Sekolah Rakyat yang akan berlangsung pada 1-5 Juli 2025.

Buka Retret II, Gus Ipul Dengar Kisah Haru Kepala Sekolah Rakyat
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono membuka Retret Kepala Sekolah Rakyat Tahap II di Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi (Pusdiklatbangprof) Kementerian Sosial pada Rabu (2/7/2025). (FOTO/dok. Kemensos)

tirto.id - Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), bersama Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, secara resmi membuka kegiatan Retret Kepala Sekolah Rakyat Tahap II pada Rabu (2/5/2025). Pembukaan Retret tersebut berlangsung di Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi (Pusdiklatbangprof) Kementerian Sosial (Kemensos), Margaguna, Jakarta Selatan.

Kegiatan Retret Tahap II dijadwalkan selama 1-5 Juli 2025 di dua tempat di Jakarta Selatan, yakni Pusdiklatbangprof Margaguna dan Resimen Arhanud I Falatehan, Pesanggrahan. Sebanyak 47 Kepala Sekolah Rakyat berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Saat secara resmi membuka Retret Tahap II, Gus Ipul menegaskan bahwa pembekalan ini merupakan bagian dari strategi untuk mematangkan persiapan menjelang masa orientasi siswa serta peluncuran 100 Sekolah Rakyat pada 14 Juli mendatang.

"Ini [persiapan Sekolah Rakyat] sudah makin mantap untuk menuju 14 Juli [2025], baik dari kesiapan siswanya, kesiapan gurunya, kesiapan kepala sekolah, tenaga pendidiknya, sarana prasarananya," kata Gus Ipul.

Kepada para peserta Retret II, Gus Ipul mengingatkan bahwa Kepala Sekolah Rakyat memiliki peran krusial. Selain memimpin manajemen, Kepala Sekolah Rakyat juga harus menjadi panutan atau role model bagi murid-muridnya. Dia berharap mereka mampu memberikan inspirasi, motivasi, serta contoh dalam bekerja.

Gus Ipul juga meminta para Kepala Sekolah Rakyat untuk memperkuat empati sosial. Dengan begitu, mereka bisa memahami secara menyeluruh kondisi murid, guru, sekaligus lingkungan sekolahnya.

Menurut Gus Ipul, semua murid di Sekolah Rakyat memang berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, tetapi latar belakang mereka sangat bervariasi. Oleh karena itu, dia meminta kepala sekolah untuk memastikan lingkungan belajar di Sekolah Rakyat benar-benar kondusif, bebas dari perundungan maupun kekerasan dan intoleransi.

Upaya itu penting dilakukan agar, sesuai dengan amanat Presiden Prabowo Subianto, Sekolah Rakyat dapat memutus mata rantai kemiskinan dan membentuk generasi unggul Indonesia melalui jalur pendidikan.

Dalam penjelasannya, Gus Ipul juga memastikan akan ada tambahan 100 Sekolah Rakyat lagi, selain yang akan resmi dibuka pada 14 Juli 2025. Untuk 100 sekolah itu, masa matrikulasi atau orientasi siswa akan digelar secepatnya saat proses renovasi gedung masing-masing sudah tuntas.

Kemensos menargetkan sekitar 200 Sekolah Rakyat bisa dibuka pada 2025 dengan total daya tampung lebih dari 20.000 siswa SD, SMP hingga SMA. "Yang 100 titik [buka] di 14 Juli. Nanti, ada beberapa titik di 100 kedua yang Insya Allah gabung, tapi sebagian lagi mungkin di akhir Juli, tergantung kesiapan sarana-prasarana," kata Gus Ipul.

Cerita Haru dari Kepala Sekolah Rakyat

Sejumlah Kepala Sekolah Rakyat yang mengikuti Retret Tahap II mengaku terpanggil untuk turut berkontribusi dalam program pengentasan kemiskinan. Sebagian dari mereka memiliki tekad kuat terlibat dalam program ini karena mengalami kemiskinan semasa kecil.

Anis Al Aminatif Wardian Sari merupakan salah satu dari mereka. Kepala Sekolah Rakyat di Lamongan, Jawa Timur, tersebut berasal dari keluarga kurang mampu.

Anis mengaku beruntung dapat menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi karena memperoleh beasiswa saat duduk di bangku SMA dan kuliah.

Sebagai bentuk rasa syukur, Anis bertekad memberikan kontribusi terbaik kepada negara untuk memperbaiki nasib anak-anak yang mengalami kondisi seperti dia semasa kecil.

"Memang ini adalah caramu, Ya Allah, saya bisa give back, memberikan kembali apa yang sudah saya terima dalam hidup saya. Tidak hanya kepada negara, tetapi kepada anak-anak bangsa yang memang memerlukan. Harus bisa bangkit," kata Anis ketika mengungkapkan alasannya menjadi Kepala Sekolah Rakyat.

Kisah serupa disampaikan oleh Lalu Tuhiryadi, Kepala Sekolah Rakyat di Mamuju, Sulawesi Barat. Dia juga berasal dari keluarga kurang mampu.

Kemiskinan memaksa keluarga Lalu untuk bertransmigrasi dari Lombok ke Sulawesi Barat. Lalu mengaku beruntung bisa memperoleh pendidikan layak karena dukungan besar dari kekuarganya di tengah kekurangan.

Semula ia skeptis dengan program Sekolah Rakyat. Namun, setelah mencari informasi lebih banyak dari berbagai pihak, Lalu memahami Sekolah Rakyat merupakan ikhtiar pemerintah untuk memberikan perhatian kepada anak-anak kurang mampu.

Melalui program Sekolah Rakyat, menurut Lalu, anak-anak dari keluarga miskin mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan tanpa terhalang kendala ekonomi.

"Saya merasa pendidikan benar-benar bisa mengangkat derajat seseorang. Sehingga lewat program yang mulia ini, saya ingin ikut berkontribusi," kata Lalu.

Anis dan Lalu Tuhiryadi adalah dua Kepala Sekolah Rakyat yang akan mulai di-launching 14 Juli mendatang. Selain Lamongan dan Mamuju, masih ada 98 titik Sekolah Rakyat lagi yang akan memulai masa matrikulasi atau masa orientasi siswa pada 14 Juli mendatang.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis