Menuju konten utama
Byte

Betapa Absurd dan Adiktif Menonton Drama Romansa Buah-buahan

(Konten) "sampah" berserakan di mana-mana. Tapi, kita sendiri tiada henti memungutnya. Kini, ia lebih absurd: "sinetron" romansa bertokoh buah-buahan.

Betapa Absurd dan Adiktif Menonton Drama Romansa Buah-buahan
Fruit Love Island. (TikTok/@fruitloversisland)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bayangkan sebuah acara realitas serupa Love Island. Sekelompok laki-laki dan perempuan "diasingkan" ke pulau tropis indah sepanjang musim panas. Di pulau itu, para peserta punya satu misi: mencari "cinta sejati".

Untuk itu, mereka dipersilakan berkencan dengan siapa pun. Lalu, chemistry masing-masing pasangan akan diuji lewat serangkaian tugas dan misi yang berbeda di tiap episodenya. Di akhir cerita, pasangan yang berhasil menunjukkan progres dan chemistry (terlihat) nyata akan menjadi pemenang. Hadiahnya bukan cuma sejumlah uang, tetapi kesempatan menjalin kontrak dengan berbagai jenama.

Acara realitas semacam ini jelas bukan hal baru. Premis dan awal ceritanya memang selalu sama. Akan tetapi, yang biasanya membedakan adalah jenis tantangannya. Acara realitas Too Hot To Handle yang disiarkan di Netflix, misalnya, punya pantangan ketat bagi para pesertanya: dilarang keras "menunjukkan rasa cinta" dengan mengumbar birahi karena yang dicari adalah "progres internal" dari dalam hati.

Lalu, apa jadinya apabila acara seperti itu tidak diikuti oleh manusia, melainkan buah-buahan, dan semuanya merupakan hasil ciptaan akal imitasi alias AI. Di TikTok, salah satunya lewat akun Ai Cinema, tontonan macam ini sedang digandrungi banyak orang.

Akun Ai Cinema tercatat memiliki 2,7 juta pengikut. Semua videonya sudah ditonton jutaan kali. Total, ada 13 video yang saat ini tampak di beranda, dengan 12 di antaranya merupakan episode, atau potongan episode, dari "acara realitas" yang diberi tajuk Fruit Love Island.

Di video-video tersebut, mereka benar-benar menampilkan skenario cheesy ala Love Island dengan karakter AI slop yang sebenarnya cukup absurd untuk dicerna akal sehat, tetapi entah mengapa begitu adiktif.

Selain Fruit Love Island, di TikTok ada banyak drama-drama pendek AI slop lain yang, bisa dibilang, bergenre serupa, yaitu romansa. Akan tetapi, kebanyakan skenarionya cukup tabu karena mengglorifikasi perselingkuhan. Bahkan, satu video non-Fruit Love Island yang diunggah Ai Cinema pun mengandung unsur demikian.

Tren ini sebenarnya tidak muncul dari Fruit Love Island. Jauh sebelum seri "acara realitas" itu lahir, sudah ada konten buah-buahan AI yang lebih dulu menjamur di TikTok sejak Februari 2026, dimulai oleh akun bernama @trombonechef. Video pertamanya mengisahkan sesosok stroberi perempuan yang berselingkuh dengan bosnya, terong, lalu melahirkan bayi bukan berasal dari suaminya, yang sesama stroberi. Singkat kata, plotnya seperti sinetron. Hanya saja, semua pemerannya adalah buah-buahan yang dibuat oleh AI.

Dari sana, plot-plotnya makin tidak keruan. Muncul video stroberi yang melempar bayinya dari atas kapal pesiar. Ada pula parodi serial remaja The Summer I Turned Pretty dengan judulThe Summer I Turned Fruity.The Fruitpire Diaries, yang meniru The Vampire Diaries dan Food Is Blind, yang terinspirasi dari Love Is Blind milik Netflix, juga jadi bagian dari tren.

Secara teknis, video-video ini dibuat menggunakan generator teks-ke-video berbasis AI, seperti Google Veo, Kling AI, dan Sora. Salah satu kreator mengungkapkan kepada Wired contoh teks perintah yang ia gunakan: "Anthropomorphic strawberry character with a sassy facial expression, small jeweled crown on her leaf, glossy red skin, thin cartoon arms and legs, hands on hips. Confident pose. Hyper-saturated colors, soft studio lighting, white background. Pixar-meets-brainrot style. Full body shot, 9:16 vertical format."

Dari situ, keluarlah rekaman mentah beberapa detik bergaya animasi, yang kemudian dirangkai menjadi drama pendek berdurasi satu hingga dua menit.

Kualitas hasilnya? Sangat jauh dari layak. Kostum karakter bisa berubah di tengah adegan yang sama, dialog diucapkan dengan pelafalan aneh, dan alur ceritanya jauh dari kata "Oscar material". Tapi, justru itulah yang membuatnya menarik perhatian.

Tak Berkualitas, tapi Kenapa Laris Manis?

Lalu, jika manusia diciptakan berakal dan bisa membedakan yang hak dan yang batil, mengapa konten seperti ini laris manis?

Dua akademisi dari Australian Catholic University, Profesor Niusha Shafiabady dan Profesor Theresa Dicke, menjelaskan bahwa video-video tersebut mengeksploitasi fitur inti dari psikologi manusia. Otak kita sangat sensitif terhadap hal-hal baru dan tidak terduga, dan keduanya berkaitan erat dengan sinyal dopamin dalam proses pembelajaran berbasis hadiah.

