tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, hingga Sabtu (2/1/2026), jumlah korban jiwa akibat banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara, bertambah 10 orang. Total korban meninggal hingga pagi tadi tercatat mencapai 1.167 jiwa.
"Hingga hari ini, pencarian dan pertolongan dilakukan oleh tim SAR gabungan masih diteruskan, khususnya di provinsi yang masih meneruskan status tanggap darurat, provinsi dan kabupaten/kota yang masih memperpanjang status tanggap darurat. Karena memang untuk operasi pencarian dan pertolongan ini, salah satu aspek kunci yang dilakukan pada fase tanggap darurat. Hari ini ada penambahan dari Aceh Utara sebanyak 10 jiwa, sehingga per hari ini, 3 Januari 2026, total korban jiwa meninggal dunia menjadi 1.167 jiwa," papar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers, dikutip dari akun YouTube resmi BNPB, Sabtu (3/1).
Jika dirinci, jumlah korban meninggal paling banyak berasal dari Aceh Utara, yang berjumlah 226 jiwa, kemudian disusul oleh Kabupaten Agam dengan jumlah korban meninggal mencapai 192 orang, Tapanuli Tengah sebanyak 127 orang, Aceh Tamiang 101 orang, dan Tapanuli Selatan sebanyak 88 orang.
Sementara itu, jumlah korban hilang sampai hari ini masih sebanyak 165 orang.
"Tentu saja sekali lagi, simpati dan belasungkawa yang mendalam untuk para keluarga korban," lanjut Abdul.
Di sisi lain, dengan pembersihan kawasan pemukiman oleh aparat gabungan, masyarakat, relawan, dan entitas yang terlibat, jumlah pengungsi telah mengalami pengurangan secara signifikan. Sampai hari ini, jumlahnya masih ada sebanyak 257.780 orang.
"Ini menunjukkan bahwa di samping progres pembersihan kawasan [yang] saat ini sangat intensif dilakukan, aparat gabungan, masyarakat, relawan, dan segenap entitas yang terlibat di kawasan terdampak ini juga mulai membersihkan kawasan-kawasan pemukiman, khususnya rumah-rumah yang terdampak sedang hingga ringan. Sehingga, memang yang saat ini masih tinggal di pengungsian ini adalah saudara-saudara kita yang tempat tinggalnya, rumahnya, itu termasuk terdampak dengan kategori kerusakan berat atau hanyut sama sekali," jelas Abdul.
Oleh karena itu, pemerintah dan pihak-pihak terkait akan terus berupaya meningkatkan ketersediaan hunian bagi korban bencana, yang dilakukan sejalan dengan melanjutkan rekapitulasi kebutuhan hunian tetap.
"Untuk progres perbaikan akses jalan, jembatan, dan pembersihan kawasan, ini kami laporkan kalau kita melihat di Aceh Tamiang, selain dari pondok pesantren yang sebagian besar sudah terlihat berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya, ini juga pembersihan tumpukan-tumpukan sampah kayu yang terbawa oleh banjir longsor juga terus kita lakukan. Ini di kota Lintang Bawah, di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, dan juga di jalan-jalan protokol," tukas Abdul.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id






























