tirto.id - Enam delegasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) bertolak menuju Barcelona, Spanyol, untuk mengikuti misi pelayaran kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2026. Keberangkatan kloter kedua ini dilakukan dari Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Rabu (8/4/2026).
Keenam delegasi tersebut terdiri dari Koordinator GPCI Maimon Herawati, Dewan Pengarah GPCI Muhammad Husein, serta aktivis Chiki Fawzi, Shafawi, Adhin, dan Gandi. Mereka dijadwalkan bergabung dengan peserta lain dalam rangkaian pelayaran Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang akan diluncurkan dari Barcelona pada 12 April 2026.
GSF sendiri merupakan gerakan sipil internasional yang menghimpun relawan lintas profesi—mulai dari tenaga medis, pekerja kemanusiaan, pelaut, hingga aktivis—untuk mengirim bantuan dan menembus blokade Gaza melalui jalur laut. Gerakan ini mulai mendapat sorotan luas sejak misi perdananya pada tahun lalu, termasuk setelah salah satu kapal yang membawa aktivis internasional, di antaranya Greta Thunberg, dicegat oleh militer Israel.
Pada misi 2026, skala operasi ditingkatkan dengan melibatkan lebih dari 70 kapal dan lebih dari seribu partisipan dari puluhan negara. Selain menyalurkan bantuan, tim yang terdiri dari tenaga medis hingga pelindung sipil juga disiapkan untuk membantu membangun kembali layanan kesehatan dan infrastruktur dasar di Gaza.
Maimon Herawati mengatakan, persiapan misi tahun ini dinilai lebih matang dibandingkan sebelumnya. Proses persiapan telah dimulai sejak Januari 2026, termasuk seleksi kapal di berbagai pelabuhan dan pembayaran uang muka.
“Kalau sebelumnya kurang dari satu bulan untuk membeli kapal, mencari kapal. Kalau sekarang dua bulan sebelumnya kita sudah melakukan seleksi kapal di pelabuhan-pelabuhan dan membayar DP. Jadi kalau dari sisi kualitas persiapan, insyaallah yang sekarang jauh lebih bagus,” kata Maimon di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Rabu (8/4/2026).

Ia menjelaskan, setibanya di Barcelona, para delegasi akan mengikuti pertemuan dengan delegasi dari negara lain pada 10 April sebelum peluncuran kapal dua hari kemudian. Para relawan yang terlibat tak hanya dari masyarakat sipil melainkan juga organisasi non-pemerintah internasional.
Organisasi lingkungan internasional Greenpeace, misalnya, akan terlibat dengan mengerahkan kapal ArcticSunrise. Ada pula kapal penyelamat milik organisasi Spanyol Proactiva Open Arms juga dijadwalkan turut bergabung dalam misi tersebut. “Karena berbeda dengan yang kemarin, kali ini kita juga ditemani Greenpeace,” tuturnya.
Maimon juga menyebutkan bahwa misi tahun ini melibatkan lebih banyak kapal dan partisipan dibandingkan sebelumnya. Ia memperkirakan jumlah kapal yang terlibat bisa mencapai sekitar 100 unit, meningkat dari 44 kapal pada misi sebelumnya. Dari Indonesia sendiri, partisipasi masyarakat cukup tinggi dengan jumlah pendaftar mencapai 190 orang. Namun, lantaran kuota delegasi dari GCPI terbatas, tak semuanya dapat diberangkatkan.
Dalam menjalankan misi tersebut, GPCI juga telah mengirimkan surat kepada Presiden dan Kementerian Luar Negeri untuk meminta dukungan dan perlindungan, namun hingga saat ini masih menunggu respons. “Diantarkan surat sudah. Diterima sudah. Respons masih ditunggu,” kata dia.
Dalam kesempatan sama, Dewan Pengarah GPCI Muhammad Husein mengajak masyarakat untuk memberikan dukungan terhadap misi tersebut. Ia menegaskan keberangkatan ini merupakan bagian dari upaya sipil untuk menembus blokade Gaza oleh Israel.
Ia juga meminta dukungan pemerintah Indonesia untuk memberikan perlindungan kepada para relawan yang terlibat dalam misi tak mudah tersebut. “Keberangkatan kita hari ini itu bukti bahwa kita tidak akan berhenti. Selama penjajahan masih berlangsung, selama blokade masih terus dilakukan terhadap Gaza, maka jangan harap kami akan tidur,” kata Husein.
Sementara itu, Chiki Fawzi mengingatkan bahwa misi ini bertujuan menjaga perhatian dunia terhadap kondisi di Gaza. “This is not about us, it's about mereka yang ada di Gaza. Jadi all eyes on Gaza,” ujarnya.
Delegasi lainnya, Adhin, turut mengajak masyarakat Indonesia untuk terus menyuarakan isu kemanusiaan tersebut di tingkat global. “Harapannya, saudara-saudara di Indonesia ikut menyuarakan, ikut berisik lagi soal ini biar seluruh dunia juga mendengarkan,” kata dia.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