Pola ini dikenal sebagai variable reinforcement, yaitu ketika seseorang tidak tahu pasti kapan hadiah itu bakal didapatkan, atau jenis hadiah apa yang bakal diterima, dia bakal menjadi lebih gigih melakukan sesuatu. Kita tidak tahu video berikutnya akan terasa konyol, mengharukan, atau justru menggelikan. Rasa ingin tahu itulah yang membuat kita terus menggulir layar.

Ada pula fenomena yang disebut uncanny valley. Representasi yang mendekati manusia, tidak sepenuhnya terasa manusiawi, bakal menimbulkan rasa tidak nyaman. Sementara itu, video buah-buahan AI duduk di zona abu-abu. Ia cukup aneh untuk membangkitkan rasa penasaran, tapi tidak cukup mengganggu untuk membuat kita berhenti menonton.

Faktor eskapisme juga berperan besar. Caroline Deery, kreator konten berusia 29 tahun dari Los Angeles, mengatakan kepadaNew York Times bahwa daya tarik video-video itu sebagian besar karena memberikan eskapisme atau kesempatan untuk lari sejenak dari kenyataan.

Fruit Love Island

Fruit Love Island. (TikTok/@fruitloversisland)

Saking viralnya, tren itu bahkan menarik perhatian tokoh-tokoh publik. Penyanyi pop Zara Larsson sempat mengunggah video di TikTok yang menunjukkan betapa ia sudah terseret dalam drama buah-buahan AI tersebut, sebelum menghapus unggahannya karena dianggap mempromosikan konten AI generatif.

Dari sudut pandang akademis, Michael Grabowski, profesor komunikasi dari Manhattan University, melihat tren ini sebagai versi video dari fan fiction. "Acara seperti Love Island mengandalkan arketipe sederhana dan dinamika yang mudah ditebak, yang membuatnya sangat mudah direplikasi dan di-remix oleh AI dalam skala besar," ujarnya kepada NBC News.

Jessica Maddox, profesor studi media dari University of Georgia, menambahkan, "Saya pikir karena para kreator ini menggunakan IP [Intellectual Property] yang sangat mudah dikenali seperti Love Island. Hal itulah yang membantu genre ini menjadi populer.”

Misoginis, Seksis, dan Rasis

Sepintas, tren menonton romansa buah-buahan tak ubahnya seperti menonton sinetron atau telenovela di siang bolong. Akan tetapi, ada sisi gelap yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Yang paling menonjol adalah soal tema dan stereotipe. Karakter buah perempuan berulang kali digambarkan dalam skenario yang merendahkan, mulai dari dipermalukan, diusir dari rumah, hingga adegan tersirat kekerasan seksual.

Maddox menyebutnya sebagai tiruan dari kekerasan nyata terhadap perempuan, yang sering kita lihat di acara realitas. Bedanya, acara realitas biasanya sudah disensor sedemikian rupa. Sementara itu, tontonan romansa buah-buahan itu begitu kelewat batas.

Selain itu, unsur rasialisme tak bisa dikesampingkan. Dalam beberapa video, terdapat karakter laki-laki kekar di gimnasium yang digambarkan dengan buah semangka. Hal ini mungkin subtil dan tidak bisa langsung tertangkap sebagai wujud rasialisme. Akan tetapi, di AS, setidaknya, semangka dikenal sebagai buah favorit orang kulit hitam, khususnya Afro-Amerika. Asosiasi ini tak jarang juga dibuat dengan maksud denotatif dan merendahkan, merujuk pada karikatur-karikatur dari era perbudakan.

Satu hal lain yang mengundang kontroversi, tak lain, adalah fakta bahwa semuanya dibuat dengan AI. Ada kekhawatiran nyata soal ketergantungan terhadap AI, mulai dari soal masa depan pekerja kreatif sampai isu lingkungan. Dengan membiarkan konten-konten AI slop menjadi populer, kita memberi ruang kepada penggunaan AI berskala masif sekaligus destruktif.

Sayangnya, meski punya sisi gelap yang tak bisa dibiarkan begitu saja, tren tersebut sepertinya tidak akan segera berlalu. Suka tidak suka, konten AI generatif memang sudah makin menyatu dengan budaya digital arus utama, terlepas dari kualitasnya.

Memusnahkannya bisa dibilang mustahil. Akan tetapi, ada sejumlah langkah yang setidaknya bisa dilakukan agar kita tidak sampai kecanduan.

Shafiabady dan Dicke dalam kolomnya di The Conversation menyebut empat langkah yang bisa dilakukan secara individual.

Pertama, berhenti sejenak sebelum menggulir ke video berikutnya. Jeda sesaat sekalipun bisa mengurangi keinginan-menggamit-"hadiah" yang ada dalam otak.

Kedua, latih ulang algoritma dengan melewati atau menyatakan "tidak tertarik" pada konten macam itu.

Ketiga, ciptakan friksi dengan platform tempat konten itu berada, misalnya tidak menaruh pintasan di layar utama.

Terakhir, detoks digital secara penuh.

Namun, tentu saja, yang benar secara teoritis tak selamanya mudah dilakukan. Saran-saran dari kedua ahli tadi memang masuk akal. Akan tetapi, kebanyakan dari kita tidak berbeda dengan Zara Larsson. Kebanyakan dari kita butuh asupan dopamin instan usai bekerja dan beraktivitas seharian, dan hiburan-hiburan "sampah" seperti Fruit Love Island menawarkan jalan pintas.

Celaka, memang, tetapi beginilah realitas yang dihadapi banyak orang. Kalau tidak, mana mungkin konten-konten seperti itu bisa sepopuler sekarang?

Baca juga artikel terkait VIDEO TIKTOK atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin