Menuju konten utama

Kabar Gunung Semeru Hari Ini, Status, & Kondisi Pengungsi

Simak laporan terbaru aktivitas dan status Gunung Semeru pada Jumat (21/11/2025). Ketahui pula kondisi pendaki yang sebagian sudah kembali ke rumah.

Kabar Gunung Semeru Hari Ini, Status, & Kondisi Pengungsi
Warga mengevakuasi ternak dari rumahnya yang terdampak erupsi Gunung Semeru di Desa Supiturang, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (20/11/2025). ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/nz

tirto.id - Gunung Semeru berdasarkan laporan terakhir pada Jumat (21/11/2025) periode pukul 12.00-18.00 WIB, masih berstatus Level IV atau Awas. Berdasarkan laporan MAGMA Indonesia, Gunung Semeru hari ini terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Lalu cuaca mendung hingga hujan, serta angin lemah ke arah tenggara.

Petugas pos pengamatan, Wahyu Wijayanto, melaporkan aktivitas periode 12.00-18.00 WIB hari ini bahwa Gunung Semeru mengalami 42 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 12-22 mm dan lama gempa 71-180 detik.

“5 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-3 mm dan lama gempa 68-84 detik. 1 kali gempa Getaran Banjir dengan amplitudo 43 mm, dan lama gempa 6499 detik,” lapor Wahyu Wijayanto melalui MAGMA Indonesia milik Kementerian ESDM, Jumat petang.

Meski demikian, situasi di sejumlah wilayah terdampak disebutkan sudah berangsur membaik. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan sebagian pengungsi saat ini sudah mulai kembali ke rumah masing-masing.

Update Gunung Semeru 21 November 2025 & Penanganan Dampak Erupsi

Hingga laporan Jumat (21/11/2025) sore, sebagian besar pengungsi erupsi Gunung Semeru sudah kembali ke rumah masing-masing. Sebelumnya, Pusat Pengendalian Operasi BNPB mencatat jumlah pengungsi 1.116 jiwa, tersebar di 9 lokasi pengungsian, berdasarkan data terakhir pada Kamis (20/11/2025) pukul 19.30 WIB.

Ribuan orang ini sebelumnya mengungsi di Rumah Kepala Desa Sumbermujur, Kantor Kecamatan Candipuro, Pom Mini Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojoyo, SDN Supit Urang 04, SDN Sumber Urip 02, Balai Desa Oro-oro Ombo, Masjid Nurul Jadid Desa Supit Urang, Bumdes Desa Sumber Urip, dan Masjid Oro-oro Ombo.

Selain itu, beberapa orang yang terjebak di Ranu Kumbolo saat Gunung Semeru mengalami erupsi pada Rabu (19/11/2025), sudah dievakuasi dengan selamat. Mereka turun dari Ranu Kumbolo tersebut pada Kamis menuju kembali ke titik awal pendakian.

"Termasuk 187 pendaki Gunung Semeru yang sebelumnya dilaporkan berada di jalur Ranu Kumbolo juga telah berhasil turun dengan selamat," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, dikutip dari ANTARA, Jumat.

Terkait warga yang kembali ke rumah, pemerintah pemerintah masih tetap menyalurkan layanan dasar bagi mereka. Hal itu dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan dengan mendirikan dapur umum, mendistribusikan bantuan logistik dan peralatan seperti permakanan, selimut, terpal, hingga alat pelindung diri (APD).

Di samping pemenuhan kebutuhan itu, penanganan darurat saat ini juga dilakukan untuk pembersihan material debu dan lumpur yang menghambat akses serta aktivitas warga. Salah satu pembersihan itu juga membuat akses lalu lintas dari Lumajang-Malang melalui Gladak Perak, kembali dibuka

"Pembukaan akses ini penting dilakukan untuk mengurai kemacetan yang sempat terjadi akibat penutupan jalur setelah erupsi," ujar Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati dikutip dari ANTARA.

Hingga Jumat sore, tidak ada laporan korban jiwa akibat erupsi, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes-P2KB) Lumajang melalui unggahan Instagram-nya.

Sedangkan, 3 orang terdampak dirawat inap sampai saat ini karena luka berat. Ketiga orang tersebut mendapatkan layanan kesehatan di RSD dr. Haryoto Lumajang. Lalu Dinkes-P2KB masih mencatat ada ratusan penduduk kelompok rentan, di antaranya 6 bayi, 20 balita, 130 anak-anak, 4 ibu hamil, 8 buteki, 214 lansia, 4 disabilitas, dan 1 ODGJ.

Penangan bencana tidak hanya dilakukan ke warga. Pemerintah Kabupaten Lumajang menyebutkan, ada 161 ekor kambing dan domba yang dievakuasi dari dua wilayah paling dekat dengan zona bahaya, yaitu Dusun Curahkobokan di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, serta wilayah eks Dusun Kajarkuning.

Dari jumlah itu, ternak yang masih terdata hingga Kamis sore sejumlah 4 ekor sapi dan 139 ekor kambing-domba. Pemerintah setempat memberikan bantuan pakan ternak yang masih selamat tersebut. Sebelumnya, ratusan ternak mati guguran awan panas yang di antaranya berada di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, hingga Kecamatan Pronojiwo.

"Ketika ternak warga selamat, ada harapan yang ikut bertahan. Pemberian pakan bukan hanya soal menjaga hewan tetap hidup, tetapi memastikan roda ekonomi keluarga tak ikut terhenti," kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lumajang Endra Novianto, dikutip dari ANTARA, Jumat.

Sementara itu, meski situasi mulai membaik, status Level IV atau Awas tetap diberlakukan untuk mengantisipasi aktivitas lanjutan yang masih berpotensi terjadi. Pemerintah Kabupaten Lumajang juga menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Alam yang berlaku aktif hingga 26 November.

Sementara itu, masyarakat di sekitar bisa mencermati rekomendasi, salah satunya yang dikeluarkan MAGMA Indonesia berikut:

  • Tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 20 km dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar
  • Tidak beraktivitas dalam radius 8 Km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
  • Mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

Baca juga artikel terkait GUNUNG SEMERU atau tulisan lainnya dari Dicky Setyawan

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Dicky Setyawan
Editor: Yantina Debora