tirto.id - Israel membatalkan dakwaan terhadap tentara dalam kasus pemerkosaan terhadap tahanan Palestina. Lima tentara dituding melakukan pemerkosaan terhadap seorang tahanan Palestina di fasilitas militer.
Menurut laporan media Israel, militer mengumumkan keputusan itu pekan ini, lebih dari setahun setelah rekaman pemerkosaan yang terjadi di kamp tahanan, Sde Teiman itu tersebar di media sosial.
Peristiwa pemerkosaan itu terjadi di tempat warga Palestina ditahan selama agresi militer Israel di Gaza. Rekaman pemerkosaan itu ditayangkan oleh televisi Israel dan memicu kemarahan internasional.
Insiden yang terjadi pada 5 Juli 2024 itu menyebabkan tahanan tersebut harus dirawat di rumah sakit.
Seorang dokter di fasilitas itu, Profesor Yoel Donchin, mengatakan kepada surat kabar Haaretz bahwa ia sangat terkejut melihat kondisi korban hingga awalnya mengira luka tersebut disebabkan oleh kelompok bersenjata.
Menurut laporan Al Jazeera, dakwaan militer sebelumnya menggambarkan bahwa para tentara menusuk tahanan itu dengan benda tajam di dekat rektumnya, yang menyebabkan tulang rusuk retak, paru-paru tertusuk, dan robekan internal.
United States Department of State saat itu menyebut tuduhan tersebut sebagai “mengerikan” dan menuntut penyelidikan yang cepat dan menyeluruh.
“Seharusnya tidak ada toleransi sama sekali terhadap pemerkosaan terhadap tahanan mana pun,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri saat itu, Matthew Miller.
Mayor Jenderal Yifat Tomer-Yerushalmi, pengacara tertinggi militer yang sebelumnya mengajukan dakwaan dan mengizinkan rekaman tersebut bocor ke Channel 12, mengundurkan diri tahun lalu dan kemudian ditangkap dengan sejumlah tuduhan termasuk penipuan, pelanggaran kepercayaan, dan menghalangi proses peradilan.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggambarkan tersebarnya video tersebut, bukan peristiwa kekerasannya, sebagai “serangan hubungan masyarakat” terburuk yang pernah dihadapi Israel.
Aida Touma-Suleiman, anggota parlemen Israel dari faksi kiri Hadash-Ta'al, sebelumnya mengatakan kepada Al Jazeera: "Mereka (pemerintah) ingin menutupi pemerkosaan itu."
"Itulah sebabnya mereka berurusan dengan para jaksa, bukan dengan kejahatan itu sendiri. Begitulah cara sistem peradilan bekerja. Inilah yang disebut mekanisme pengawasan dan keseimbangan. Lihat saja, mereka adalah penjahat," katanya.
Penangkapan awal para tentara pada 2024 memicu kemarahan dari anggota pemerintah sayap kanan jauh di Israel, beberapa di antaranya bahkan menyerbu fasilitas Sde Teiman sebagai bentuk protes.
Pembatalan dakwaan ini kemungkinan akan meningkatkan sorotan terhadap catatan akuntabilitas Israel, di tengah meningkatnya keraguan terhadap independensi sistem hukumnya.
Menurut Public Committee Against Torture in Israel, sebuah organisasi pembela HAM, meskipun ratusan dugaan kasus penyiksaan dilaporkan sejak Oktober 2023, otoritas Israel hanya mengajukan dakwaan dalam dua kasus, tanpa ada yang dihukum.
Laporan lain dari lembaga Israel Yesh Din menemukan bahwa 93,6 persen penyelidikan terhadap pelanggaran bermotif ideologi yang dilakukan warga Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat sejak 2005 berakhir tanpa dakwaan.
Sebuah laporan besar dari United Nations Human Rights Office yang diterbitkan pada Januari menemukan bahwa dari lebih dari 1.500 warga Palestina yang terbunuh antara 2017 hingga September 2025, otoritas Israel membuka 112 penyelidikan dan hanya menghasilkan satu vonis bersalah.
Israel menyatakan bahwa pasukannya bertindak sesuai hukum militer Israel dan hukum internasional, serta bahwa mereka menyelidiki dugaan pelanggaran secara menyeluruh.
Editor: Abdul Aziz
Masuk tirto.id

































