Menuju konten utama

Warga Palestina Dipindah Diam-Diam dari Gaza, Siapa Pelakunya?

Warga Palestina dipindah dari Gaza menuju berbagai negara, termasuk Indonesia. Pelaku organisasi Israel yang diduga hendak "membersihkan" penduduk asli.

Warga Palestina Dipindah Diam-Diam dari Gaza, Siapa Pelakunya?
Anak-anak pengungsi Palestina berjalan di sepanjang jalan yang dipenuhi puing-puing untuk mengambil air di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan pada 15 Mei 2024, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok militan Hamas. Foto/AFP

tirto.id - Sekitar 150 warga Palestina diam-diam dipindahkan dari Gaza ke Afrika Selatan pada November 2025 lalu. Pemindahan ini terjadi beberapa kali selama tahun 2025 dan Indonesia termasuk jadi salah satu destinasinya. Siapa dalang operasi ini?

AP dan sejumlah outlet berita melaporkan bahwa telah terjadi pemindahan diam-diam warga Palestina di Gaza ke negara lain sepanjang 2025. Penelusuran AP menemukan bahwa penerbangan ini diorganisir oleh kelompok Israel yang mendukung wacana pemindahan warga Palestina dari tanah air mereka.

Seturut The Globe and Mail, laporan itu menyebut bahwa setidaknya telah ada tiga penerbangan untuk memindahkan warga Palestina secara diam-diam. Penerbangan pertama dilakukan pada Mei, kemudian kembali dilakukan pada Oktober, dan terbaru pada November pada tahun 2025

Menukil Times of Israel, ketiga penerbangan itu dilakukan untuk memindahkan ratusan warga Palestina ke sejumlah negara, termasuk Afrika Selatan, Indonesia, dan Malaysia. Semua penerbangan itu dilakukan dengan dalih evakuasi kemanusiaan.

Setelah ditelusuri, ketiga penerbangan itu diduga telah diorganisir oleh sebuah kelompok Israel bernama Ad Kan. Kelompok bernama Ad Kan itu adalah organisasi yang didirikan oleh para mantan tentara dan perwira intelijen Israel.

Ad Kan diduga mengorganisir tiga penerbangan diam-diam itu melalui sebuah perusahaan bernama Al-Majd. Situs resmi Al-Majd menyebut mereka adalah organisasi yang dibentuk di Jerman dan berkantor di Yerusalem Timur. Namun, Al-Majd tak muncul dalam basis data daring untuk badan amal dan bisnis terdaftar di Jerman.

Situs resmi Al-Majd juga menggambarkan perusahaan itu sebagai organisasi kemanusiaan yang "mendukung kehidupan Palestina" dan memberikan bantuan bagi komunitas Muslim di daerah konflik. Akan tetapi, profil perusahaan Al-Majd tampak berlainan dengan semangat kelompok Ad Kan.

Ad Kan —dan pendirinya, Gilad Ach— merupakan kelompok yang sejak lama mendukung wacana relokasi paksa warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Kelompok ini juga dikategorikan sebagai kelompok sayap kanan Israel yang kerap menyusup ke berbagai kelompok lain guna mengungkap apa yang mereka sebut sebagai paham anti-Semit.

Ach sendiri adalah aktivis pemukim Tepi Barat. Ia merupakan salah satu pendukung setia usulan pemindahan 2 juta warga Palestina dari Gaza yang sempat dicanangkan Presiden AS Donald Trump.

Pasca pecah konflik Israel-Hamas pada 2023, Ach juga mendirikan sebuah kelompok bernama Pasukan Cadangan Israel-Generasi Kemenangan. "Emigrasi musuh-musuh kita" adalah salah satu tujuan yang dicanangkan kelompok tersebut.

Organisasi bikinan Ach juga menyebarkan iklan di bus-bus di Israel, berisi pesan emigrasi warga Palestina dengan potret Trump di samping kata-kata berbahasa Ibrani: "Kemenangan = Migrasi sukarela ... Bus ini bisa penuh dengan warga Gaza. Dengarkan Trump, biarkan mereka keluar!"

Ach juga pernah berucap dalam sebuah wawancara dengan Jewish News Syndicate, bahwa kemenangan paripurna Israel adalah pengambilalihan tanah Gaza dan pembukaan perbatasan agar orang-orang dapat pergi dari sana.

