tirto.id - Kampung Rambutan, Kelurahan Tukka, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, kini tergenang, setelah nyaris tenggelam oleh aliran air bercampur lumpur akibat terjangan banjir dan tanah longsor, pada Senin (24/11/2025) dan Selasa (25/11/2025). Hampir semua rumah tertutup atau bahkan tertimbun oleh lumpur yang hingga kini masih belum menunjukkan adanya perbaikan meski telah berlalu sembilan hari lamanya.
Salah satu rumah yang harus mengalami peristiwa nahas itu adalah milik Lusmer Siadari (68) dan Mada Sinaga (68). Keduanya kini sibuk membersihkan lumpur di kediaman mereka berdua. Pasangan lansia ini harus berjibaku dengan gumpalan lumpur yang merangsek masuk rumah mereka, saban hari.
Kepada Tirto, Lusmer dan Mada menunjukkan situasi rumah yang sudah berusia puluhan tahun tersebut. Mereka beruntung, ruang keluarga dan teras halaman masih bisa dibersihkan dari lumpur dan puing-puing kayu yang sebelumnya sempat menerjang rumah mereka saat banjir dahsyat terjadi.
"Air banjir masuk hingga setinggi jendela (sekitar 50 cm)," cerita Lusmer kepada wartawan Tirto, sembari membersihkan beberapa perabotan rumahnya dengan air keruh yang masih mengalir di depan rumahnya, pada Kamis (4/12/2025).
Meski demikian, Lusmer dan Mada harus merelakan dapur mereka yang kini harus terbenam lumpur dan nyaris mustahil dibersihkan, setidaknya oleh mereka berdua.
Ruang dapur yang berada lebih rendah dari bangunan rumah lainnya, kini sudah tak bisa lagi diakses. "Dapur sudah tak bisa lagi dibuka, takutnya air masuk lagi kembali ke sini," ungkap Lusmer dari ruang depan rumahnya.
Sementara di halaman belakang rumah, terdapat sejumlah tumpukan gelondongan kayu. Batang-batang pohon itu menghantam rumah tersebut saat banjir menyerang dan kini semakin menyulitkan upaya pembersihan.
Dari pantauan Tirto, tumpukan gelondongan kayu tergeletak di penjuru Kampung Rambutan hingga memasuki aliran Sungai Aek Godang. Gelondongan kayu tersebut juga ada yang masuk dan merusak rumah warga.
Kisah yang dialami oleh Lusmer dan Mada bukanlah satu-satunya cerita yang terjadi, masih banyak peristiwa serupa dan bahkan lebih parah yang melanda Tapanuli Tengah dan sekitarnya akibat banjir dan tanah longsor.
Berdasar data Pemkab Tapanuli Tengah, di Tukka ada 27 korban meninggal dan 49 orang yang masih hilang, dua angka itu tertinggi dibanding 19 kecamatan lainnya. Data juga mencatat lebih dari 296 ribu jiwa yang terdampak dari banjir bandang dan longsor per 4 Desember 2025.
Kondisi diperparah dengan Kabupaten Tapanuli Tengah masih dalam kondisi gelap gulita di malam hari. Aliran listrik belum kembali setelah terputus beberapa waktu lalu.
Penulis: Irfan Amin
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id






























