tirto.id - Penggemar sepak bola Indonesia mendapat berita besar, Kamis (16/10/2025). Tengah hari kurang 15 menit, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) lewat keterangan resmi mengumumkan pemutusan kerja sama dengan tim kepelatihan Patrick Kluivert.
“Penghentian kerja sama ini dilakukan atas dasar persetujuan kedua pihak, dengan mempertimbangkan dinamika internal dan arah strategis pembinaan tim nasional ke depan. Dengan berakhirnya kerja sama tersebut, Tim Kepelatihan tersebut tidak lagi menangani Timnas Indonesia di level senior, U23, maupun U20,” tulis PSSI dalam keterangan resminya.
Kabar ini memang mengejutkan, meski tak mengherankan. Selepas kekalahan dari Irak 0-1, Minggu (12/5/2025), yang menyingkirkan Indonesia dari Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, tagar #KulivertOut menggema makin kencang saja.
Tidak saja menggantikan sosok Shin Tae-yong (STY) yang populer di mata supporter, Kluivert juga tak punya portofolio yang mentereng. Bermodal keraguan itu, publik lantas skeptis dan hilang kepercayaan, bahkan sebelum Kluivert menjalani laga perdananya.
Hasilnya juga tak jauh dari ekspektasi. Dari 8 laga, Kluivert hanya mampu memberi 3 kemenangan, 1 seri, dan 4 kekalahan. Dua kekalahan terakhir, dari Arab Saudi dan Irak, berdampak signifikan karena meruntuhkan mimpi Timnas Garuda – julukan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia – ke Piala Dunia.
Andre, salah seorang penggemar sepak bola nasional, menganggap faktor kepelatihan berperan signifikan dalam kegagalan Timnas. Pria 32 tahun ini menilai pergantian pelatih di tengah masa kualifikasi menimbulkan masalah yang tak perlu.
“Kemarin itu, ibarat sudah satu kaki lolos ke Piala Dunia. Karena efek pergantian pelatih yang terjadi secara cepat dan kurang persiapan, jadi menimbulkan masa transisi yang gak optimal,” ujar Andre saat berbincang dengan Tirto, Jumat (17/10/2025).
Dia juga menambahkan minimnya pengalaman Kluivert membuatnya tak punya nilai lebih. Oleh karenanya, dia berharap PSSI melakukan seleksi pelatih berikutnya dengan lebih matang.
“Yang pasti wajib dari luar dan sudah ada pengalaman di Eropa,” tambahnya terkait sosok pelatih Timnas Indonesia berikutnya.
Abdul (40) juga sependapat dengan pandangan Andre. Menurut dia, Kluivert tak hanya gagal membalikkan persepsi publik yang meremehkannya, tapi juga gagal memenuhi harapan PSSI.
“Kluivert ini, dia gak punya portofolio yang bagus ya. Erick [Thohir, Ketua Umum PSSI] ini sepertinya ngambil Kluivert sebagai tokoh, untuk mengendalikan ruang ganti. Seharusnya ya, kan dia striker besar, secara teknis seharusnya faktor itu. Tapi, pada kenyataannya kan enggak,” tutur Abdul saat bertemu Tirto, Jumat (17/10/2025).
Menurut dia, beragam gosip dan narasi miring dari ruang ganti pemain yang muncul ke permukaan bisa jadi bukti kegagalan Kluivert mengendalikan para pemainnya. Di lapangan, taktik yang tak berjalan dan keputusan pergantian pemain yang membuat heran, menambah keraguan Abdul.
Ke depannya, dia juga berharap pelatih yang menangani Timnas bisa mengendalikan ruang ganti. Secara khusus, mengendalikan skuad yang banyak diisi diaspora yang tumbuh besar di Eropa.
“Masih optimistislah [dengan Timnas Indonesia]. Cuma, kita jadi harus lebih lama lagi ini [untuk masuk Piala Dunia]. Mungkin nantinya kita bisa berprestasi dulu di Piala Asia atau Olimpiade sebagai buktinya,” tutup Abdul.