Cara Kerja Warga Palestina Dipindahkan Keluar Gaza

Laporan yang dirilis AP tersebut juga memuat kesaksian para warga Palestina yang ikut dalam penerbangan diam-diam. Mereka mengungkap cara kerja operasi pemindahan senyap ini.

Menurut mereka, operasi ini dilakukan melalui Al-Majd yang mengiklankan layanan jasa untuk mengeluarkan warga Palestina dari wilayah konflik. Para warga yang ikut dalam penerbangan mengungkap menemukan iklan itu secara online sejak awal 2025.

Pernyataan enam warga yang memilih ikut dalam penerbangan mengungkap bahwa mereka perlu membayar USD2.000 per orang untuk mengakses layanan Al-Majd itu. Biaya dibayarkan melalui transfer bank atau mata uang kripto.

Warga kemudian dijelaskan bahwa penerbangan akan membawa mereka ke Afrika Selatan, Indonesia, atau Malaysia. Namun, warga hanya dapat menerima tujuan destinasi sesuai yang dipilihkan dan tak diberikan pilihan untuk memilih salah satu negara tujuan.

Kemudian, ketika waktu penerbangan telah ditentukan, warga diberi informasi untuk bertemu di suatu lokasi. Dari sana, mereka diangkut sebuah bus dari Gaza ke Israel. Mereka digeledah di perbatasan, lalu dibawa ke bandara.

Penerbangan pertama pada Mei dilaporkan telah dilakukan dengan penumpang sebanyak 60 warga Palestina. Rute yang ditempuh adalah Israel-Hongaria, lalu ke Indonesia, dan beberapa lokasi lainnya.

Penerbangan kedua pada Oktober membawa serta 170 orang dari Israel ke Afrika Selatan melalui Kenya. Sementara penerbangan ketiga pada November membawa 150 orang Palestina dilakukan dengan rute Israel-Afrika Selatan.

Penelusuran AP dan outlet berita lainnya juga menemukan petunjuk bahwa pengusaha Amerika-Israel, Moti Kahana, sempat menandatangani kontrak dengan Ad Kan untuk mengatur penerbangan tersebut. Kahana merupakan pengusaha dengan rekam jejak evakuasi orang-orang dari zona konflik.

Kontrak antara Kahana dan Ad Kan itu berisi ketentuan bahwa Kahana harus menyediakan "layanan penyelamatan penerbangan" dengan pembayaran minimum USD750.000.

Kontrak itu sempat diteken oleh Kahana, namun rute penerbangan kemudian diubah ke Afrika Selatan dan partisipasi pengusaha AS-Israel itu berakhir.

Dalam keterangannya, Kahana menyatakan bahwa ia sempat diberi tahu oleh Gilad Ach, pendiri Ad Kan, bahwa Al-Majd sebenarnya adalah Ad Kan dalam nama yang lain.

"Orang-orangnya sama, perusahaannya sama, hanya namanya yang berbeda," kata Kahana. "Mereka memiliki sekelompok orang berbahasa Arab yang menjawab telepon, dan mereka tidak ingin menampilkan keterlibatan Israel; mereka seperti memiliki wajah Arab."

Keterkaitan Ad Kan dan Al Majd itu tak diketahui para warga Palestina yang ikut dalam penerbangan diam-diam. Mereka tak menyadari bahwa penerbangan yang mereka lakukan ternyata terkait dengan kelompok Israel.

Seorang kepala keluarga yang ikut terbang ke Afrika Selatan menyatakan bahwa ia hanya tahu bahwa penerbangan itu adalah cara untuk menyelamatkan keluarganya dari bombardir Israel di Gaza.

"Saya setuju untuk terbang, dan saya tidak tahu tujuannya," kata kepala keluarga yang mengirim istri dan putranya ke Afrika Selatan tersebut.

"Yang saya pedulikan hanya mengeluarkan keluarga saya dari Gaza dan menyelamatkan mereka."

Sementara itu, pada November lalu, sebuah pesawat berisi ratusan warga Palestina betulan mendarat di Afrika Selatan. Hal ini memicu kekagetan banyak pihak, termasuk Pemerintah Afrika Selatan sendiri.

Kala itu, Menteri Luar Negeri Afrika Selatan Ronald Lamola menyebut penerbangan itu sebagai "agenda yang jelas untuk membersihkan warga Palestina dari Gaza dan Tepi Barat."

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan COGAT, badan yang memfasilitasi keberangkatan warga Palestina ke luar Gaza, menolak dimintai keterangan terkait laporan ini.

Baca juga artikel terkait PALESTINA atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar