Menuju konten utama

Bos Alam Sutera Ning King Meninggal Dunia di Usia 94 Tahun

Agro Manunggal Group yang didirikan Ning King mempekerjakan sekitar 22.000 orang dan mengoperasikan lebih dari 30 pabrik di seluruh Indonesia.

Bos Alam Sutera Ning King Meninggal Dunia di Usia 94 Tahun
Pendiri Agro Manunggal Group, Ning King, meninggal dunia pada usia 94 tahun. Foto: Instagram/alam_sutera_realty
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pendiri Argo Manunggal Group, Ning King, berpulang pada Minggu (2/11/2025). Sosok yang dikenal sebagai pengendali utama saham PT Alam Sutera Realty Tbk itu meninggal dunia di usia 94 tahun.

Kabar duka tersebut dikonfirmasi melalui unggahan resmi PT Alam Sutera Realty Tbk di media sosial. “Segenap Keluarga Besar Alam Sutera Group menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Kiranya damai dan terang Kasih Kristus senantiasa menyertai dan memberi penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan,” tulis akun Instagram @alam_sutera_realty, dikutip Senin (3/11/2025).

Dikutip dari situs Agro Manunggal Group, pria kelahiran Bandung pada 1931 ini memulai langkah pertamanya di dunia usaha lewat perdagangan tekstil pada 1949—masa ketika Indonesia baru menata kembali perekonomian pascakemerdekaan. Setahun kemudian, ia bersama beberapa mitra mendirikan PT Daya Manunggal Textile Mfg (Damatex), yang menjadi fondasi awal Argo Manunggal Group.

Bisnis Agro Manunggal kemudian berkembang pesat. Pada 1961, Ning King memperluas portofolionya ke sektor pertanian dengan mendirikan PT Peternakan Ayam Manggis Group di Sukabumi, Jawa Barat. Usaha ini kemudian tumbuh menjadi perusahaan agribisnis terpadu yang mencakup kegiatan parent stock, final stock, commercial layer & broiler, hingga perkebunan.

Dekade 1970-an menjadi titik penting transformasi bisnis Ning King. Saat itu, ia mendirikan PT Fumira pada 1970, yang bergerak di industri galvanis, dan kemudian membangun anak-anak perusahaan di bidang baja pada 1974. Keberhasilan di sektor industri dasar ini mengukuhkan reputasi Ning King sebagai pengusaha dengan visi industri jangka panjang.

Tiga tahun berselang, pada 1977, lahirlah PT Argo Pantes (PT AP) di Jakarta. Perusahaan tekstil ini beroperasi secara terintegrasi—mulai dari pemintalan, pewarnaan benang, penenunan, hingga pencetakan kain—dan menembus pasar ekspor ke lebih dari 40 negara. Argo Pantes menjadi salah satu simbol kebangkitan industri tekstil Indonesia di era itu.

Menjelang akhir 1980-an, Argo Manunggal Group mulai merambah sektor properti dan kawasan industri. Tahun 1989 menjadi penanda berdirinya dua perusahaan penting, yakni PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BeFa) selaku pengembang kawasan industri kelas dunia di Indonesia, dan PT Jakarta Cakratunggal Steel Mills yang merupakan perusahaan baja domestik yang berdiri di atas lahan 14,8 hektare.

Setahun kemudian, Argo Manunggal Group memperluas kiprahnya lewat pengelolaan kawasan industri MM 2100 Industrial Town di Jawa Barat—proyek seluas 1.200 hektare yang menjadi salah satu kawasan industri modern pertama di Indonesia.

Kemudian, pada awal 1990-an, PT Argo Pantes resmi melantai di Bursa Efek Jakarta pada 1991, disusul ekspansi besar-besaran di industri baja oleh PT Jakarta Cakratunggal Steel Mills pada 1992.

King kemudian memulai kiprahnya di sektor properti pada 1994, dengan memperoleh hak pengembangan atas lahan luas di Serpong dan mendirikan PT Alam Sutera, pengembang kawasan terpadu yang kemudian meluncurkan proyek Alam Sutera Township.

Sejak itu, bisnis propertinya berkembang pesat. PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2007, dan dua tahun kemudian akses tol langsung menuju kawasan Alam Sutera dibuka.

Pada 2012, perusahaan ini mengakuisisi 90,3 persen saham PT Garuda Adhimatra Indonesia, pemegang hak atas Garuda Wisnu Kencana (GWK) Park di Bali. Di tahun yang sama, PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BeFa) juga melantai di bursa dengan kode saham BEST.

Ekspansi yang dilakukan Ning King melalui ASRI tak berhenti. Tahun 2013, Alam Sutera meluncurkan Suvarna Sutera, kota baru seluas 2.600 hektare di Tangerang dengan konsep kawasan hunian terpadu yang modern dan hijau.

Di bawah generasi penerusnya, Argo Manunggal Group terus beradaptasi dengan memperkenalkan logo baru Fumira dan Cakrasteel sebagai bagian dari subholding Industrial by AMG pada 2020.

Setahun kemudian, mereka meluncurkan lini bisnis baru di sektor logistik bernama Logistics by AMG, yang menawarkan lima layanan utama: warehousing, contract logistics, distribution, enabler, dan value added services (VAS).

Kini, Argo Manunggal Group telah menjelma menjadi konglomerasi besar dengan portofolio bisnis yang meliputi tekstil, baja, properti, pertambangan, energi, pertanian, hingga logistik. Perusahaan ini mempekerjakan sekitar 22.000 orang dan mengoperasikan lebih dari 30 pabrik di seluruh Indonesia, dengan nilai penjualan mencapai lebih dari 1,2 miliar dolar AS per tahun.

Baca juga artikel terkait PROPERTI atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana