Menuju konten utama

Berebut 'Kue' Ritel F&B di Tengah Gempuran Waralaba Cina

Meski dianggap ancaman, tak semua gerai F&B asal Cina berhasil bertahan sebab menghadapi kondisi pasar yang hampir sama dengan pelaku usaha lokal.

Berebut 'Kue' Ritel F&B di Tengah Gempuran Waralaba Cina
Gerai MIXUE. Instagram/@mixueindonesia

tirto.id - Ekspansi rantai waralaba asal Cina dinilai membawa ancaman serius bagi para pelaku bisnis makanan dan minuman (F&B) di Indonesia. Tak hanya dalam hal harga, inovasi produk hingga strategi pemasaran agresif mereka membuat banyak usaha lokal kelimpungan dalam palagan memperebutkan pelanggan.

Dinamika pasar yang kian kompetitif ini tercermin dari data Kementerian Perdagangan. Dalam lima tahun terakhir, investasi Cina di sektor F&B Indonesia tumbuh rata-rata 15 persen per tahun—dengan lebih dari 50 merek telah beroperasi di Tanah Air sejak 2020.

Statistik tersebut sejalan dengan riset terbaru dari Momentum Works, yang menunjukkan bahwa sekitar 6.100 gerai makanan dan minuman asal Negeri Tirai Bambu telah berekspansi ke Asia Tenggara dalam kurun waktu 2022 hingga 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 4.000 gerai tersebar di Vietnam dan Indonesia.

Mixue, misalnya, telah berhasil membuka lebih dari 2.600 gerai dan menjadi salah satu jaringan F&B terbesar sejak menjejakkan mereknya di Indonesia pada 2020. Demikian pula dengan jenama lain yang kini semakin mudah ditemui di berbagai kota besar, seperti Tomoro Coffee di segmen kopi, Chagee dengan minuman olahan susu dan kemasan menariknya, serta Haidilao di bisnis hot pot.

Peneliti Next Policy Dwi Raihan menjelaskan sejumlah faktor yang menjadikan Indonesia sebagai magnet ekspansi merek Cina. Pertama, potensi pasar yang sangat besar dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa. Kedua, segmen menengah ke bawah yang dominan di Indonesia sangat sesuai dengan strategi penetapan harga murah yang diusung merek-merek Cina.

"Hal ini diperparah karena pelaku usaha dari Cina menyasar segmen menengah bawah sehingga industri makanan minuman sangat kompetitif. Selain itu, hal yang membuat mereka bertahan karena mereka memiliki permodalan yang kuat," katanya saat dihubungi Tirto, Jumat (18/7/2025).

Faktor lainnya adalah harga jual waralaba merek Cina yang cenderung lebih terjangkau dibandingkan merek Amerika atau Eropa. "Meskipun banyak franchise yang ada di indonesia, franchise dari Cina dinilai lebih murah daripada franchise dari Amerika, misalnya," tambahnya.

Hal senada disampaikan Direktur Center of Economic and Law Studies (Chelios) Bhima Yudhistira. Menurutnya, keterjangkauan dari sisi terjangkau menjadi keunggulan merek-merek Cina dalam bersaing dengan F&B lokal. Bahkan, tak jarang mereka memberikan diskon besar saat pembukaan gerai baru.

Efisiensi biaya ini tak lepas dari pengadaan bahan baku yang diimpor langsung dari Cina dalam skala besar. Mixue, misalnya, memiliki sistem rantai pasok terintegrasi yang telah mereka bangun dari hulu ke hilir sejak lama. Di tempat asalnya, mereka membeli langsung bahan baku dari petani di daerah seperti Anyue (lemon) dan Yunnan (kopi) dengan perjanjian pembelian terjamin—yang tidak hanya menstabilkan harga tetapi juga menjamin keberlanjutan suplai.

Di sisi hilir, Mixue menjual semua kebutuhan toko—dari bahan baku, peralatan, hingga perlengkapan operasional—langsung ke mitra waralaba. Model ini memungkinkan kontrol harga dan kualitas secara menyeluruh, sekaligus menciptakan skala ekonomi yang menekan ongkos produksi dan distribusi. Selain itu, mereka juga memberikan keringanan biaya logistik dan waralaba, sehingga gerai dapat berdiri dengan modal lebih rendah dan tetap memperoleh margin yang cukup.

Yang tidak kalah penting, mereka melakukan riset pasar mendalam sebelum membuka gerai baru, mempelajari preferensi konsumen hingga daya beli di suatu lokasi. "Kelebihan F&B Cina adalah data yang akurat termasuk pemetaan pasar, selera Gen Z hingga lokasi," tutur Bhima.

Board Expert Hippindo serta Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Yongky Susilo, mengatakan, hampir semua pelaku bisnis makanan dan minuman saat ini sedang berjuang untuk bertahan. PT Terang Dunia Internusa Tbk (TGUK), pemilik jaringan F&B Teguk, misalnya, baru-baru ini melaporkan penutupan 158 outlet selama tahun 2024.

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, jumlah gerai yang tersisa hingga akhir Desember 2024 hanya 26 dari 180 gerai. Penutupan gerai ini turut memicu penurunan drastis nilai persediaan perusahaan, dari Rp22,5 miliar per 30 September 2024 menjadi hanya Rp1,1 miliar per 31 Desember 2024.

Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi peritel F&B lokal antara lain keterbatasan modal, biaya produksi yang lebih tinggi karena bahan baku lokal, kurangnya inovasi produk, serta kesulitan bersaing dengan harga murah merek Cina.

"Banyak pelaku UMKM yang akhirnya memilih menutup sementara usahanya sambil menunggu kondisi ekonomi membaik," ujarnya saat dihubungi Tirto.

Meski demikian, Yongky menekankan bahwa tidak semua gerai merek Cina berhasil bertahan. Kondisinya hampir sama dengan produk lokal lantaran mereka memperebutkan "kue" yang sedikit dari turunnya daya beli masyarakat.

Kondisi ini pun sempat menjadi perbincangan warganet di media sosial pada akhir 2024 silam. Akun X @Strategi_Bisnis, misalnya, menulis bahwa banyak pemilik toko Mixue yang dulu harus mengeluarkan investasi sekitar Rp 400 juta merugi.

Hemat Yongky, bisnis makanan dan minuman adalah bisnis musiman dengan siklus hidup yang singkat. Akibatnya, jumlah pelaku usaha di sektor ini kian gemuk, namun pasarnya tetap. Apalagi booming franchise dengan pembukaan cabang besar-besaran telah usai.

"Mixue juga banyak yang tutup. Sama saja. Product life cycle juga makin pendek. Boom sudah selesai," ucapnya, seraya menambahkan bahwa F&B juga kerap kali menjadi usaha peralihan dari turunnya performa bisnis di sektor lain. "Usaha food and beverage diserbu pengusaha karena usaha lain tidak jalan atau (tidak) prospektif. Jadi pemain F&B makin banyak, tetapi marketnya tidak berkembang," tambahnya.

Meski menjamurnya ritel F&B asal Cina membawa kehwatiran bagi pemain lokal, Ketua Umum Perhimpunan Waralaba & Lisensi Indonesia (WALI), Levita G. Supit, memilih melihat fenomena ini dari sisi yang lebih positif.

Menurutnya, kehadiran pemain asing bukanlah ancaman mutlak, melainkan cambuk bagi pelaku usaha lokal untuk keluar dari zona nyaman dan meningkatkan kreativitas. Mixue, lagi-lagi, bisa menjadi salah satu contoh bagaimana suatu F&B bisa memformulasikan harga jual yang lebih bersaing di pasaran.

Dengan mengusung prinsip "biaya terbalik"—di mana produk dihargai bukan dari berapa besar keuntungannya, melainkan dari seberapa kecil biaya produksinya—merek berlogo snow king itu berhasil mengalahkan kompetitor domestik Cina seperti Heytea, dengan harga menu yang berkisar antara 2–10 yuan atau 2–3 kali lipat lebih rendah.

Lagi pula, kata Levita, pelaku usaha F&B asal Cina yang beroperasi di Indonesia tetap wajib bermitra dengan pengusaha lokal dan menggunakan minimal 80 persen bahan baku dalam negeri, sesuai regulasi yang berlaku.

"Biasanya dengan adanya pesaing, pelaku usaha lokal akan lebih terpacu untuk mengembangkan usahanya. Kita harus belajar dari kesuksesan produk dan kreativitas mereka," tuturnya kepada Tirto.

Dalam pandangannya, kehadiran waralaba Cina juga bukan pemicu utama tutupnya sejumlah gerai makanan dan minuman lokal, melainkan karena oleh kondisi ekonomi yang sedang lesu akibat penurunan daya beli.

Ini antara lain tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni 2025 tercatat sebesar 108,27, meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 106,28. IHK sendiri berfungsi mengukur perubahan harga rata-rata dari sekelompok barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Kenaikan IHK mengindikasikan penurunan daya beli, karena harga barang dan jasa menjadi lebih mahal.

"Cina baru masuk sekarang dan kita tidak tahu sampai kapan mereka bisa bertahan dalam kondisi Indonesia seperti ini," ujarnya.

Untuk membantu pelaku usaha lokal agar tetap bisa bersaing, Levita mendorong agar pemerintah memberikan dukungan melalui kebijakan yang tak menghambat pertumbuhan waralaba, serta menyediakan pelatihan, pembiayaan, dan pembukaan akses pasar. Sebab, tak sedikit waralaba lokal yang memilki kualitas tinggi dan daya saing kuat telah mengambil langkah ekspansi ke mancanegara.

"Waralaba Indonesia sudah masuk ke Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, Timur Tengah, Amerika, dan Eropa," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait RITEL atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana