Berlatih Debat Bagi Calon Presiden, Belajar Jadi Singa Podium

Oleh: Faisal Irfani - 19 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Di Amerika Serikat, tiap calon Presiden biasanya rutin berlatih debat dan punya pelatih serta konsultan.
tirto.id - Penampilan Joko Widodo dalam debat kedua dinilai lebih bagus ketimbang Prabowo Subianto. Status petahana memudahkan Jokowi menyampaikan gagasan konkret disertai statistik, data, dan angka. Sedangkan Prabowo kembali memainkan retorika dan gagasan abstrak.

Saat sesi adu argumen, pertanyaan yang dilontarkan Prabowo terlalu mudah dibantah Jokowi. Ketika Prabowo menyerang dengan Bandara Kertajati yang masih sepi, misalnya, Jokowi menanggapi dengan jawaban teknis.

Sebagai penantang, Prabowo mestinya memaparkan bukti untuk melemahkan kepercayaan publik terhadap kinerja petahana. Maka, ironis belaka saat debat kemarin Prabowo malah sejalan dan memuji Jokowi.


Ambil contoh dalam sesi sumber daya alam dan lingkungan hidup, ketika diberi waktu buat menanggapi Jokowi, Prabowo menyelipkan pujian bahwa dia “mengakui ... prestasi” sang petahana sembari menambahkan “kita hormati dan kita akui dan kita dukung.”

Selain menghentikan perdebatan, jika tak menguasai tema diskusi atau melemparkan pujian ke petahana, Prabowo biasanya akan melantur saat menjawab. Terlihat dari susunan gagasan dan kosakata verbal yang amburadul seperti dalam kalimat ini ketika ditanya Jokowi soal rencana pembangunan infrastruktur untuk pengembangan unicorn:

“Mereka [startup] juga mengalami, apa ya, kesulitan dalam arti, merasa sekarang ada tambahan-tambahan regulasi. Ada tambahan-tambahan mereka mau dipajak rupanya dalam perdagangan online.”

Berkaca dari Pilpres AS 2016

Kegagapan Prabowo dalam debat kemarin memperlihatkan bahwa jargon practice makes perfect bukanlah omong kosong belaka.

Debat capres, sekalipun sering dianggap sebagai ajang formalitas, tetaplah masuk dalam rangkaian kontestasi yang bisa jadi menentukan masa depan petarung. Dalam debat, masing-masing calon punya kesempatan untuk memaparkan visi-misinya hingga menyerang kemampuan lawan. Semua dilakukan demi mendulang suara pemilih.

Maka dari itu, sebaik-baiknya calon adalah mereka yang mampu mempersiapkan ajang debat dengan baik, detail, dan terkonsep rapi—seperti halnya yang tersaji di AS manakala Donald Trump dan Hillary Clinton bertarung di Pilpres 2016.

Sebelum debat sesi pertama dihelat, baik Trump maupun Hillary sudah lebih dulu mengeluarkan sikap. Trump, misalnya, akan memperlakukan Hillary dengan “penuh hormat” dan tak berniat mengungkit skandal perselingkuhan yang melibatkan suaminya, Bill. Sementara Hillary menegaskan ia bakal menangkis setiap retorika beracun yang keluar dari mulut Trump.

Menyaksikan debat capres AS 2016 adalah tentang melihat bagaimana dua kubu mengambil pendekatan yang berbeda dalam menyambut datangnya debat.


Kubu Hillary mempersiapkan debat dengan begitu maksimal. Materi untuk debat disusun sejak jauh hari di bawah koordinasi tim yang berisikan Ron Klain (veteran pelatih debat), Karen Dunn (pengacara), Joel Benenson (ahli strategi kampanye), John Podesta (kepala kampanye), hingga Jennifer Palmieri (direktur komunikasi kampanye).

Persiapan yang dilakukan Hillary beserta timnya salah satunya dengan menganalisis berbagai cara untuk membikin Trump limbung di podium debat. Bagi tim Hillary, Trump dipandang cukup disiplin dalam memegang tema-tema besar. Oleh karena itu, Trump tak boleh sampai mengendalikan jalannya debat—apalagi menyerang Hillary secara membabi buta.

Guna mengantisipasi hal tersebut, mengutip laporan The New York Times, tim Hillary telah menyiapkan bermacam skenario yang bisa dipakai untuk memukul telak Trump. Sebagai contoh, apabila Trump mengungkapkan kekaguman terhadap Presiden Rusia, Vladimir Putin, maka Hillary harus menyerangnya dengan membawa sentimen Republikan: “Apa yang akan dikatakan Ronald Reagan apabila ada calon dari Partai Republik yang lebih banyak memuji Presiden Rusia?”