Harga Mahal Ganti Pelatih, tapi Gagal ke Piala Dunia
Pengamat sepak bola Mohamad Kusnaeni mengatakan bahwa pisah jalan PSSI dan Patrick Kluivert adalah konsekuensi logis dari hukum sepak bola.
“Pelatih yang gagal memenuhi target idealnya memang menyadari kegagalannya. Selanjutnya, dia memberi kesempatan pelatih lain yang mungkin lebih tepat,” ujar pria yang akrab disapa Bung Kus ini.
Menurutnya, faktor waktu juga tak berpihak pada Kluivert. Dia datang di fase yang sangat krusial, fase akhir menuju Piala Dunia 2026.
“Dia tidak punya cukup pengalaman kepelatihan maupun manajerial menghadapi situasi kritis seperti itu. Ekspektasi publik sangat besar terhadap keberhasilan timnas. Ditambah lagi, Kluivert menggantikan pelatih sebelumnya yang disukai oleh publik dan dianggap cukup berhasil,” ujar Bung Kus kepada Tirto, Jumat (17/10/2025).
Bagaimana tidak, Kluivert memang dihadapkan dengan tantangan yang tak ringan. Dia harus menggantikan STY yang dalam lima tahun terakhir membawa Indonesia dari peringkat 173 FIFA menjadi peringkat 122.
Terpisah, pemerhati sepak bola Rosnindar Prio Eko Rahardjo, juga menganggap pisah jalan Kluivert dengan Timnas Indonesia sebagai langkah yang baik untuk semua pihak. Sebab, di titik saat ini, Kluivert telah gagal memenuhi ekspektasi untuk lolos ke Piala Dunia 2026.“Saya kira [pisah PSSI dan Kluivert] bukan karena mendengarkan publik, tapi malu karena kualitas Timnas justru menurun dibanding zaman STY,” tuturnya dalam pesan singkat kepada Tirto, Jumat (17/10/2025).
Rosnindar berpendapat pelatih yang dibutuhkan untuk Timnas ke depannya adalah yang paham kultur sepak bola Indonesia atau minimal Asia. Sehingga, pelatih itu bisa menggali potensi bibit-bibit pemain muda dan memberikan mereka kesempatan bermain.
Bung Kus, juga sependapat. Menurutnya, pemahaman Kluivert tentang Timnas dan sepak bola nasional kurang mendalam.
“Mungkin karena dia kurang sering berada di lndonesia,” tuturnya.
Kekurangpahaman itulah yang kemudian membuat Kluivert banyak membuat keputusan yang kurang akurat dan berujung dengan hasil yang mengecewakan.
Beberapa eksperimen seperti pengubahan pola (dari 3-4-3 ke 4-2-3-1) dan menurunkan line-up yang penuh kejutan juga tidak memberi hasil positif.
“Secara permainan, Kluivert juga tidak mampu memberi warna baru atau meningkatkan level permainan timnas. Bisa dibilang, di tangan Kluivert timnas masih berkutat di lubang yang sama: kurang tajam, kurang kreatif, dan sering bikin kesalahan sendiri,” tambah Bung Kus lagi.
Menurut Bung Kus, kasus Kluivert ini sebaiknya menjadi pelajaran agar PSSI lebih bijak dan berhati-hati dalam membuat keputusan penting. Sayangnya “biaya” belajar ini dibayar mahal dengan menunda setidaknya empat tahun lagi untuk bisa tampil di Piala Dunia.
Ekspektasi Pelatih Baru
Sementara itu, pengamat sepak bola Aun Rahman melihat dari sudut pandang lain. Menurut dia, perpisahan Timnas dengan Kluivert seperti kembali ke titik awal lagi.
“Saya melihatnya justru keputusan tersebut jadinya lebih seperti recovery karena nyatanya penunjukan Kluivert tidak memberikan buah yang positif,” sebut Aun lewat pesan singkat ke Tirto, Jumat (17/10/2025).
Oleh karenanya, proses pemilihan pelatih berikutnya harus lebih hati-hati dan bijak. Menurut Aun, pemilihan sosok pelatih berikutnya tidak bisa berdasar siapa sosoknya. Yang lebih penting adalah bagaimana pelatih baru dipilih dan mengapa dia dipilih.
“Pemilihan kepala pelatih Timnas adalah sebuah keputusan strategis. Maka, keputusan tersebut mesti dipertimbangkan dengan matang dan sesuai dengan trajektori ke mana arah Timnas menuju,” ujar dia.
Dia menambahkan, pelatih baru juga jangan sampai dibebani ekspektasi yang berlebih untuk menyulap tim menjadi langsung bagus. Akan perlu lingkungan yang suportif untuk membuat tim kepelatihan berhasil.
Sepaham, Bung Kus, juga mengatakan kalau dari titik saat ini Timnas punya banyak waktu, sebelum kualifikasi Piala Asia maupun Piala Dunia. Kesempatan ini sebaiknya dimanfaatkan secara maksimal oleh PSSI untuk melakukan proses rekrutmen yang terbuka dan akuntabel.
Dia pun tak mempermasalahkan asal ataupun latar calon pelatih. Semua kandidat terbaik sebaiknya coba didengar visinya.
“Kita dengan konsep dan gagasan mereka untuk menaikkan level timnas, yang sekarang sudah lumayan bagus. Setelah itu, pilih yang terbaik dan paling sesuai dengan kebutuhan timnas serta kesanggupan PSSI dari segi finansial,” tuturnya.
Dia juga menekankan agar proses pemilihan mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan timnas saat ini. Sehingga, pilihannya nanti matang dan tidak mengulangi kesalahan sebelumnya.
“Intinya jangan tergesa-gesa menetapkan pelatih baru. Kita harus belajar dari pengalaman menunjukkan Kluivert di saat yang kurang tepat dan prosesnya kurang akuntabel,” tambah Kusnaeni.
Tirto mencoba menghubungi pihak PSSI untuk mengetahui rencana berikutnya terkait dengan upaya pencarian nahkoda bagi timnas yang baru. Namun, sampai Jumat (17/10/2025) malam, mereka tidak memberi jawaban yang jelas terkait rencana ataupun agenda perekrutan pelatih baru.
PSSI Tak Punya Visi Jelas
Pelepasan Kluivert dari posisi pelatih menambah panjang daftar pelatih yang menukangi Timnas dalam 15 tahun terakhir. Ditambah Kluivert, ada 14 nama pelatih yang pernah memegang Komando Tim Garuda, catatan kurang elok kalau pertimbangannya stabilitas tim.
Aun beranggapan hal ini sebagai bukti kurangnya visi dan target yang jelas dari pihak yang mengurusi sepak bola nasional. Program yang tak jelas, ditambah dengan implementasi yang terukur memperburuk situasi.
“Ini terbukti dengan bagaimana situasi pelatih Timnas ini seperti komedi putar. Ya, muter di situ-situ saja: tunjuk pelatih, tanding, terus kalau hasilnya tidak sesuai di-dismiss,” terangnya.Sependapat, Rosnindar juga berpendapat PSSI tidak punya arah yang jelas. Upaya yang terlihat selama ini juga cenderung bergantung dengan upaya naturalisasi para pemain diaspora.
“Buktinya kompetisi domestik masih sangat amburadul. Kompetisi usia muda juga tidak berjalan dgn konsisten. Target untuk lolos Piala Dunia hanya mengharapkan naturalisasi tanpa upaya memperbaiki kualitas kompetisi domestik dan pembinaan pemain lokal,” tuturnya.
Penulis: Alfons Yoshio Hartanto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id




























