Menuju konten utama

BNPB Rutin Uji Sistem Peringatan Dini Gunung Api

BNPB berkata pemerintah daerah juga memegang peran krusial yang setara dengan pemerintah pusat dalam mitigasi bencana gunung api.

BNPB Rutin Uji Sistem Peringatan Dini Gunung Api
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Kapusdatinkom) BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan keterangan saat konferensi pers perkembangan harian penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (10/9/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan lembaganya rutin melakukan uji sistem peringatan dini gunung api pada tanggal 26 tiap bulan. Langkah ini sebagai upaya untuk menguji sistem tersebut apakah masih berfungsi dengan baik atau tidak dalam memitigasi bencana gunung api.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menegaskan pemerintah daerah juga memegang peran krusial yang setara dengan pemerintah pusat dalam mitigasi bencana gunung api, khususnya melalui optimalisasi sistem peringatan dini.

"Kami dari BNPB tanggal setiap tanggal 26 mestinya ini harus diuji semua sistem peringatan dini, apakah jalan atau tidak," kata Berton dalam agenda diskusi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (11/9/2026).

Menurut Berton, kesiapsiagaan juga perlu dilakukan dengan memastikan jalur dan rambu evakuasi tetap tersedia serta dapat dibaca masyarakat. Sebab, sejumlah rambu yang sebelumnya telah dipasang pemerintah maupun organisasi nonpemerintah (NGO) dapat mengalami kerusakan seiring waktu.

"Ini kadang-kadang sudah berkarat. Bagaimana membersihkannya, bisa dibaca atau dimengerti oleh masyarakat hingga ini juga menjadi tantangan tersendiri," ucap Berton.

Berton menekankan koordinasi antarlembaga merupakan pilar utama dalam kesiapsiagaan bencana. Untuk mewujudkan penanganan yang terpadu, BNPB dan BPBD bermitra dengan Badan Geologi dalam memantau dinamika gunung api, sekaligus menggandeng BMKG guna memetakan potensi dampaknya pada jalur penerbangan serta kondisi perairan.

Kesiapsiagaan bencana juga menyasar pada kesiapan lokasi pengungsian dan skema evakuasi warga. Berton mengungkapkan, BNPB kini mengembangkan konsep sister village--sebuah pola kerja sama antardesa yang memungkinkan desa aman siap menampung warga pengungsi saat terjadi erupsi gunung api.

"Kami mengembangkan sebenarnya village sister, di Gunung Semeru misalnya, penduduknya ada di KRB [Kawasan Rawan Bencana] 3 atau KRB 2, ketika mengungsi aktif gunungnya, ini bisa pergi ke desa-desa yang memang yang sudah kita rekomendasikan," tuturnya.

BNPB menilai evakuasi tidak hanya perlu memperhitungkan keselamatan manusia, tetapi juga ternak milik warga. Menurut Berton, ternak sering menjadi bagian dari harta benda yang ingin diselamatkan masyarakat ketika terjadi erupsi.

"Waktu di Gunung Agung misalnya, kami menyewa atau men-deploy truk untuk mengangkut ternak-ternak sampai ke kedaruratan dan menyiapkan pakan ternak di daerah yang aman," tutup Berton.

Baca juga artikel terkait GUNUNG API atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama