tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.
Plt Kepala Pusat Data Infomasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan, upaya operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan agar pendinginan bisa terbantu selain melakukan pemadaman melalui darat dan udara. Terbaru, OMC dilakukan dengan penyemaian garam pada Jumat (28/8/2026) pukul 16.00 WIB.
"Ini adalah operasi modifikasi cuaca per tanggal 28 jam 16:00 waktu Indonesia bagian barat kemarin," kata Berton saat konferensi, dikutip dari kanal YouTube BNPB, Sabtu (29/8/2026).
Dia mengatakan, total garam atau NaCl yang disemaikan sebanyak 6.200 kg untuk wilayah Riau, Jambi, Kalimantan Barat (Kalbar), Sumatra Selatan (Sumsel), dan Lampung.
Sementara itu, kata Berton, modifikasi cuaca belum dapat dilakukan di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) karena tidak ditemukan bibit awan dikedua wilayah tersebut berdasarkan pengamatan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
"Di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan tidak dapat dilakukan operasi ini karena berdasarkan pengamatan dari BMKG bahwa titik-titik awan atau bibit-bibit awan tidak ditemukan di dua provinsi ini dan dari sekian banyak dilakukan operasi modifikasi cuaca di beberapa kabupaten sudah turun hujan. Jadi, ini mengoptimalkan penurunan hujan di beberapa kabupaten atau beberapa titik untuk mengairi titik-titik yang sudah mengering ataupun panas," ujar Berton.
Lebih lanjut, dia juga mengatakan bahwa titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah karhutla mengalami kenaikan. Hal ini, kata Berton, menunjukkan adanya peningkatan kekeringan. Sementara itu, terdapat penurunan data titik api yang menunjukkan bahwa penahanan karhutla telah mulai menunjukkan hasil.
Berton juga mengatakan bahwa data polutan dari BMKG menunjukkan bahwa angin membawa polutan hingga ke Serawak, Malaysia, melalui Laut Cina Selatan.
"Hampir tidak beda dengan yang kemarin, cuma di sini lebih jelas kita lihat dari yang kemarin bahwa polutan itu lebih terang saat ini ke utara ya terbang ke utara, yang kemarin masih blur sekarang sudah lebih jelas yang artinya memang ini angin membawa polutan dari Kalimantan terutama pergi sampai menyeberangi Sarawak dan sampai ke Laut Cina Selatan," tutur Berton.
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id































