Menuju konten utama

BNPT Dorong Forum Dialog Perkuat Nilai Moderasi Beragama

BNPT akan terus memperkuat pemahaman keagamaan yang moderat, inklusif di masyarakat.

BNPT Dorong Forum Dialog Perkuat Nilai Moderasi Beragama
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Eddy Hartono di Pendopo Pengayoman Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (7/8/2025). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.

tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus memperkuat pemahaman keagamaan yang moderat, inklusif, dan sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat.

Upaya ini terus dilakukan BNPT dengan menggandeng sejumlah pihak, mulai dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Densus 88 AT Polri serta Pondok Pesantren LP3IA Al-Qur’an Narukan, Rembang, Jawa Tengah.

Kepala BNPT, Eddy Hartono, mengatakan forum dialog keberagaman dan moderasi Beragama dilakuka sebagai sarana pencerahan di dalam berbangsa dan sekaligus mendukung program deradikalisasi serta penguatan moderasi beragama.

"Forum dialog kebangsaan ini menjadi wadah pencerahan bagi kita semua yang hadir," ujar kepala BNPT saat menghadiri kegiatan tersebut pada Senin (22/12/2025) dilansir dari Antara.

Ia juga mendorong para mitra deradikalisasi untuk memanfaatkan momentum dialog sebagai ruang pembelajaran dan refleksi kebangsaan.

"Jadi gunakan waktu ini sebaik-baiknya dan ini merupakan pencerahan dan pembekalan untuk iman kita lebih tumbuh dan berkembang dalam rangka kita mengimplementasi sebagai Warga Negara Indonesia," tambahnya.

Penguatan nilai dialog dalam ajaran Islam turut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. Dirinya menilai bahwa melalui dialog dapat menjadikan orang untuk berpikir lebih objektif.

"Awal Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW itu sebagai agama dialog. Dialog itu menjadikan orang bisa berfikir objektif," jelas Gus Baha.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren LP3IA Al-Qur’an Narukan, Gus Umam, menekankan komitmen pesantren dalam mencetak santri yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan.

"Pondok pesantren Al-Quran selalu berkomitmen mendidik santri tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki sikap toleran, menghargai perbedaan, dan cinta terhadap NKRI. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga persatuan dan kedamaian bangsa," jelas Gus Umam.

Sementara itu, salah satu Mitra Deradikalisasi, Laswadi, mengungkapkan bahwa dialog kebangsaan memberikan dampak positif terhadap proses perubahan pemahaman.

"Dengan adanya dialog ini akan semakin menambah keyakinan saya akan perubahan dalam hal kearah yang lebih baik dalam bernegara berbangsa dan beragama," ujarnya.

Ia menilai dialog bersama para ulama menjadi sarana efektif untuk meluruskan pemahaman keagamaan yang keras dan intoleran.

"Yang intoleran itu sangat diperlukan sangat efektif dengan dialog tentunya sehingga dengan dialog itu juga memahami sebetulnya apa yg dirasakan oleh kawan-kawan yang pemahamannya keras," tutur Laswadi.

Baca juga artikel terkait BNPT

tirto.id - Sosial Budaya
Sumber: Antara
Editor: Bayu Septianto