tirto.id - Gunung Dukono di Maluku Utara mengalami erupsi dahsyat pada Jumat (8/5/2026), menyebabkan tiga pendaki tewas dan beberapa yang lain mengalami luka. Dua dari tiga pendaki merupakan warga negara Singapura. Bagaimana profil gunung tersebut?
Gunung Dukono meletus pada Jumat pagi sekira pukul 07.41 WIT. Letusan gunung dilaporkan terjadi dengan dahsyat, puncak gunung menyemburkan material vulkanik. Abu vulkanik disebut membumbung tinggi hingga 10.000 meter ke langit.
Nahas, gunung tersebut meletus ketika sejumlah orang tengah mendaki. Kapolres Halmahera Utara AKBP Erlichson Pasaribu menyebut bahwa ada 20 pendaki di gunung saat erupsi hendak terjadi.
Mereka terdiri dari 9 warga negara asing dan 11 warga lokal. Sedikitnya tiga pendaki telah dinyatakan meninggal dunia.
Erlichson menyebut bahwa proses evakuasi sempat terkendala karena adanya aktivitas vulkanik susulan. Jenazah korban juga sempat tak bisa dijangkau oleh petugas tim SAR gabungan.
Berdasarkan update pada Jumat sore, tim SAR gabungan telah mengevakuasi 14 orang. Tim SAR juga tengah melakukan pencarian terhadap dua warga negara asing yang diduga masih terjebak di atas gunung.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM mencatat bahwa erupsi Gunung Dukono di Maluku Utara tersebut disertai suara dentuman yang bervariasi dari lemah hingga kuat. Seismogram merekam erupsi tersebut terjadi dengan amplitudo maksimum 34 mm dan durasi 967,56 detik.
Profil Gunung Dukono
Gunung Dukono merupakan gunung api yang terletak di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Gunung berapi ini merupakan salah satu gunung paling aktif yang ada di Indonesia.
Gunung ini dikenal karena mengalami erupsi secara terus menerus sejak 1933. Pada 1933, Gunung Dukono mengalami erupsi dahsyat. Aliran lava melimpah ke arah utara dan telah merusak banyak wilayah di sekitarnya. Setelahnya, erupsi terus terjadi hingga kini.
Namun, sebelum 1933, Dukono juga tercatat telah mengalami erupsi besar. Salah satu yang tercatat adalah erupsi di tahun 1550. Erupsi saat itu merusak Kota Tolo dan aliran lavanya membuat Gunung Mamuya menyatu dengan Pulau Halmahera meski sebelumnya terpisah laut.
Karakteristik dari gunung setinggi 1.335 meter di atas permukaan laut ini, membuat pendakian Dukono diawasi ketat. Penjagaan yang lebih ketat itu termasuk aturan bagi pendaki untuk tidak mendekati radius 2 km dari Kawah Malupang Warirang yang merupakan kawah paling aktif di gunung tersebut.
Gunung ini memiliki beberapa kawah terpisah. Selain Malupang Warirang, terdapat kawah Tanah Lapang, Dilekene, Malupang Magiwe, dan Heneowara. Beberapa di antara kawah-kawah tersebut telah dinyatakan tidak aktif.
Aktivitas vulkanik yang sangat aktif dari Dukono juga membuat gunung ini kerap mengeluarkan suara gemuruh menyerupai mesin pesawat jet. Suaranya dapat terdengar hingga jarak beberapa kilometer.
Sementara itu, bentang alam Gunung Dukono didominasi oleh hamparan pasir dan bebatuan vulkanik yang gersang. Kawah pada gunung memiliki vegetasi yang minim karena aktivitas vulkanik yang terus aktif.
Karakteristik vulkanis dan bentang alam tersebut membuat Dukono kerap jadi destinasi bagi peneliti atau fotografer spesialis vulkanologi.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id