Skenario berikutnya, ketika Trump mengungkit permasalahan e-mail pribadi saat dirinya bekerja di Departemen Luar Negeri, Hillary harus menanggapi secara agresif dengan membahas persoalan pajak yang menimpa Trump.

Kendati demikian, yang menjadi ganjalan Demokrat untuk memenangkan debat ialah sikap Hillary sendiri. Senator perempuan pertama dari New York itu gampang terlihat kaku dan tersinggung saat berada di bawah tekanan. Hillary juga cenderung defensif untuk menjawab pertanyaan yang melibatkan kejujuran dan kepercayaan.

Agar persiapannya kian matang, Hillary dan tim beberapa kali mengadakan sesi latihan debat. Philippe Reines, kawan lama Hillary, didapuk untuk memerankan Trump. Di sesi ini, Hillary didorong untuk berani menatap Trump saat ia berbicara. Tujuannya: menunjukkan rasa kepercayaan diri yang tinggi.

Lain Hillary, lain pula Trump. Jika Hillary mengandalkan persiapan matang, maka Trump justru sebaliknya: ia lebih suka spontanitas. Trump, masih menurut The New York Times, tak suka mempraktikkan jawaban hingga berulang kali agar terdengar sempurna di hadapan audiens.

Dalam sesi latihan debat, para penasihat Trump, yang terdiri dari Stephen Bannon, Michael Flynn, sampai Jared Kushner, meminta Trump untuk tak melayani serangan Hillary dan lebih memprioritaskan pemaparan akan tema-tema besar yang dibawanya (lapangan pekerjaan, terorisme, dan tembok perbatasan). Mereka juga meminta Trump untuk mengendalikan diri agar tak gampang menyerang Hillary. Kuncinya: dengarkan setiap ucapan Hillary, pahami baik-baik, dan serang ketika ada celah.


Berbekal segudang pengalaman di podium debat membikin Hillary diprediksi dengan mudah melumat Trump, yang kemudian menjadi bekal pentingnya untuk memenangkan pilpres. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya. Trump, dengan pengalaman yang minim di kancah debat politik, ternyata mampu mengimbangi Hillary. Pebisnis dan bintang reality show itu tampil lihai, licin, sekaligus bisa memancing emosi penonton maupun Hillary. Libby Nelson, editor situs Vox, menyebut Trump menjalani debat seperti dia menjalani reality show.

"Trump membuat kalimat yang mudah nyantol di ingatan. Dia membuat narasi tentang pahlawan dan orang jahat. Dia banyak berkomentar dan menengok ke penonton. Dia mengaduk drama interpersonal. Dan dia tampil seolah-olah bintang dari pertunjukan reality TV," tulis Libby.

Gaya debat yang meyakinkan Trump --meski dikritik keras karena mengandung banyak salah data dan kebohongan-- punya andil dalam meyakinkan pemilih di Electoral College. Maka, meski kalah sekitar tiga juta suara, Trump tetap bisa melenggang ke Gedung Putih karena menang dengan sistem electoral vote.



Infografik Bocoran pertanyaan debat
Infografik Bocoran pertanyaan debat


Gleb Tsipursky, asisten profesor sejarah di The Ohio State University, dalam tulisannya yang dipublikasikan The Conversation menjelaskan bahwa untuk memenangkan pertarungan debat, para kandidat harus mampu menguasai materi sebanyak mungkin. Baik milik sendiri maupun punya lawan.

Menyerang kebijakan atau kiprah lawan—apalagi petahana—sudah jadi keharusan. Tapi, kandidat juga mesti memilah dan memilih isu mana yang hendak ia lempar. Jangan sampai malah berbalik menyerang diri sendiri.

Karena diserang lawan itu pasti, kandidat pun wajib punya jawaban. Kalau pun tidak punya, selemah-lemahnya kandidat, dia harus bisa berpikir cepat untuk mencari cara menjawab yang membuat dirinya tidak tampak bodoh, dan kalau bisa, menyerang balik lawannya.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah kondisi mental. Menurut Tsipursky, diperlukan mental tangguh untuk melewati sesi debat yang panjang nan melelahkan. Mental yang lemah hanya akan membuyarkan fokus—dan kemudian dimanfaatkan pihak lawan untuk menyerang.

Semua faktor di atas tentu bisa dicapai dengan proses latihan yang berkesinambungan. Politisi kawakan selalu melatih kemampuannya beretorika dan debat, agar tak loyo ketika tampil di podium debat.

Bagaimana dengan kasus Prabowo? Masih sulit untuk menjawabnya. Satu hal pasti: Prabowo seharusnya paham bahwa menguasai arena debat tak sekadar mengandalkan keberuntungan.

Baca juga artikel terkait DEBAT CAPRES atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Politik)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono