tirto.id - Pekan ketiga November 2025, Gunung Semeru kembali mengalami erupsi disertai luncuran awan panas sejauh 7 kilometer dari pusat erupsi. Erupsi itu terjadi sore hari, 19 November, tepatnya pukul 16.00 WIB.
Tinggi kolom letusan teramati sekitar 2.000 meter di atas puncak atau 5.676 mdpl. Saat itu, kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan barat laut.
Buntut aktivitas vulkanik ini, status Gunung Semeru jadi meningkat, dari Siaga (level III) menjadi Awas (level IV) hanya dalam hitungan jam—sebuah tingkat tertinggi dalam status gunung api di Indonesia. Erupsi ini menyebabkan 21 rumah dan satu gedung sekolah rusak. Sedangkan, jumlah pengungsi di sembilan lokasi dengan total 1.116 jiwa, mengutip laporan Kompas.com.
Semeru memang merupakan gunung aktif yang bergejolak sepanjang hari. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan, sejak kalender memasuki tahun 2025 sampai penghujung November ini, gunung di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang ini mengalami 2.812 kali letusan (per Senin, 24/11/2025).
Angka itu menjadikan Gunung Semeru bertengger di peringkat pertama gunung api dengan letusan terbanyak. Di bawah Semeru, ada Gunung Ibu yang terletak di Maluku Utara (2.551 letusan), dilanjutkan Gunung Lewotobi Laki-Laki di Nusa Tenggara Timur (NTT) (702 letusan).
Hasil pengamatan visual Gunung Semeru pada Sabtu (23/11/2025) menunjukkan, "Gunung api tertutup Kabut 0-II hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah utara."
Sejarah panjang erupsi Gunung Semeru
Gunung Semeru punya sejarah panjang dengan erupsi. Pada akhir 2021 misalnya, letusan Gunung Api Semeru sempat menjadi sorotan lantaran mencatat korban meninggal hingga 51 jiwa dan lebih dari 10.000 orang mengungsi.Meski tercatat mengalami letusan sejak 1818, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, letusan yang terekam pada 1818 hingga 1913 banyak yang tak terdokumentasikan.
Pada 1941-1942, terekam aktivitas vulkanik Gunung Semeru dengan durasi panjang. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan aliran lava terjadi pada periode 21 September 1941 hingga Februari 1942. Saat itu letusan sampai di lereng sebelah timur dengan ketinggian 1.400 hingga 1.775 meter. Material vulkanik hingga menimbun Pos Pengairan Bantengan.
Aktivitas vulkanik Semeru juga tercatat beruntun pada 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955 – 1957, 1958, 1959, hingga 1960. Tak berhenti di situ, pada 1 Desember 1977, paku bumi Pulau Jawa kembali melanjutkan aktivitas vulkanik.
Guguran lava saat itu menghasilkan awan panas guguran dengan jarak hingga 10 km di Besuk Kembar. Volume endapan material vulkanik yang teramati mencapai 6,4 juta m3, sementara awan panas juga mengarah ke wilayah Besuk Kobokan. Saat itu sawah, jembatan dan rumah warga rusak.
“Aktivitas vulkanik berlanjut dan tercatat pada 1978 – 1989. PVMBG juga mencatat aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007 dan 2008,” ujar juru bicara BNPB, Abdul Muhari dalam catatannya di situs BNPB.
Pada tahun 2008, tercatat beberapa kali erupsi, yaitu pada rentang 15 Mei hingga 22 Mei 2008. Teramati pada 22 Mei 2008, empat kali guguran awan panas yang mengarah ke wilayah Besuk Kobokan dengan jarak luncur 2.500 meter.

Penyebab Aktivitas Vulkanik Semeru Belakangan
Pakar Manajemen Kebencanaan Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mengatakan, secara umum erupsi Gunung Semeru berulang dan berjenis Strombolian. Jenis ini umumnya lebih eksplosif daripada Hawaian, dengan letupan dan semburan gas yang teratur. Letusan ini umumnya terjadi selama 15 - 30 menit.
Meski begitu, Teguh bilang, erupsi yang cukup besar alias jenis Vulcanian juga pernah dialami Gunung Semeru beberapa kali. Letusan ini sangat ditentukan besaran energinya. Jika energinya kecil, maka akan menghasilkan letusan kecil, sehingga saat energi yang berkumpul besar, maka akan menciptakan erupsi yang besar.
“Sejak 2020, 2021, 2022 kemarin itu ada kecenderungan baru yang sering disebut sebagai awan panas guguran atau APG. Nah, karena kalau status gunung api itu sifatnya dari data-data magmatisme, maka yang guguran itu dari kecenderungan erupsi ya, 'erupsi' dalam tanda petik kalau menurut saya sebenarnya, kubah lava yang mengalami guguran,” kata Teguh saat dihubungi jurnalis Tirto, Jumat (21/11/2025).

Menyoal aktivitas vulkanik Gunung Semeru belakangan, dia berpendapat bahwa penyebabnya adalahnya akumulasi kubah lava, yang dipicu oleh getaran dan hujan. Hal itu kemudian membuat kubah lava tak stabil lalu menciptakan awan panas.
“Nah, pemicunya ya pertumbuhan kubah lava dan gangguannya. Gangguannya yang paling sering dari kasus 2000, 2001, 2002, 2003 itu hujan. Jadi, kalau ada hujan, di satu sisi beban, di satu sisi pemanasan juga,” ujar Teguh.
Dengan semakin banyaknya volume atau besarnya kubah lava dan lidah lava, dia menyebut, intensitas ancaman maupun intensitas risiko pun ikut meningkat. Menurut Teguh, yang paling berbahaya dari erupsi Semeru sejauh ini adalah aliran piroklastik atau awan panas.
Aliran piroklastik sangat dikontrol oleh gravitasi dan cenderung mengalir melalui daerah rendah atau lembah. Mobilitas tinggi aliran piroklastik dipengaruhi oleh pelepasan gas dari magma atau lava atau dari udara yang terpanaskan pada saat mengalir.
“Awan panas itu sebenarnya rata-rata ya, nggak beda gunung api satu dengan yang lainnya. [Suhunya] 300 derajat Celcius jelas lebih sampai 700 [derajat Celcius] begitu. Lantas kecepatannya di atas 100 kilometer per jam,” kata Teguh.
Ke depan dalam waktu dekat, ancaman erupsi dari Gunung Semeru ditaksir masih terus ada. Kubah dan lidah lava jadi awan panas guguran, lantas berikutnya adanya endapan membentuk lahar.
Dia juga mengimbau agar adanya pembatasan aktivitas yang ketat dan upaya mitigasi. “Jangan nambang, di satu sisi ya juga perlu didesain di pembatasan pertambangan dan menambah jalur evakuasi,” ujarnya.
Tantangan Pemandu untuk Edukasi Pendaki
Di situasi “awas”, para pendaki memang tak seharusnya melakukan aktivitas pendakian di Gunung Semeru. Kendati begitu, edukasi kepada pendaki ini kadangkala masih menjumpai tantangan. Hal itu disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Rahman Mukhlis.
“Tantangan melawan ego para pendaki yang tetap nekat ingin mendaki dan mungkin sudah jauh-jauh datang dari berbagai daerah ke Semeru. Tapi demi keselamatan bersama petugas harus tegas, pemandu, organisasi/komunitas-komunitas juga harus tegas mengedukasi mereka,” kata Rahman kepada Tirto, Minggu (23/11/2025).
Dia menjelaskan, seringnya aktivitas erupsi Gunung Semeru dan kondisi pandemi COVID-19 membuat pendakiannya menjadi terbatas. Gunung Semeru seringkali ditutup dalam jangka waktu yang panjang dan ketika dibuka, juga ada pembatasan kunjungan–hanya bisa sampai Ranu Kumbolo, tidak bisa ke puncak, Mahameru.
“Tapi ini bagus juga semua demi keselamatan dan keamanan pendaki juga. Lalu terdapat juga perubahan regulasi dari TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) terkait kuota pendakian serta kebijakan wajib menggunakan pendamping lokal atau pemandu/porter dari PPGST (Pemandu Pendakian Gunung Semeru Terdaftar),” lanjut Rahman.
Pemandu sendiri disebut bekerja berdasarkan SKKNI atau Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia, Kepmenaker 138/2011 yang kemudian diperbaharui menjadi Kepmenaker 074/2024). Selain itu mereka juga mengacu SOP yang dibuat oleh setiap destinasi, termasuk Gunung Semeru. Standar tersebut kata Rahman, telah ada sejak Agustus 2025, lengka[ dengan pengelolaan pendakian dan Panduan Grade Jalur.
“Saat kondisi bencana misal status dinaikan, seluruh pendaki yang saat kejadian erupsi berada di gunung, segera turun ataupun juga dibantu evakuasi untuk turun. Kemudian pendakian gunungnya ditutup dalam periode waktu tertentu,” ujar Rahman.
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id































